Monday, July 2, 2012

TERAPI HYPNOPARENTING


Langkah-langkah Terapi Hypnoparenting
Hypnoparenting sebagai teknik pola asuh bekerja langsung pada alam bawah sadar anak. Orang tua dapat menerapkan pola asuh termasuk mendisiplin anak secara mudah tanpa paksaan.
Yang terjadi saat orang tua menggunakan teknik hypnoparenting adalah
  • komunikasi secara mental melalui alam bawah sadar anak.
  • kalimat-kalimat afirmatif yang disampaikan ketika anak sedang dalam kondisi rileks.
  • Tindakan dan tingkah laku balita masih sangat banyak dipengaruhi alam bawah sadarnya. Itu sebabnya, ia begitu polos dan spontan, serta mudah di-"program" (diberi sugesti) oleh orang tuanya.
  • Pikiran anak balita ibarat spons yang sangat mudah menyerap apa pun yang terdengar, terlihat dan terasa.
  • Orang tua menanamkan sugesti melalui kalimat-kalimat afirmasi sesuai kebutuhan anaknya, langsung ke alam bawah sadar sesuai sugesti tersebut.
Persiapan orang tua:
  • Paham sifat dan kebiasaan anaknya, sehingga tidak melakukan sugesti yang bertentangan dengan sifat balita.
  • Bisa menyeleksi kata-kata yang akan diucapkan. Fokus pada kata-kata positif dan hindari kata-kata negatif seperti “nakal’, “bandel”, ”  “susah”, “berisik”, dan sebagainya.
  • Mampu intropeksi diri dan memberikan contoh baik pada anak.
  • Paham betul konsep dasar hypnoparenting. Tak sekedar tahu. Hindari tindakan tidak sepenuh hati atau tidak rela.
  • Bekerja sama dengan anak mengenai cara menerapkan hypnopareting agar konsisten.
  • Setiap orang punya kesalahan. Orang tua harus menyadarinya agar tidak selalu menyalahkan anak.
  • Ingat, yang bicara adalah bahasa batin. Anak tidak peduli orang tua bicara dalam bahasa apa, tetapi saat orang tua meniatkan maksud pikirannya, itulah yang tertangkap. Janin bisa mengikuti kata-kata ibunya, walau ibunya bicara dalam hati, tanpa suara.
Langkah-langkah:
  • Orang tua harus tenang dan rileks.
  • Cari saat paling tepat untuk melakukan penanaman sugesti pada anak, ketika balita dalam kondisi yang rileks dan fokus. Misalnya, saat menyusui, saat anak sakit, saat bercerita, atau saat balita sedang tidur.
  • Gunakan media pendukung untuk melakukan penanaman sugesti (jika dibutuhkan), misalnya suara musik yang menenangkan, suara lembut ibu dan ayah, suara detak jam, dan sebagainya.
  • Lakukan kontak tubuh secara lembut, berulang dan monoton (dapat dilakukan saat ia tertidur), seperti mengusap kepala atau dahi balita, mengusap punggungnya dengan lembut.
  • Mulailah bicara dengan niat menanamkan sugesti positif, gunakan kalimat afirmasi positif seperti, “Anak manis, mimpilah yang indah dan besok pagi, bangun segar, bersemangat dan sehat.”
  • Lakukan pengulangan secara konsisten, ibu dan ayah melakukan hal sama berulang-ulang, hingga terlihat hasil yang diharapkan.
Hindari:
  • Membiarkan balita tertidur lelap di depan TV atau media lain yang hidup, terutama jika media tersebut memiliki efek negatif. Anak akan memsuki kondisi alpha saat tertidur, sehingga apa yang ia dengan dari luar dapat terprogram secara otomatis di alam bawah sadarnya.
  • Bertengkar atau saling melontarkan kalimat negatif di depan anak karena bisa tertanam di jiwa bawah sadar anak, dan kemungkinan berakibat pada kesehatannya.
  • Melakukan kekerasan terhadap anak, karena ia akan dengan mudah memprogram kekerasan tersebut di jiwa bawah sadarnya.
  • Menggunakan kata-kata negatif. Misalnya, “Besok pagi kamu bangun dan tidak rewel,” tetapi ganti menjadi, “Besok pagi kamu bangun dengan hati senang, ya Nak!”
sumber: http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/Keluarga/cara.kerja.terapi.hypnoparenting/001/007/350/7/3

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK



Dalam proses pembentukan kemandirian anak, dukungan orang tua sangat diperlukan. Inilah tips yang harus dilakukan orang tua dalam melatih kemandirian anak, antara lain:


  • Tidak meremehkan kemampuan anak, tetapi juga tidak memujinya berlebihan.
  • Dalam melatih anak dua tahun untuk mandiri, orang tua harus punya stok kesabaran ekstra. Karena, dengan kemampuannya yang amat terbatas, anak akan melakukan berbagai kekacauan. Misalnya, karena ia belum dapat membawa minuman atau makanan panas sendiri, maka wajar saja bila ia melakukan beberapa kesalahan atau kekeliruan.
  • Dalam proses menjadi mandiri, anak pun seringkali merasa kesal sendiri. Pertama, ia tak jarang gagal melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, padahal ia telah mencoba dengan cara yang persis seperti yang dilakukan ibunya. Ia makin sebal bila kegagalannya diberi komentar negatif oleh orang dewasa. Kedua , anak juga sering merasa kesal karena tidak diberi kesempatan untuk mencoba oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Seharusnya, bila memang anak keliru melakukan sesuatu, katakan saja langkah-langkah apa yang harus ia lakukan.
Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/tips.melatih.kemandirian.anak/001/005/498/763/-/4

    Wednesday, June 20, 2012

    PENGENALAN SAIN PADA ANAK USIA DINI


    RANCANGAN PEMBELAJARAN SAINS UNTUK ANAK USIA DINI

    Pembelajaran sains untuk anak usia dini difokuskan pada pembelajaran diri sendiri, alam sekitarnya dan gejala alam. Pembelajaran sains pada anak usia dini memiliki beberapa tujuan, diantaranya:

    1.       Membantu pemahaman anak tentang konsep sanins dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
    2.       Membantu menumbuhkan minat pada anak usia dini untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitarnya.

    3.       Membantu anak agar mempu menerapkan berbagai konsep sains untuk menjelaskan gejala-gejala alam sangat membantu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
    4.       Membantu anak usia dini utnuk dapat mengenal dan memupuk rasa cinta kepada alam sekitar sehingga menyadari  keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

    Contoh rancangan pembelajaran sains untuk AUD (anak usia dini)

    STANDAR KOMPETENSI

    BAHAN KAJIAN SAINS : pemahaman konsep dan penerapannya
    TEMA : materi dan sifatnya
    SUB TEMA : belajar tentang benda yang mencair dan membeku.
    TUJUAN PEMBELAJARAN : membantu anak memahami tentang konsep benda cair dan benda padat serta sifatnnya.

    Pembelajaran dengan memperhatikan pilar pendidikan dari UNESCO, namun disini dipilih hanya 2 pilar saja, yaitu :
    • Learning to know. Karena pembelajaran ini bersifat pengenalan konsep, maka tujuan pembelajaran yang hendak di capai adalah agar anak usia dini mempu mengenal dan memahami bahwa benda padat dan benda cair yang dapat berubah wujud karena adanya perubahan suhu.
    • Learning to do. Dengan memperhatikan demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan mencobanya sendiri, anak diharapkan mampu membedakan benda cair dan benda padat.
    MODEL PEMBELAJARAN: inkuiri dengan pendekatan demonstrasi dan percobaan ilmiah sederhana.

    PELAKSANAAN PEMBELAJARAN: 

    BERCERITA (PAAERSEPSI). Guru dapat memanfaatkan buku cerita bergambar atau gambar-gambar yang berhubungan dengan materi pelajaran.


    MENGAPA ES MENCAIR?

    Adi, Dina, Riri dan Obi sedang asyik makan es krim. Udara diluar sangat panas. Es krim mereka pun mencair. “cepat yuuk makan es krimnya, nanti es krimnya mencair dan menentes!” kata Adi.
    Kok es krim meleleh sih? Itu namanya mencair. Es krim kita berubah menjadi cair.”kok bisa jadi air ya? Mungkin es krim ini seperti coklat. Coklat juga bisa mencair, mamaku pernah membawakan aku coklat tapi disimpan dalam tasnya, eh setelah dikeluarkan ternyata coklatnya sudah lembek dan mencair.”

    KEGIATAN YANG DILAKUKAN : (LEARNING BY DOING/melakukan percobaan sederhana)
    Kegiatan I: guru melakukan demonstrasi

    “ES YANG MENYENANGKAN”

    Bahan-bahan:
    Es batu
    Air minum
    Sirup manis
    Tusuk gigi atau garpu kecil dari plastic
    Wadah es batu
    Kulkas atau freezer

    Aktivitas :
    • Guru mengisi 2 buah gelas dengan air minum dan 2 buah gelad dengan es batu.
    • Gelas berisi air minum dimasukkan ke dalam kulkas, sedangkan gelas yang berisi batu es didiamkan diruangan. Tunggulah sampai kira-kira satu jam. Apa yang terjadi?
    • Setelah satu jam gelas yang berisi batu es telah berubah menjadi air minum, dan gelas yang berisi air minum yang dimasukkan kedalam kulkas telah berubah menjadi es batu. Guru memperlihatkan hasilnya kepada anak-anak.
    • Guru bertanya tentang perbedaan yang terjadi pada air dan menjawab respon yang diberikan oleh anak.
    • Guru memberikan tentang perubahan zat cair menjadi zat padat, dan sebaliknya.
    jadi air berubah menjadi es di tempat yang dingin, dan es berubah menjadi air di tempat yang hangat. Peristiwa ini disebut mencair. Banyak benda-benda selain es batu yan g dapat mencair, misalnya coklat, mentega dan lilin. Batu juga dapat meleleh jika terkena panas sekali. Seperti lahar dari gunung berapi.”

    DAFTAR PUSTAKA
    Anita Ganeri, Aku Ingin Tahu Mengapa Angin Bertiup, Grolier, Danbury , Connecticut, 2004.
    Jim Pipe, Apa Pendapatmu? Mengapa Es Mencair, alih bahasa Felicia Asrinanda Barus, Jakarta, Erlangga, 2003.
    Kathy Charner dan Maureen Murphy, Aktivitas Pintar untuk Anak Prasekolah, Penerjemah Ariavita Purnamasari, Jakarta, Erlangga, 2004.
    Charlesworth, Rosalind dan Lind, Karen K., Math and Science For Young Children, Delmar Pubisher Inc., 1990.
    SUMBER: http://episentrum.com/artikel-psikologi/rancangan-pembelajaran-sains-untuk-aud/

    ANAK KREATIF ATAU CERDAS


    PILIH KREATIF ATAU CERDAS?

    Kreativitas memang bukan anugerah yang diberikan Tuhan secara instan, melainkan butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan orang tua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan hitam putihnya masa depan anak. Anak merupakan tanggung jawab orang tua secara utuh, dan apa yang dibutuhkan anak, orang tualah yang seharusnya lebih tahu. Sebab tak ada yang mengenal anak sebaik orang tua mereka sendiri. Jadi kemanapun arah focus pendidikan anak merupakan tanggung jawab orangtua.

    Banyak orangtua yang menganggap bahwa apa yang diajarkan kepada anak telah benar, namun hal itu ternyata belum cukup. Orang tua hanya akan membuat anak cerdas bukan kreatif. Padahal, dengan kreatif maka anak akan menjadi cerdas. Terdapat beberapa alasan utama yang melatarbelakangi mengapa sejak dini kita sebagai orangtua perlu berusaha untuk mengasak kreativitas anak kita.


    Saat ini terjadi beberapa perubahan yang begitu pesat. Itulah mengapa menjadi kreatif sangat diperlukan, selain pola berpikir cepat dan fleksibel, anak pun akan lebih adaptif dalam menyikapi tuntutan-tuntutan yang sesuai. Berpikir dan bersikap kreatif dapat menjadi solusinya. Alasan ini adalah menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dalam rangka mengoptimalkan kecerdasan anak. Perhatikan paradigm kebanyakan orang tua di Indonesia yang “justru” lebih mengedapankan pemenuhan otak kiri dibandingkan otak kanan.

    Namun yang perlu diingat oleh para orang tua adalah setiap anak terlahir dengan potensi yang memiliki kesamaan sifat yaitu spontan, ingin tahu, dan tertarik dengan sesuatu yang baru. Oleh karena itu, jika sejak awal sudah merupakan potensi anak, maka akan menjadi kerugian besar bagi orang tua jika menyia-nyiakan.
    Orang tua memiliki peran yang cukup besar dalam merangsang anak untuk berkreasi. Kreativitas anak menentukan 80 persen keberhasilan anak di masa depannya, sementara 20 persen lainnya ditentukan oleh intelegensi anak. Cerdas saja belum cukup membuat anak menjadi seorang sukses, tetapi anak yang kreatif berpeluang lebih besar untuk menjadi orang besar.

    ANAK DAN GAME


    ANAK KETAGIHAN GAME, HENTIKAN DARI SEKARANG!
    Normalnya anak usia 3-4 tahun sudah mulai tertarik dengan aktivitas bersosialisai, bermain bersama teman sebayanya. Namun, di kota-kota besar salah satunya Jakarta, dengan tingkat social ekonomi yang semakin tinggi dan kedua orang tua yang bekerja, banyak orang tua yang tak ingin anaknya bermain keluar rumah, dengan alasan keamanan. Tanpa menyadari, banyak orangtua justru seperti mengarahkan anaknya untuk diam di rumah saja dengan pengasuhnya. Jika pun tidak dengan pengasuhnya, dirumah disediakan sedemikian rupa alat bermain, salah satunya video game/ PS. Karenanya video game menjadi mainan yang paling member daya tarik bagi si anak. Ketertarikan karena factor pergaulan juga. Seperti teman-teman sekolahnya bercerita bahwa mereka telah memainkannya, atau  ia pernah diajak bermain. Karenanya tak heran saat mereka punya sendiri dan menemukan keasyikan memainkannya dibanding dengan mainan lain, maka tv game ini jadi pilihan yang paling ditunggu anak setiap hari.
    Kalau sudah begini tak heran jika anak mulai keranjingan. Biasanya orangtua terlambat menyadari bahwa anaknya sudah begitu “keranjingan” konsol game ini. Orang tua pun tidak sejak awal menetapkan aturan bermain konsol ini. Umumnya cukup banyak juga orangtua yang mengalah karena rengekan anak yang memaksa bermain. Di sisi lain, ada orangtua yang merasa “aman” membiarkan anaknya bermain konsol permainan itu karena melihat mereka asyik dan anteng saat sedang memainkannya.
    Dapat Mempengaruhi Aspek Afeksi
    Apakah anak yang “kecanduan” game tak bisa bersosialisasi dengan anak lain? Anak yang “kecanduan” game tetap bersosialisasi karena kadang ada yang kerap, bermain bersama temannya. Tapi tetap saja focus perhatiannya pada konten games yang ada di konsol. Bukan pada interaksi dengan temannya.
    Terkain aspek social, bermain konsol game tentu mengurangi kesempatan anak mengembangkan keterampilan sosialnya. Begitu juga dengan aspek kognisi. Konsol game ini tidak sepenuhnya signifikan melatih sisi kognisis anak. Hanya ketika anak mulai terfiksai (tertari sangat kuat) dengan satu konten yang sama seperti peperangan atau perkelahian misalnya, maka hal-hal yang terkain konten itulah yang akan menjadi perhatiannya. Efek konsol game lebih terkain erat dengan aspek afeksi anak. Jika konten game lebih banyak memuat agresivitas, tanpa disadari oleh orangtua, anak-anak sebenarnya sedang belajar bagaimana mengadopsi agresivitas itu menjadi bagian dari perilakunya.
    Hal ini umumnya ditemukan pada anak-anak yang mulai melawan orang tua keika dilarang bermain konsol. Meski orang tua menganggap perlawanan anak sebagai respon yang wajar, orang tua harus lebih jeli membedakan mana respon yang wajar atau bukan.
    Antisipasi
    Jika sudah lebih jeli, orangtua bisa mengubahnya dengan melakukan langkah-langkah yang tepat. Direntang usia 3-5 tahun, anak sebenarnya memiliki keingintahuan dan ketertarikan yang besar terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, orang tua harus mulai memerhatikan berapa banyak waktu yang digunakan anak setiap harinya dalam bermain konsol game.
    Jika dirasa telah melewati toleransi waktu yang diberikan, orangtua harus mulai memberlakukan aturan konsisten untuk penggunaannya. Toleransinya, tidak dimainkan setiap hari dan sepanjang waktu (dari pagi sampai siang/siang sampai sore). Jangka waktu yang baik untuk menonton televise saja adalah 2 jam sehari. Apalagi bermain konsol game. Pada dasarnya anak-anak usia 3-5 tahun sudah mulai bisa diajarkan tentang aturan dan disiplin, meski kontrolnya masih harus dari pihak eksternal, misalnya dari ayah, ibu atau orang dewasa lainnya yang ada di rumah.
    Jika orang tua ingin menghentikan kebiasaan bermain konsol game, ada baiknya untuk penghentian drastic dibandingkan dengan penghentian bertahap. Antisipasi ini memiliki keuntungan dan kerugian. Penghentian bertahap member peluang lebih besar untuk memperlama ikatan anak dengan konsol game dan member waktu bagi mereka untuk mencari alasan dan strategi agar bisa tetap diizinkan bermain. Sedangkan untuk penghentian secara drastic memang akan menghasilkan perlawanan luar biasa dari anak. Sebelum melakukannya, sampaikan pada anak tentang rencana penarikan konsolnya. Katakana, mislanya : “Nak, mamah sedih lihat kamu terlambat makan /tidur terlalu malam karena asyik main itu. Mamah juga sedih karena kamu tidak mendengar kata-kata mamah selagi kamu asyik main game.” Lakukan pembicaraan seperti itu di waktu santai, saat dia sedang tak bermain PS. Lalu lihat bagaimana reaksinya.
    Jika anak menyanggupi dan “berjanji” mengurangi tapi tetap minta izin bermain, beri kesempatan ia untuk membuktikan janjinya. Jangan lupa tekankan padanya, jika janjinya dilanggar konsekuensinya adalah penarikan konsol. Pastikan bahwa konsekuensinya ini dilakukan secara tegas dan konsisiten. Sebagai alternative penggantinya, carikan kegiatan atau permainan yang lebih memiliki edukatif. Masukkan anak ke kursus bakan dan minat, atau fisik seperti klub sepakbola atau beladiri dan lainnya.

    sumber :http://episentrum.com/anak-2/anak-ketagihan-game-hentikan-dari-sekarang/

    Thursday, June 14, 2012

    PROSES PENDIDIKAN ANAK BENTUKAN DARI LINGKUNGAN ATAU BAWAAN?

    Proses Pendidikan Anak merupakan Bentukan dari Lingkungan atau Bawaan Alamiah? –Bagian 1 

    Anak kelas 6 di sebuah sekolah swasta diwawancarai oleh seorang reporter TV swasta,”Kenapa kita harus punya cita-cita ?”. Si anak menjawab,”Supaya kita punya tujuan hidup.” Begitu jawaban anak itu dengan percaya diri. Singkat namun dalam maknanya. “Apa cita-cita kamu ?”. Si anak menjawab,”Menjadi penerbit buku.” “Penerbit buku apa ? Komik atau buku pelajaran atau yang lain.?” “Buku pelajaran.” “Buku pelajaran bidang apa ?” “Bahasa Indonesia.” 

    Wawancara ini berlangsung dengan sangat lancar. Anak SD ini dapat menjawabnya tanpa ragu-ragu mengenai tujuan yang ingin ia capai dalam hidupnya. Berapa banyak anak yang telah dididik sejak kecil untuk bisa memahami tujuan hidupnya ?



    Bandingkan dengan 2 orang yang telah duduk di bangku SMU ini. Secara tidak sengaja ketika saya sedang berjalan-jalan di daerah sekitar rumah, saya mendengarkan percakapan 2 orang anak SMU mengenai jurusan apa yang akan mereka putuskan setelah mereka lulus. Sebut saja si A dan si B. Si A bertanya pada B,”E… kamu wis mutus’no mau masuk jurusan apa ? Aku kok bingung ya?. Papaku mau aku masuk ekonomi, tapi aku gak suka itung-itungan. Aku pengin masuk psikologi, tapi gak boleh sama mamaku. Kata’e cuman ngurusin orang gila tok. Yak apa ya ?”.

    Si B menjawab,”Lo lo… kamu nek mau masuk Psikologi kudu bisa ngomong sama orang lo. Tapi… gak harus rasanya. Aku punya teman, orang’e pendiam banget. Tapi dia masuk psikologi. Kata’e orang, kalau mau masuk psikologi harus bisa ngomong sama orang. Kamu bisa gak ngomong sama orang ?”.
     
    Mendengar komentar B yang terakhir itu, saya menjadi tersenyum kecil (maunya sih tertawa terbahak-bahak, tapi nanti dipikir saya orang gila. Ngapain ibu hamil ini, sudah jalan sendiri, eh… pake ketawa-ketiwi sendiri lagi). Dalam pikiran saya terlintas,”Kenapa syarat masuk psikologi harus bisa bicara dengan orang ? Memangnya selama ini kamu bicara dengan siapa ? Apakah selama ini kamu bicara dengan anggota kebun binatang ?”. Namun dibalik rasa geli saya, terlintas juga perasaan sedih. Kenapa anak yang sudah menjelang dewasa ini, tidak mengerti apa tujuan hidupnya ? Hal ini sangat bertolak belakang dengan anak SD yang telah saya ceritakan di atas. Pada usia sangat muda, ia telah tahu apa yang akan ia lakukan ketika dewasa nanti. Sedangkan, kakak yang berusia sangat jauh diatasnya masih kebingungan hendak di kemanakan hidupnya ini.

    Nah… Menurut Anda pemahaman mengenai tujuan hidup dan siapa saya sebenarnya merupakan Bawaan Alamiah atau Bentukan dari lingkungan ?

    Mengapa remaja SMU tersebut belum mampu mengenal siapa saya, apa tujuan hidup saya dan minat saya apa ?

    Mengapa pengenalan karakter diri dan tujuan hidup merupakan kegiatan yang sulit bagi tiap orang ?
    Bahkan ada orang yang telah berumur 27 tahun namun masih belum dapat memutuskan siapa dirinya sebenarnya. Hal ini dikarenakan sejak kecil kita terbiasa di doktrin mengenai perilaku, pikiran dan perasaan yang benar dan salah dengan mengabaikan bawaan alamiah yang ada dalam diri kita masing-masing. Pendidikan diterapkan tidak sesuai dengan tahapan perkembangan diri anak-anak. Perkembangan seorang anak dinilai dari apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Lebih cepat atau lebih lambat dari teman sebayanya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kebingungan dalam diri anak, antara keinginan menjadi diri sendiri dan mengikuti doktrin dari orangtua. Ibaratnya seperti sebuah pohon yang tumbuh dibawah atap semen sehingga menyebabkan pertumbuhannya menjadi miring, tidak lagi lurus mengikuti hukum alam. Ketika dewasa berakibat menjadi kebingungan akan identitas diri.

    Setiap makhluk hidup dilahirkan dengan memiliki bawaan alamiahnya sendiri-sendiri. Bawaan alamiah ini diturunkan dari orangtua pada diri anak masing-masing. Bukti nyata adalah dapat diamati pada saudara kembar yang telah dipisahkan sejak lahir dan diasuh oleh orangtua dan lingkungan berbeda. Ketika diteliti mereka memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya mulai dari cara berjalan, tersenyum, mengambil keputusan dll. Inilah yang membuktikan bahwa ada sejumlah karakteristik yang dibawa oleh tiap manusia sejak ia lahir.

    Tugas kita, sebagai orangtua adalah mengenali karakteristik alamiah yang telah dibawa anak-anak ini. Setelah mengenali, kita perlu untuk membentuknya/mengasuhnya sehingga sesuai dengan kecenderungan yang ada dalam diri si anak. Kesalahan mengenali bawaan alamiah ini yang menjadi penyebab terjadi kesalahpahaman antar anak dan orangtua. Anak merasa tidak dimengerti oleh orangtuanya sedangkan orangtua merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya karena berperilaku berbeda dengan harapan yang selama ini dimilikinya.

    Apa sajakah bawaan alamiah yang dibawa oleh anak sejak lahir ? Jawaban ini akan anda dapatkan pada artikel kedua.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
    Sandra Mungliandi, M Psi., Psikolog.

    SUMBER:http://www.sekolahorangtua.com/2009/08/07/proses-pendidikan-anak-merupakan-bentukan-dari-lingkungan-atau-bawaan-alamiah-bagian-1/

    MEMILIH SEKOLAH YANG COCOK UNTUK BUAH HATI TERCINTA


     “Ibu, saya minta saran memilih sekolah untuk anak saya. Ada sekolah A yang unggul di abc. Sedangkan sekolah B, unggul di def. Gimana ya bu ? Mestinya saya pilih yang mana ?”

    Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para orangtua. Keinginan mereka untuk memberikan yang terbaik untuk putra putri mereka, mendorong mereka untuk menyeleksi sekolah yang akan dimasuki oleh anak-anak.



    Biasanya, ada beberapa fokus perhatian yang dijadikan standar sekolah bagus oleh para orangtua dan yang ajaibnya standar ini dari tahun ke tahun berubah mengikuti perkembangan jaman.
    15 tahun yang lalu standar yang digunakan adalah sekolah tersebut haruslah sekolah disiplin (bahkan yang paling sering menghukum siswanya), yang banyak memberikan PR, yang sering memberikan ulangan, sekolah yang mampu meluluskan siswa yang mendapatkan nilai EBTANAS tertinggi atau memenangkan lomba-lomba. 5 tahun berlalu, standarnya kembali berubah, sekolah yang memiliki fasilitas lengkap seperti laboratorium komputer, elektro, fisika, biologi dll merupakan sekolah yang dianggap baik.
    Ditambah lagi sekolah yang menyeimbangkan IQ dan EQ dianggap sekolah yang bonafit. Era sekarang, standar itu berubah kembali, saat ini sekolah yang bilingual, berkurikulum international atau nasional plus yang dianggap bagus. Sebenarnya, syarat apa sih yang sebaiknya dipenuhi untuk mengatakan sebuah sekolah adalah sekolah yang bagus ?

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley, yang diterbitkan dalam bukunya Pemikiran Millionaire, dirangking 30 faktor yang mempengaruhi seseorang untuk sukses dalam hidupnya. Sukses disini adalah orang tersebut memiliki sejumlah kekayaan tertentu, kesehatan yang prima dan kebahagiaan yang dirasakan. Hasil perangkingan tersebut adalah bersekolah di sekolah favorit menduduki rangking ke 23, lulus dengan nilai terbaik menduduki rangking ke 30 sedangkan memiliki IQ tinggi menempati urutan no 21. Ternyata banyak dari para millionaire di Amerika yang memiliki skor SAT yang dibawah rata-rata, bahkan banyak diantara mereka lupa berapa skor mereka kala bersekolah.

    Bagi mereka, masa bersekolah adalah masa untuk belajar bagaimana mencapai tujuan yang dalam hal ini adalah lulus, bagaimana mengatur jadwal agar dapat mencapai tujuan tersebut namun tetap menyeimbangkan dengan kehidupan pribadi, bagaimana mengorganisir teman-teman agar dapat membantu mencapai tujuan, dan bagaimana mempraktekkan cara-cara bersosialisasi dengan baik dan benar.

    Ada faktor yang lebih penting daripada bersekolah di tempat favorit, lulus dengan nilai terbaik maupun memiliki IQ tinggi. Faktor yang mendukung mereka untuk sukses menjalani kehidupan setelah masa bersekolah adalah sebagai berikut :
    • Integritas : menjalankan dan kesesuaian antara hal-hal yang diucapkan dan diyakini dengan kehidupan nyata. 
    • Disiplin : kemampuan untuk mengolah diri sendiri sehingga mampu mencapai tujuan 
    • Keterampilan sosial : kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain 
    • Memiliki pasangan yang mendukung baik dalam suka dan duka. 
    • Bekerja lebih keras dibandingkan dengan orang lain
    Itulah 5 faktor teratas dari 30 faktor yang berhasil didaftar dari para millionaire tersebut.
    Dengan bukti nyata tersebut, masih perlukah kita bingung menyekolahkan anak kita dimana ?

    Sebaiknya, kita tidak perlu membingungkan hal tersebut. Karena ada faktor yang lebih mendasar lagi daripada memikirkan dimana anak kita harus bersekolah. Faktor tersebut adalah kondisi keluarga, tempat anak-anak tersebut bertumbuh dan berproses. Faktor ke 1-5, merupakan faktor yang dibentuk dalam rumah karena sebagian besar hidup seorang anak dihabiskan di dalamnya. Integritas, disiplin, keterampilan sosial, cara memilih pasangan yang tepat, dan kemauan untuk tekun bekerja merupakan hasil dari teladan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Ke 5 faktor tersebut, tidak mungkin diserahkan kepada sekolah untuk membentuknya. Sekolah hanya bisa menempa ke 5 faktor tersebut agar dapat tertanam kuat dan menjadi kebiasaan. Penanaman dari keluarga akan berakar lebih kuat dalam diri anak. Kehidupan di luar keluarga, dalam hal ini adalah sekolah, justru seringkali menguji hal-hal yang telah kita tanam. Saya pribadi merupakan lulusan dari sekolah favorit mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Bahkan saya memasuki SMU yang termasuk 5 besar terbaik se-Jawa Timur. Setelah saya renungkan pengalaman bersekolah saya, yang hampir separuh hidup saya, saya menemukan bahwa manfaat terpenting yang dapat saya ambil dari pengalaman bersekolah adalah semangat belajar yang terus menerus. Pernahkah anda bertemu dengan orang yang berhenti belajar setelah mereka di wisuda ? Pernahkan anda mendengar bahwa buku hanya ditujukan bagi mereka yang bersekolah ? Saya sendiri mengamati saudara-saudara saya yang berhenti belajar setelah mereka lulus universitas. Untunglah, lingkungan saya merupakan lingkungan pembelajar yang mendorong saya untuk terus belajar, memperbaharui pengetahuan saya.

    Darimana saya belajar tentang kerja keras, disiplin dan integritas ? Dari orangtua saya. Saya mencontoh dari pengalaman hidup mereka. Ayah saya adalah seorang pria pendiam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Bagi saya, beliau merupakan penanam terbesar kebiasaan untuk tekun bekerja dibandingkan dengan orang lain. Beliau bekerja kira-kira 360 hari dalam setahun, dipotong liburan Idul Fitri. Itu pun hanya 5 hari dalam setahun. Sedapat mungkin, beliau tidak pernah absen dalam bekerja. Tanggung jawab inilah yang dipuji oleh ibu saya pada ayah saya. Walaupun ibu saya terkadang tidak mampu untuk mengikuti pola berpikir ayah saya, beliau menerima dengan lapang dada.

    Dari ibu saya, saya belajar untuk bagaimana disiplin, menjalankan tugas-tugas saya. Belajar artinya bertekun walau menghadapi kesulitan. Dari beliau juga, saya belajar bagaimana berelasi dengan orang lain dan bagaimana mempertahankan diri dalam relasi tersebut.

    Sekarang, kehidupan mereka sudah jauh lebih enak dibandingkan 20 tahun yang lalu. Sekarang mereka tinggal mengembangkan apa yang telah mereka tanam. Kembali ke pembicaraan mengenai memilih sekolah. Kita sudah membahas mengenai kurang pentingnya kebingungan dalam memilih sekolah untuk anak kita. “Namun, anak kita kan masih tetap harus sekolah ! Jadi bagaimana dong memilihnya ?”. Tentunya pertanyaan ini masih terlintas dalam benak anda.

    Dalam pemilihan sekolah, kita harus menyamakan persepsi dengan pasangan, mengenai tujuan anak disekolahkan. Tentunya, tujuan disekolahkan anak kita adalah untuk mendapatkan pengalaman hidupnya sebelum ia terjun sesungguhnya di masyarakat. Sekolah dapat diibaratkan sebagai miniatur masyarakat. Didalamnya ada otoritas yang harus ditaati, ada peraturan yang harus dijalankan, ada tugas yang harus diselesaikan, ada aktivitas-aktivitas yang harus dijadwalkan, ada teman yang harus diorganisir, ada target yang harus dicapai, dan ada ujian yang harus ditempuh. Yang terpenting dari semuanya itu adalah melatih tanggung jawab yang harus diemban dan diselesaikan oleh anak. Keberhasilan anak untuk mengatur dan menjalankan tanggung jawab tersebut merupakan bekal bagi anak untuk hidup di masyarakat. Sekolah = nilai bagus ? Tidak selalu.

    Yang terpenting daripada nilai bagus adalah kemauan anak untuk belajar dan tahu bagaimana cara mendapatkan informasi. Pengetahuan yang diajarkan disekolah tidak keseluruhannya dapat digunakan di masa sekarang. Ambil contoh di masa sekolah SD-SMU kita, kita diajarkan bermacam-macam pelajaran, namun apakah pelajaran tersebut sekarang kita gunakan dalam keseharian kita ? Nilai yang kita peroleh semasa sekolah, tidak menjamin kita dapat mengerjakan tugas-tugas kita saat ini, bukan ?. Inti sari yang perlu dipelajari oleh anak adalah pengalaman menyerap pelajaran tersebut di bangku sekolah.

    Nilai bagus merupakan akibat/hasil dari serangkaian proses yang dijalani. Penyebab dari nilai bagus itu ada banyak faktor. Faktor terpenting adalah apakah anak merasa dicintai atau tidak dan apakah anak merasa hal yang dilakukannya berharga atau tidak dimata orangtua. Jika anak merasa dicintai dan berharga, niscaya nilai baik itu akan mengikuti. Karena rasa dicintai dan dihargai merupakan pondasi dasar terbentuknya konsep diri dan harga diri sehat dalam diri anak.

    Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam bersekolah adalah ke-enjoy-an/rasa nikmat yang dirasakan anak saat bersekolah. Apakah anak anda merasa nyaman bersekolah di tempat tersebut. Perasaan nyaman ini akan memungkinkan anak untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Coba bayangkan jika anda berada dalam kondisi takut dan stres, apakah anda dapat mengeluarkan seluruh kemampuan anda untuk menyelesaikan tantangan di depan ?

    Demikian dengan anak-anak, mereka masih belum mampu untuk berpikir sekompleks kita orang dewasa. Anak remaja ? Yang sudah mampu berpikir lebih kompleks pun masih membutuhkan bimbingan dari kita, orang dewasa.

    Bagaimana dengan guru ? 

    Kita tidak perlu tergiur dengan sekolah yang memiliki guru dengan segudang titel : Prof, Doktor, Ir, Psikolog. Yang terpenting dari itu semua adalah mereka memiliki hati untuk mengajar dan mampu menginspirasi anak kita. Bagi orang yang memiliki hati demikian, nilai bukanlah faktor terpenting kesuksesan dalam bersekolah. Mereka akan mencari cara lain jika siswa mereka tidak memahami penjelasan yang mereka sampaikan bukannya menyalahkan kita.

    Saya memiliki 1 orang teman yang memilki latar belakang pendidikan yang jauh berbeda dengan dunia pendidikan. Namun kecintaannya terhadap anak kecil membawanya untuk menekuni dunia pendidikan. Tentu saja, ia membutuhkan beberapa penyesuaian untuk terjun di dunia asing ini. Siswa-siswanya mencintai beliau dan berdasarkan pengamatan saya, tidak ada siswanya yang takut atau stres terhadap beliau. Jika ada siswa yang tidak memahami penjelasannya, ia merelakan waktu istirahatnya sepulang sekolah untuk mengajar ulang siswa tersebut. Dibayar ? Tidak.

    Di antara itu semua yang terpenting adalah menetapkan tujuan kita. Setelah tujuan terdefinisi dengan jelas barulah kita mencari sekolah yang bisa memenuhi tujuan kita. Memang tidak akan semua tujuan kita bisa dipenuhi oleh satu sekolah. Oleh karena itu carilah sekolah yang bisa memenuhi tujuan kita paling banyak. Bagaimana caranya? Sederhana saja. Tanyailah sepuluh sampai lima belas orangtua murid yang anaknya telah bersekolah di sekolah tersebut. Jangan tanya satu atau dua orang saja karena kurang akurat. Tanyakan pada mereka hal-hal yang berkaitan dengan tujuan kita.

    Bertanya dari orangtua yang anaknya telah bersekolah di sana adalah fakta nyata yang tak bisa dipungkiri. Kepala sekolah atau guru boleh bercerita panjang lebar tentang visi dan misi sekolah namun kenyataan di lapangan adalah bukti nyata yang tak bisa dipungkiri.

    Ingat dalam memilih sekolah yang terpenting adalah sekolah itu cocok untuk anak kita bukan karena sekolah itu favorit atau top karena fasilitasnya atau juga bukan karena didirikan oleh publik figur. Jika anak kita tidak cocok sebagus apapun s Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua dalam berdiskusi memilih sekolah bagi anak-anak.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.


    OLEH : Sandra M.,MPsi,Psikolog (http://www.sekolahorangtua.com/2009/04/03/memilih-sekolahyang-cocok-untuk-buah-hati-tercinta/)