Wednesday, June 2, 2010

UNTUK SUKSES IQ TINGGI SAJA TIDAK CUKUP



Jangan bangga dulu bila hasil tes IQ anda tinggi. Sebuah hasil riset menunjukkan bahwa 90% prestasi kerja seseorang lebih ditentukan oleh kecerdasan emosi daripada pengetahuan teknis yang hanya memberikan kontribusi sekitar 4%. Sementara IQ ternyata hanya memberikan jontribusi 20% dalam kesuksesan seseorang dimasa depan.



Adalah Daniel Goleman yang menghasilkan penelitian tersebut dan menuangkannya dalam buku “Working with Emotional Intelligence”(1998) dan ia mulai mempopulerkan konsep kecerdasan emosi pada tahun 1995 dalam bukunya “Emotional Intelligence: Why it Can Matter More than IQ”. Sebetulnya istilah kecerdasan emosi ini diperkenalkan pertama kali oleh Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire, tahun 1990.



Emotional Intelligence (EI) atau kecerdasan emosi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengerti danmengendalikan emosi. Konsep ini kemudian berkembang pesat karena dianggap sebagai komponen penting dalam membentuk tingkah laku cerdas.



Menurut Prof. Dr. Sarlito W.Sarwono, dengan EI seseorang mempunyai peluang lebih besar untuk sukses dalam hidupnya, baik dalam pendidikan maupun interaksi social. Menurutnya EI bukanlah bakat, melainkan aspek dalam diri seseorang yang bisa dikembangkan dan dilatih.



Membentuk pribadi cerdas lebih penting dari otak cerdas



Pada suatu hari di bulan September 1995, Burt Swersey, seorang pendidik, membaca artikel Daniel Goleman di New York Times. Disana tertulis penelitian di Bell Labs tentang para pekerja, utamanya dalam divisi teknik mesin yang meraih sukses. Kesuksesan itu diperoleh lebih karena mereka memiliki kecerdasan emosi, daripada keahlian teknis. Dari artikel tersebut ia kemudian terinspirasi untuk mencoba hal tersebut terhadap mahasiswa teknik mesinnya. Hasilnya? Kelas tersebut menjadi kelas terbaik yang pernah ia ajar.



Apa sebetulnya konsep EI sehingga mempu berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang? EI memiliki indicator:

  • Empati; mampu mengekspresikan Emosi dan memahami orang: mampu mengelola emosi: mudah beradaptasi
  • Diskusi: mampu mencari jalan keluar dan bekerja dalam tim
  • Gigih: mudah berteman dan berbagi
  • Penolong: menghormati orang lain.


Bila poin-poin tersebut dapat berkembang positif maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut memiliki kecerdasan emosi yang bagus.



Menurut Sarlito, tidak ada masa-masa khusus bagi perkembangan dalam segala tingkat usia. Hanya saja untuk mendapatkan anak-anak yang sukses dalam perjalanan hidupnya. EI dapat dikembangkan pada tahap awal pertumbuhan anak. Perkembangan EI optimum pada tahap remaja, sejalan dengan pemahaman nilai moral.



Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh emosi-emosi yang dilaluinya selama ia tumbuh dan berkembang. Memulai pendidikan EI sejak anak-anak merupakan asset untuk mendapatkan sumber daya berkualitas di masa depan. Itulah sebabnya orang tua sangat diperlukan perannya dalam memperkenalkan EI kepada anak-anak dan lingkungannya.



Kendalan perkembangan EI dalam masyarakat kita adalah belum pahamnya masyarakat akan pentingnya pola asuh ini. Kecerdasan kognitif masih lebih diutamakan. Orang tua sibuk mencarikan sekolah yang bagus, bimbingan belajar, les ini itu, yang semuanya agar anaknya menjadi juara kelas dan berprestasi.



Sementara itu perubahan nilai dalam kehidupan social masyarakat menggeser kesibukan orang tua menjadi pekerja yang banyak menghabiskan waktunya diluar rumah. Sehingga, anak-anak mereka banyak menghabiskan waktu didepan televise, tanpa control orang tua. Belum lagi angka perceraian yang semakin tinggi, yang membuat bangunan keluarga bukan lagi benteng kokoh perlindungan moral anak-anak.



Pribadi yangmemiliki kecerdasan IQ yang tinggi lebih bermasalah bila tidak diimbangi dengan kematangan EI. Sementara bagi mereka yang memiliki EI bagus namun dengan IQ yang sedang-sedang saja, tetap mampu berhasil dalam hidupnya.



Tips menilai kecerdasan emosi anak



  • Seberapa baik ia mengungkapkan sesuatu? Dapatkah ia merespons dengan kata untuk menggambarkan perasaannya? Dapatkah ia mengenali perasaan orang lain?




  • Bagaimana ia menunjukkan empati? Apakah ia tertarik akan perasaan orang lain? Bila anda menceritakan kesusahan orang lain, bagaimana reaksinya?




  • Apakah ia mau menunggu untuk mendapatkan yang ia inginkan, teutama untuk sesuatu yang sangat ia inginkan? Seberapa baik ia bertahan terhadap rasa frustasi? Bagaimana ia mengekspresikan kemarahan dan perasaan negative lainnya?




  • Apakah anak anda mempunyai sesuatu keinginan atau tujuan yang ingin ia capai, misalnya intin bebas menyanyi atau berenang dengan baik?




  • Bagaimana ia menyelesaikan konflik? Semandiri apa dan apakah ia mendengarkan, atau mengabaikan orang lain? Apakah ia dapat menemukan cara-cara berbeda untuk menyelesaikan masalah?






Sosialisasi pentingnya EI



Tidak mudah mengubah stigma masyarakat yang lebih meletakkan prioritas IQ daripada pengembangan EI. Mungkin karena IQ mempunyai tolok ukur yang pasti, yaitu angka yang menunjukkan tingkat kejeniusan seseorang. Sementara kecerdasan emosi tidak bisa diukur dengan logika metematika. Ia tumbuh melalui proses pembiasaan.



Lingkungan dan pola asuh menjadi gerbang utama dalam pengembangan kecerdasan emosi. Peran orang tua keluarga dan masyarakat sangan penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Pertanyaan kemudian , apakah yang harus dilakukan agar EI berkembang menjadi sebuah kebutuhan?



Media baik cetak maupun elektronik memiliki akses besar untuk mengedukasi masyarakat. Tayangan televise, baik program untuk dewasa maupun anak-anak dapat menjadi pembawa pesan moral pentingnya EI. Maka, mereka yang terlibat di media ini, mula dari reporter, penulis berita, penulis scenario, hingga sutradara haruslah lebih dahulu diberi pendidikan EI.



Life Style yang membawa perubahan pada kelas pekerja, khususnya menengah keatas, dengan makin maraknya klub-klub juga dapat dimanfaatkan. Membuat klub diskusi selepas kerja atau week end untuk membahas EI dapat dilakukan dengan memilih kafe-kafe yang semakin menjamur di kota-kota besar.



Dari pemahaman yang didapat orang tua tentang pentingnya EI, mereka dapat menerapkannya dalam keluarga. Contoh sederhana perubahan yang diharapkan misalnya dalam memilih tema-tema cerita ketika mereka akan membacakan dongeng untuk anak.



Melatih emosi



Dasar pelatihan emosi adalah empati adalah wujud pemahaman terhadap apa yang dirasakan orang lain. Anak yang tumbuh dengan memiliki emapti yang baik akan mudah bergaul, pandai mengalah dan suka menolong teman. Orang tua yang berusaha untuk memahami pengalaman anak-anaknya, akan membuat anak tersebut merasa didukung.



Dari hasil penelitian, anak-anak yang telah dilatih emosinya memiliki kemampuan mengendalikan emosi mereka sendiri dibandingkan dengan anak-anak yang tidak dilatih oleh orang tua mereka. Kemampuan-kemampuan ini mencakup kemampuan mengatur keadaan emosional mereka sendiri. Mereka lebih terampil dalam menenangkan diri ketika mereka marah.



Pelatihan emosi dapat dilakukan berdasarkan pada komunikasi perasaan sikap simpati kepada anak dan menolong mereka untuk mengatasi perasaan-perasaan negative seperti marah, sedih dan takut, merupakan jembatan komunikasi perasaan.



Beberapa strategi melatih emosi anak :



  • Hindari kritik yang berlebihan, komentar yang menghina atau mengolok-olok.


  • Gunakan pujian dan bicaralah dengan lemah lembut.


  • Jangan mencoba memainkan pemecahan orang tua pada masalah anak.


  • Biarkan anak bermimpi dan bebaskan khayalan mereka.


  • Bersikaplah jujur pada diri sendiri dan anak-anak.


  • Membacakan buku-buku cerita yang banyak mengajarkan moral.


  • Sikap sabar dengan proses pelatihan, tidak ada cara instant untuk sebuah proses pembiasaan.






Dalam buku “The Heart of Parenting” karya John Goleman dan Joan De Claire, disebutkan beberapa langkah penting untuk melatih emosi, yaitu menyadari emosi anak, mengenali emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan untuk mengajar, mendengarkan dengan penuh empati dan menegaskan perasaan-perasaan anak, menolong anak memberi label emosi mereka dengan kata-kata, dan menentukan batas-batas emosi berkembang sambil mengajak anak memecahkan masalah-masalahnya. PARAS



Tips menilai kecerdasan emosi anda





  • Seberapa baik saya mengenal perasaan saya sendiri? Seberapa baik saya mengenal perasaan anggota keluarga saya? Cobalah mengingat maslah terakhir yang terjadi dalam keluarga saya




  • Seberapa besar impati yang sayan miliki terhadap orang lain? Apakah saya menunjukkan empati saya kepada mereka? Kapan terakhir kali saya melakukannya? Apakah saya yakin mereka menyadari tindakan saya? Apakah saya mampu memahami sudut pandang orang lain bahkan dalamm suatu perdebatan?




  • Bagaimana cara saya menghadapi kemarahan, kegelisahan atau tekanan lain? Apakah saya dapat mgnontrol diri? Bagaimana sikap saya menghadapi hari yang berat? Seberapa sering saya berteriak kepada orang lain? Kapan saat terbaik danterburuk saya?




  • Apakah saya telah mempunyai tujuan yang jelas yang ingin saya sapai? Tujuan apa yang telah saya miliki dan rencana apa yang akan saya lakukan untuk mencapainya?




  • Bagaimana saya menghadapi situasi sulit yang terjadi setiap hari dengan orang lain? Apakah saya benar-benar mau mendengarkan orang lain? Apakah saya membalikan kepada mereka kata-kata yang mereka ucapkan kepada saya? Apakah saya memandang konflik social dengan cara bijaksana? Apakah saya mempertimbangkan pilihan-pilihan sebelum memutuskan sesuatu?



(Sumber: Maurice J. Ellias, Emotoinallu Intelligence Parenting 1998)



No comments:

Post a Comment