Saturday, July 3, 2010

BAYI KUNING



IKTERUS ATAU KUNING PADA BAYI BARU LAHIR

Ikterus adalah perubahan warna kulit (sclera) mata (yang normal berwarna putih) menjadi kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah.

Ikterus pada bayi yang baru lahir merupakan suatu hal yang fisiologis (normal), dan hal ini terdapat pada sekitar 25%-50% bayi yang lahir cukup bulan. Akan tetapi juga bisa merupakan hal yang patologis (tidak normal), misalnya akibat berlawanannya rhesus darah bayi dan ibunya sepsis (infeksi berat), penyumbatan saluran empedu dan lain-lain.


APAKAH BILIRUBIN ITU?

Bilirubin adalah zat yang terbentuk sebagai akibat dari proses pemecahan hemoglobin (zat merah darah) pada sistem RES dalam tubuh. Selanjutnya mengalami proses konjugasi di lever dan akhirnya di-ekskresi (dikeluarkan) oleh lever ke empedu, kemudian ke usus.
Ikterus fisiologis timbul pada hari ke-2 dan ke-3 dan tidak disebabkan oleh kelainan apapun, kadar bilirubin darah tidak lebih dari kadar yang membahayakan, dan tidak mempunyai potensi menimbulkan kecacatan pada bayi. Sedangkan pada ikterus patologis, kadar bilirubin darahnya melebihi batas, dan disebut sebagai hiperbilirubinemia.

Penelitian di RSCM Jakarta menunjukkan bahwa di anggap hiperbilirubinemia bila :
  • Ikterus terjadi pada 24 jam pertama
  • Peningkatan konsentrasi bolirubin darah lebih dari 5 mg% atau lebih setiap 24 jam.
  • Konsentrasi bilirubin darah 10 mg% pada neonatus (bayi baru lahir) kuran bulan, dan 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan.
  • Ikterus yang disertai proses hemolisis (pemecahan darah yang berlebihan)pada inkompatibilitas darah (darah ibu berlawanan rhesus dengan bayinya), kekurangan enzim G-6-PD dan sepsis.
  • Ikterus yang disertai dengan keadaan-keadaan sebagai berikut:
  1. Berat lahir kurang dari 2 kg
  2. Asfiksia, hipoksia (kekurangan oksigen), sindrom gangguan pernapasan
  3. Infeksi
  4. Trauma lahir pada kepala
  5. Hipoglikemi (kadar gula terlalu rendah), hipercarbia (kelebihan karbondioksida)
Yang sangat berbahaya pada ikterus adalah keadaan yang disebut kernikterus. Kernikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengkapan bilirubin indirek pada otak. Gejalanya antara lain : mata yang berputar kesadaran menurun, tak mau minum atau menghisap ketegangan otot, leher kaku, dan akhirnya kejang. Pada umur yang lebih lanjut, bila bayi ini bertahan hidup dapat terjadi spasme (kekakuan) otot, kejang, tuli, gangguan bicara dan keterbelakangan mental.

MELIHAT IKTERUS PADA BAYI

Pengamatan ikterus kadang-kadang agak sulit, apalagi dengan cahaya buatan. Paling baik pengamatan dilakukan dengan cahaya matahari dengan cara menekan sedikit kulit yang akan diamati untuk menhilangkan warna karena pengaruh sirkulasi. Jika warna kulit tetap kuning, berarti kemungkinan bayi kita telah mengalami ikterus, dan kadar bilirubinnya tinggi. Ikterus pada bayi baru lahir baru terlihat kalau kadar bilirubin mencapai 5 mg%. Pengamatan di RSCM menunjukkan ikterus baru terlihat jelas saa kadar bilirubin mencapai 6%.

PENYEBAB-PENYEBAB IKTERUS

Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
  • Produksi yang berlebihan, misalnya pada pemecahan darah (hemolisis) yang berlebihan pada incompatibilitas (ketidaksesuaian) darah bayi dengan ibunya.
  • Gangguan dalam proses uptake dankonjugasi akibat dari gangguan fungsi liver
  • Gangguan transportasi karena kurangnya albumin yang mengikat bilirubin
  • Gangguan ekskresi yang terjadi akibat penyumbatan dalam liver (karena infeksi atau kerusakan sel liver.

PENATALAKSANAAN IKTERUS

  1. Bawa segera ke tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi ikterus pada bayi kita, apakah masih dalam batas normal (fisiologis) ataukah sudah patologis.
  2. Dokter akan memberikan pengobatan sesuai dengan analisa penyebab yang mungkin. Bila diduga kadar bilirubin bayi sangat tinggi atau tampak tanda-tanda bahaya, dokter akan merujuk ke RS agar bayi mendapatkan pemeriksaan dan perawatan yang memadai.
  3. Dirumah sakit, bila diperlukan akan dilakukan pengobatan dengan pemberian albumin, fototerapi (terapi sinar), atau tranfusi tukar pada kasus yang lebih berat. Berdasarkan penelitian yang ada, terbukti bahwa sinar matahari dan sinar lampu mempunyai pengaruh dalam menurunkan kadar bilirubin pada bayi prematur. Terapi sinar tidak hanya bermanfaat untuk bayi kurang bulan, tetapi juga efektif terhadap hiperbilirubinemia oleh sebab lain. Pengobatan cara ini menunjukkan efek samping yang minimal, dan belum pernah dilaporkan efek jangka panjang yang berbahaya.
PERAWATAN DENGAN TERAPI SINAR

Bila bayi terpaksa dirawat di RS untuk mendapatkan terapi sinar, ibu sebaiknya benar-benar memahami dan mengerti tata cara terapi sinar ini agar hasilnya bis aoptimal. Dan yang lebih penting, mengantisipasi semua efek samping yang mungkin muncul.


Dalam perawatan bayi dengan terapi sinar, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
  • Diusahakan bagian tubuh bayi yang terkena sinar bisa seluas mungkin dengan membuka pakaian bayi.
  • Mata dankemaluan harus ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya agar tidak membahayakan retina mata dan sel reproduksi bayi.
  • Bayi diletakkan 8 inc (+/-20cm) dibawah sinar lampu. Jarak ini dianggap yang terbaik untuk mendapatkan energi yang optimal.
  • Posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 18 jam agar cahaya bisa mengenai ke seluruh bagian tubuh.
  • Suhu bayi diukur secara berkala setiap 4-6 jam.
  • Kadar bilirubin bayi diukur sekurang-kurangnya setiap 24 jam
  • Hemodlobin harus diperiksa secara berkala terutama pada bayi dengan hemolisis.
  • Perhatikan kecukupan cairan tubuh bayi. Bila perlu konsumsi cairan bayi dinaikkan.
Bila dievakuasi ternyata tidak banyak perubahan pada kadar bilirubin. Perlu diperhatikan kemungkinan lampu yang kuran gefektif atau ada komplikasi pada bayi, seperti dehidrasi, hipoksia (kekurangan oksigen), infeksi, gangguan metabolisme dan lain-lain.

KOMPLIKASI DARI TERAPI SINAR

Setiap pengobatan selalu akan menimbulkan efek samping. Dalam penelitian yang dilakukan selama ini, tidak ditemukan pengaruh segatif terapi sinar terhadap tumbuh kembang bayi. Efek samping hanya bersifat sementara, dan bisa dicegah atau diperbaiki dengan memperhatikan tata cara penggunaan terapi sinar.

Kelainan yang mungkin timbul antara lain:
  • Peningkatan kehilangan cairan tubuh bayi. Karena itu pemberian cairan harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Bila bayi bisa minum ASI, sesering mungkin berikan ASI
  • Frekuensi buang air besar meningkatkan karena hiperperistaltik (gerakan usus yang meningkatkan).
  • Timbul kelainan kulit yang bersifat sementara pada muka, badan dan alat gerak.
  • Kenaikan suhu tubuh.
  • Kadang pada beberapa bayi ditemukan gangguan minum dan rewel yang bersifat hanya sementara.
Komplikasi biasanya bersifat ringan dan tidak sebanding dengan manfaat penggunaannya. Karena itu terapi sinar masih merupakan pilihan dalam mengatasi hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.

MENCEGAH IKTERUS PADA BAYI

Ikterus dapat dicegah sejak masa kehamilan dengan cara pengawasan kehamilan dengan baik dan teratur untuk mencegah sedini mungkin infeksi pada janin dan hipoksia (kekurangan oksigen) pada janin di dalam rahim. Pada masa persalinan, jika terjadi hipoksia, misalnya karena kesulitan lahir, lilitan tali pusar, dan lain-lain. Segera diatasi dengan cepat dantepat. Sebaiknya sejak lahir biasakan anak dijemur di bawah sinar matahari pagi sekitar jam 7-8 setiap hari selama 15 menit dengan membuka pakaiannya. AL-MAWADAH.

No comments:

Post a Comment