Friday, April 20, 2012

BEDAKAN ANEMIA DAN DARAH RENDAH

Banyak yang tidak bisa membedakan antara anemia dan tekianan darah rendah. Padahal, faktanya dua kondisi ini tak sama dan tentu saja pengobatannya juga berbeda.
 
Selama ini, tak banyak yang mengerti perbedaan antara kondisi kurang darah (anemia) dengan tekanan darah rendah (hipotensi). Dua istilah medis ini mungkin dianggap sama lantaran gejala yang ditimbulkan juga tak terlalu jauh berbeda, misalnya badan lemas. Namun, keduanya ternyata memang berbeda baik dari penyebab maupun gejala yang ditimbulkan bahkan juga terkait pengobatannya.



Dr Budi Tan Oto SpPD, spesialis penyakit dalam dari RS Awal Bros Batam memaparkan perbedaan keduanya. Tekanan darah rendah (hipotensi) merupakan keadaan tekanan darah yang rendah pada dinding arteri dalam sirkulasi sistemik di dalam tubuh.

"Yang dimaksud tekanan darah rendah yakni tekanan yang keluar dari jantung yang mengenai atau membentur dinding pembuluh arteri. Tekanan ini bisa bersifat normal atau tak normal," papar Budi diruang praktiknya di RS Awal Bros Batam.

Disebut hipotensi, sambungnya, jika tekanan darah dengan alat tensi darah berada pada batas atas pengukuran (sistolik) kurang dari 90 mm/hg dan batas bawah (diastolik) kurang dari 60mm/hg. Namun, hitungan tersebut tidak serta merta menjadikan seseorang didiagnosa mengidap hipotensi.

"Ada beberapa kasus di mana seseorang yang tekanan darahnya pada level itu tapi dia merasa sehat saja, tidak ada keluhan pusing atau lemas dan dia bisa beraktivitas seperti biasa," ujar Budi.

Untuk menentukan tekanan darah seseorang apakah masuk klasifikasi normal atau termasuk kategori rendah, tidak cukup hanya dilakukan satu kali pemeriksaan. Hal itu, karena kondisi tubuh dan pikiran seseorang saat diperiksa idealnya harus berada pada level rileks dan santai. Tensi darah seseorang banyak dipengaruhi oleh faktor semisal pola pikir aktivitas atau penyakit yang tengah diderita.

"Karena itu, idealnya pengukuran tensi darah dilakukan saat pagi hari, sebelum seseorang beraktivitas. Selain itu, pengukuran tekanan juga harus dilakukan beberapa kali sehingga bisa dilihat hasilnya," katanya.

Lain halnya dengan hipotensi, anemia atau kekurangan darah adalah suatu kondisi di mana terjadi penurunan massa atau jumlah sel darah merah. Jadi, dalam kasus anemia penyebabnya bisa beragam mulai dari kekurangan zat besi dan asam folat serta vitamin B12 yang disebut anemia defisiensi. Ada yang disebabkan oleh pendarahan, penyakit genetik, atau juga karena penyakit kronis yang diderita.

Pada kasus anemia defisiensi, biasanya tekanan darahnya rendah. Sehingga ada yang berkesimpulan anemia pasti tekanan darahnya rendah.
 sumber : BATAM POS

Saturday, April 14, 2012

MEMILIH SEKOLAH DASAR UNTUK ANAK


Memilih sekolah dasar yang cocok memang tidak sesulit seperti memilih perguruan tinggi misalnya, tapi bisa jadi sebetulnya sekolah dasar adalah pilar awal yang berperan paling signifikan pada pertumbuhan anak kelak. Bener nggak ya?
Tapi ada juga yang berpikiran, “ah pilih sekolah dasar mah dimana saja, wong baru SD. Nanti yang penting itu waktu mau masuk smp atau sma!”. Nah padahal kan, kalau jenjang yang lebih tinggi dari sekolah dasar itu begitu penting, seharusnya pondasi awalnya justru lebih penting bukan?



Bagi yang sudah menyiapkan dana pendidikan memadai, barangkali tidak terlalu sulit menentukan dimana sekolah dasar putra-putrinya nanti. Sekolah dasar berkelas sudah banyak ditawarkan dengan beragam fasilitas dan keunggulan. Tapi bagi yang dananya seadanya? Yaa harus pandai-pandai memilih, dimana sekolah dasar yang pas namun cukup berkualitas.

Sabtu lalu bersama anak istri saya keliling mencari informasi sekolah dasar untuk Zia nanti. Sekolah Dasar Negeri masih menjadi favorit kami. Maka meluncurlah kami ke beberapa sekolah dasar negeri yang ada. Salah satu yang kami tanyakan adalah, berapa jumlah siswa per kelas di sekolah ini?

Satu sekolah menjawab 50 , sekolah lainnya 45 rasanya kok banyak sekali. Terbayang ingatan sewaktu di SMA dulu. Betapa gaduhnya!

Lalu kami lanjutkan ke sekolah dasar di sebuah komplek perumahan. Sekolahnya cukup bagus, fasilitas cukup memadai, prestasi banyak sekali ( terpampang dari thropy yang dipajang), dan suasana lingkungan sekolah yang kondisif (jauh dari jalan raya jadi tidak bising dan bebas polusi.).

Kembali kami tanyakan,”Berapa jumlah siswa per kelas di sekolah ini?”, jawabnya,”20 pak, maksimal 25”. .. Ahaa!!! Ini dia yang kami cari. Dengan biaya pendaftaran yang relative masih jauh dibawah sekolah “unggulan”, maka kami daftarkan Zia untuk bersekolah disini. Mudah-mudahan pilihan kami tepat, dan Zia bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal disini.

Begitulah rekan-rekan, salah satu alasan kami memilih sekolah dasar.

Bagaimana dengan Anda?

sumber :www.mascayo.com

Tuesday, April 3, 2012

PANDUAN MEMILIH TK



Si kecil sudah menginjak 4 tahun. Saatnya masuk TK. Di seluruh lokasi strategis bahkan di kompleks perumahan anda, berdiri bangunan Taman Kanak-kanak yang semua tampak megah dan menuliskan sederet program berkwalitas di dalam brosur promosi. Bingung menjatuhkan pilihan? Baca panduak kami.
Sebagian orang tua memasukkan anaknya ke TK dengan tujuan mendapat surat keterangan telah mengikuti pendidikan sebagai dokumen yang perlu dilampirkan saat mendaftarkan diri untuk masuk SD. Namun, manfaat pendidikan TK lebih dari itu.
Sosialisasi
Merupakan poin paling penting yang dipelajari anak usia TK. Di dalam interaksi sehari-hari dengan teman sebaya dan peara pendidik, anak mengenal konsep hubungan sosial yang akan menjadi fondasi terpenting dalam hidup bermasyarakat. TK menyiapkan anak menghadapi hari-hari di jenjang sekolah berikutnya karena dia bertemu teman-temanbaru dan belajar berkomunikasi.

Memperlajari hal dasar.
Ketika anak masuk TK dia mendapatkan kesepatan untuk belajar hal-hal mendasar. Dia terbiasa mendengarkan cerita dan berinteraksi dengan buku yang akan mendorong anak untuk ingin membaca. Melalui lagu, dia mengenal angka dan nama-nama benda. Lewat kegiatan bermain di lura ruang, dia mendapatkan pembekalan sains. Secara umum, anak mendapatkan fondasi berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan sehari-hari yang akan sangat berguna di sepanjang masa hidupnya.
Anak tidak diwajibkan sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung di bangku TK, namun TK menyiapkan anak untuk bisa menenrima pelajran tersebut saat menginjak bangku SD. “Di TK kemampuan motorik anak dirangsang agar bisa memegang pensil dengan benar dan koordinasi mata-tangan diasah, ada pengenalan huruf namun belum diajarkan membaca, serta mengenal angka sebatas 1-10,” kata Rahmi Dahnan, Psi Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Hal mendasar yang dipeljari anak juga mencakup kstrabilan fisiologis, mulai dari konsep jender hingga hal tek nis seperti kesiapan pergi ke toile sendiri.
Membiasakan diri pergi ke sekolah
Sejak TK,anak sudah dibiasakan masuk sekolah setiap hari. Pembiasaan ini penting karena anak akan pergi ke sekolah setiap hari hingga dia berusia sekitar 18 tahun. Melalui “pemanasan” yang sudah dilakukan sewaktu T, anak tidak lagi syok saat mengikuti pelajaran seharian penuh di bangku SD.
Mengembangkan potensi dan bakat
Anak merupakan tujuan dasar pendidikan anak usia dini. Anak yang memiliki bakat tertentu akan menonjol bila ia punya kesempatan untuk bereksplorasi dan menampilkan bakatnya.

Memilih TK
Pahami kebutuhan anak
Jika anak anda haus buku-buku bacaan, pilih TK yang dapat mengakomodasi kebutuhan si kecil akan literatur. Tanyakan seberapa besar ruang perpustakaan, berapa banyak koleksi buku yang dimiliki sekolah, dalam drentang waktu berapa lama sekolah memperbarui katalog perpustakaan, dan jangan lupa untuk merasakan atmosfer perpustakaan dan pojok buku di dalam kelas. Jika anak anda tergolong aktif, area bermain adalah kunsi sukses kebahadiaan anak. Perhatikan seberapa luas taman bermain maupun area bermaindi dalam ruangan, seberapa banyak dan bervariasi fasilitas permainan yang disediakan sekolah, dan yang paling penting adalah faktor keamanan di sekitar area bermain.
Namun hati-hati, seringkali orang tua tidak bisa emmbedakan antara kebutuhan anak dengan keinginan orang tua. Banyak sekali orang tua yang datang dengan lontaran, “ saya ingin anak saya banyak baca’ atau ‘ sayan ingin anak saya mendapat ekspos yang besar terhadap matematika dan sains’ padahal itu bukan kebutuhan atau keinginan yang datang dari anak, “ kata Lestari Sandjojo, psikolog dari Sekolah Cikal. Dengan melihat minat dan kebutuhan anak, potensi dia untuk berkembang tentu jauh lebih besar sakaligus memudahkan pihhak sekolah untuk memberikan materi denganpendekatan yang sesuai bagi anak tersebut.

Pertimbangan Lokasi
Karena kematangan fosok dan emosianal anak usia RK belum sempurna, tentu anak jauh lebih mudah lelah dan bosan jika setiap hari harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke sekolah, “Jangan sampai anak rewwel karena harus bangun terlalu pagi agar tidak terlambat sampai ke sekolah. Selain rewel, kurangnya jam tidur anak juga bisa menganggu proses tumbuh kembang,” kata penasehat Parents Indionesia Dr, Reni Akbar Hawadi, Mpsi. Jam tidur malam yang ideal untuk anak usia 4-6 tahun minimal 10 jam. Usahakan waktu tempuh ke sekolah tidak lebih daro 30 menit perjalanan naik kendaraan dari rumah agar anak mendapatkan jam tidur cukup dan tidak lelah setiba dirumah.
Kondisi sekolah
Kini tiba saatnya anda mengamati kondisi sekolah yang akan menjadi tempat si kecil menhabiskan waktu 2-4 jam setiap hari. Ada beberapa poin yang perlu anda perhatikan.
-          Atmosfer sekolah. Begitu anda memasuki area sekoalah, hal pertama yang dapat anda lakukan adalah mengamati dan merasakan suasana. “Tentu atmosfer sekolah terasa hangat jika anda bisa melihat para staf saling berkomunikasi dengan akrab. Selain itu, lihat juga interaksi petugas sekolah – termasuk petugas kebersihan dan satpam -dengan sisiwa,” kata Lestari. Atmosfer yang hangat, nyaman dan saling terbuka, tentu mengoptimalkan kegiatan belajar.
-          Ruang kelas. Association for Childhood Education International (ACEI) menyebutkan bahwa ruang kelas TK sebaiknya terdiri atas variasi area sehingga anak bisa bebas bereksplorasi. ACEI mensyaratkan ruang kelas TK dilengkapi dengan :
  • POJOK BALOK SUSUN
  • AREA SAINS dengan berbagai alat peraga.
  • RUANG BERMAIN PURA-PURA
  • POJOK SENI dengan peralatan seni yang lengkap
  • RUANG BACA yang nyaman dan tenang dengan koleksi buku berkualitas
  • AREA BELAJAR MENULIS lengkap dengan peralatan seperti kertas, pensil, krayon dan spidol
  • MEJA PERMAINAN dan material yang bisa dibentuk (seperti dough) untuk mengasah koosrinasi mata-lengan, memupuk toleransi, memecahkan masalah dan berpikir.
  • AREA MUSIK untuk bereksperimen danmenambah keceriaan.
  • RUANG MULTIFUNGSI yang luas untuk sesi pembacaan dongeng menari dan bergerak bersama.
  • RUANG KELAS yang memungkinkan interaksi hidup antara sesama murid serta murid-guru.

Rasio guru – murid
Rasio atau perbandingan guru terhadap murid penting untuk menjaga kontak personal guru dengan tiap siswa, menjadikan aktuvitas belajar lebih bermakna, pengawasan, serta kesiapan guru jika terjadi situasi darurat. Bagi anak usia 4-5 tahun. The National Association for the Education or Young Children yang berpusat di Washington DC, AS merekaomendasikan rasio guru dan murid maksimal 1:10. Sementara bagi anak usia 6 tahun, rasio guru dan murid sebesar 1:12 masih diperkenankan.
Suasana belajar
Saat anda dan anak mengikuti uji coba di sekolah, pusatkan perhatian pada metode dan cara guru mengajar di dalam dan di luar kelas. Apakah guru lebih banyak berbicara satu arah atau membuka banyak kesempatan kepada sisiwa untuk bertanya atau lebih suka memberi paparan panjang? Apakah suasana kelas begitu hidup, karena guru rajin memancing ketertarikan anak untuk mencari jawaban atas rasa penasan mereka? Semua itu harus anda amati dengan seksama.
Fasilitas
Selain ruang kelas, fasilitas penunjang kegiatan bermain sambil belajar di TK perlu anda perhatikan. Area bermain, perpustakaan, ruang musik, hingga aula dan kantin sekolah, jangan sampai luput dari penglihatan anda. Di area bermain, waspadai faktor keselamatan perhatikan antisipasi pihak sekoalah jika terdapat banyak materiak keras (seperti beton atau paving balok) pada taman bermain. Sementara untuk kantin sekolah, pastikan menu yang tersedia sehat dikonsumsi seta terjaga kebersihannya.
Lingkungan sekitar
Tidakhanya area di dalam tembok sekolah yang perlu anda perhatikan, melainkan suasana dan peruntukan lahan di sekitar lingkuangn sekolah. Jika sekolah berbatasan dengan jalan raya, pastikan keamanan anak jika dia harus mengikuti kegiatan di luar sekolah tanpa kehadiran anda. Jika terdapat area jajanan di sekitar gerbang sekolah, pastikan keamanan dankebersihan makanan bagi si kecil.

BIAYA
Kemampuan anda untuk membiayai pendidikan anak secara kontinue tentu menjadi pertimbangan penting.” Karena itu, jangan memilih sekolah yang mahal tapi tidak sesuai dengan kemampuan finansial orang tua meskipun sekolah itu sangat bagus untuk anak, “ kata Dr Reni Akbar Hawadi, Mpsi. Jika anda kesulitan membayar uang pangkal TK yang jumlahnya bisa sampai puluhan juta rupiah dan iuran rutin tiap semester yang menyentuh angka ratusan ribu hingga jutaan rupiah, sebaiknya anda berpikir dua kali, TK adalah bagian dari keseluruhan jenjang pedidikan anak. Yang artinya, anak masih akan memerlukan biaya sekolah dan kuliah yang jumlahnya tidak sedikit. Dana pendidikan yang perlu dirancang matang oleh orang tua sedini mungkin.
KURIKULUM NASIONAL TK
Saat ini pendidikan di tingkat Taman Kanak-kanak menggunakan kurikulum nasional 2004 yang emberi peekanan pada pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pembentukan kemampuan dasar. Dalam dokumen standar kopetensi pendidikan anak usia dini yang disusun oleh Departemen Pendidikan Nasional RI, disebutkan bahwa kegiatan belajar yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak usia dini harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar. Dengan bermain, anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi dan mengekspresikan perasaan. Selain itu, bermain membantu anak mengenal diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Jenjang Taman Kanak-kanak masih menggunakankurikulum lama, namun kurikulum lama itu berpedoman (developmental tasks) anak yang secara otomatis sudah berorientasi pada kompetensi,” kata Kepala Pusat Kurikulum, Dra. Diah Harianti, Mpsi. Ruang lingkup kurikulum TK meliputi aspek perkembangan “ Moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif Fisik/motorik dan seni.
METODE PENGAJARAN
Dalam penerapan kurikulum, ada banyak variasi metode pengajaran yang diterapkan oleh lembaga pendidikan anak usia dini. Sebelum anda memutuskan satu sekolah untuk si kecil, ada baiknya anda mengenal beberapa metode pengajaran yang paling banyak dipakai di TK dan menyesuaikan metode tersebut dengan kebutuhan anak.
Metode montessori
Adalah salah satu metode pendidikan yang didasari oleh teori tumbuh kembang anak. Metode tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Maria Montessori, seorang pakar pendidikan asal Italia pada akhir abad ke-19. Metode Montessori ditandai dengan inisiatif anak untuk memulai sebuah aktivitas belajar. Materi pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan tiap anak. Salah satu fitur khas TK yang menerapkan motede montessori secara penuh : anak mengarahkan sendiri kebiatan belajar, memilih tema dan materi belajar yang meliputi keahlian praktis (perkembangan motorik kasar dan halus), sensorik (perkembanan otak dan sensorik). Bahasa, matematika, geografi, sains, dan seni. Fungsi guru adalah mengenalkan anak pada media pembelajaran dan berperan sebagai silent presence di dalam kelas. Metode Montessori menolak konsep pembagian kelas dan pengadaan ujian yang selama ini dijadikan sebagi alat ukur pencapaian akademik anak. Masukan dan analisis kulitatif terhadap performa anak tetap ada tapi dilakukan melalui catatan lembaran daftar keahlian, aktivitas, penyampaian naratif pencapaian anak, kekuatan, kekurangan, dilengkapi dengan cara-cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kekurangan.
International Baccalaureate (IB)
Yang dirintis pada 1968 kini sudah di terapkan di lebih dari 20.000 sekolah di 128 negara termasuk di Indonesia. Kurikulum IB untu Primary Years Programme di desain bagi siswa usia 3-12 tahun dengan fokus pada perkembangan intelektual, personal, keahlian sosial danemosional, serta mampu beradaptasi dengan iklim global. Tema dasar dari seluruh unit pembelajaran ( unity of inquiryatau UOI) mencakupi : SIAPA SAYA, DIMANA SAYA DALAM KONTEKS RUANG DAN WAKTU, BAGAIMANA SAYA MENGEKSPLORASIKAN DIRI, BAGAIMANA DUNIA SEKITAR BEKERJA, BAGAIMANA SAYA MENGENALI DIRI SENDIRI, DAN BERBAGI HABITAT HIDUP.
Cakupan meliputi bahasa, ilmu sosial, matematika, seni, sains, dan teknologi, pendidikan personal-sosial-fisiologi. Tema dan subyek pembelajaran membentuk lima elelmen esensial, yaitu konsep, pengetahuan, keahlian, perilaku, dan tindakan. “Setiap UOI selalu diakhiri dengan tindakan nyata,” kata Lestari. Cikal adalah salah satu sekolah yang menenrapkan kurikulum IB.
TK NEGERI ATAU SWASTA YANG MENERAPKAN KURIKULUM DEPARTEMAN PENDIDIKAN NASIONAL
Mengacu pada standar kompetensi yang ditetapkan oleh DIKNAS. Meliputi pembentukan perilaku melalui pembiasaan (moral dan nilai agama, sosial, emosional, kemandirian) serta kemampuan dasar (bahasa, kognitif, fisik dan motorik, dan seni), untuk kelompok TKA yang berusia 4-5 tahun dan TKB yang berusia 5-6 tahun. Terbiasa berperilaku sopan, mampu bekerja sama, percaya diri, menunjukkan sikap peduli, mampu membedakan dan menirukan bunyi, memiliki perbendaharaan kata yang dibunakan untuk komunikasi sehari-hari, mengenal konsep bilangan 1-10, mengasah kekuatan dan koordinasi anggota tubuh, serta dapat menggambar obyek sederhana, adalah beberapa poin kompetensi yang digariskan Diknas untuk anak usia TK. Kurikulum Diknas tidak mewajibkan anak bisa membaca di usia 6 tahun.
SEKOLAH ALTERNATIF ATAU PENDIDIKAN NONFORMAL
Kerap menggunakan metde pengajaran yang disesuaikan dengankonsep dasar sekolah tersebut. Sebut saja Sekolah Alam yang mendasarkan kurikulumnya pada tiga Output, yaitu integritas akhlak (dicapai dengan keteladanan guru, orang tua, serta seluruh komponen sekolah), integritas logika (dicapai dengan model belaja action learning, belajar langsung dari alam), dan kepemimpinan (dicapai dengan metode outbound dan dynamic group). Bentuk pendidikan alternatif yang kini berkembang pesati di Indonesia adalah sekolah rumah atau homeschooling. Jika anda memilih bentuk pendidikan homeschooling untuk anak, anda bisa bergabund ke dalam komunikasi sekolah rumah yang ada di kota anda dan bertukar informasi dengan sesama praktisi homeschooling. Kegiatan belajar bisa lebih atraktif, namun perlu komitmen penuh dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya untuk menciptakan suasana belajar mandiri yang nyaman dan menarik bagi anak.
PERSIAPAN MASUK TK

Beberapa sekolah mensyaratkan kesiapan anak untuk bisa melakukan beberapa hal sebelum memulai hari-hari bermain sambil belajar di TK. Setiap TK memiliki standarisasi yang berbeda. Karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menanyakan daftar persyaratan yang ditetapkan oleh sekolah saat mengikuti open house atau trial. Sebagai gambaran, pakar pendidikan anak usia dini, Peggy Gisler, EdS dan Marge Eberts, EdS, mengatakan bahwa biasanya TK mengharapkan anak anda dapat melakukan hal-hal berikut :

  • Bicara cukup jelas sehingga orang lain cukup mengerti
  • Bisa menyebutkan nama, tempat tinggal dan nama lengkap orang tua
  • Tidak takut berada jauh dari rumah
  • Sudah selesai atau hampir selesai menjalani toilet training
  • Bisa bermain dalam kelompok, mau berbagi mainan, dan tidak bersikap kasar terhadap anak lain
  • Mengekspresikan kebutuhan dan keinginannya melalui perilaku sesuai dengan usianya
  • Sanggup mengikuti instruksi, terutama yang berhubungan dengan keselamatan.

                               
SETELAH LULUS TK

Anak yang diberi bekal yang cukup untuk memasuki tahapan akademik selepas TK, akan mampu mengerjakan tugas-tugas beriut saat dia melanjutkan ke sekolah dasar :
  • Memegang pensil, krayon, kuas cat air, dan lempung dengan benar.
  • Bisa menggambar obyek-obyek sederhana, tidak hanya menggambar benang kusut
  • Bercerita atau menceritakan kembali sebuah dongeng yang dibacakan
  • Menjawab pertanyaan dari cerita pendek
  • Mendengarkan cerita minimal selama 5 menit
  • Mengerjakan tugas secara mandiri minimal selama 5 menit
  • Menyimak rima danmencari persamaan bunyi dalam kata
  • Mengerti persamaan dan perbedaan ukuran bentuk dan warna obyek.
  • Meniru gambar obyek sederhana
  • Membandingkan obyek berdasarkan ukuran
  • Melempar dan menangkap bola dengan baik, artinya koordinasi mata-tangan sudah dia kuasai. Sangat penting untuk menangkap pelajaran membaca dan berhitung.

Sumber : MAJALAH PARENTS

Monday, April 2, 2012

KEKELIRUAN DALAM MENDIDIK ANAK (PARTS II)

”Kawan yang baik lebih baik dari duduk sendirian, duduk sendirian lebih baik dari kawan yang jahat, mengutarakan kebaikan lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik dari berkata yang tidak baik” (Nabi Muhammad SAW). 

seorang anak ibarat kain putih kosong dan orangtua adalah pembatiknya. Kain itu akan berubah menjadi kain yang berharga jika pembatiknya (ortu) mau membatik dengan goresan yang indah nan mempesona, sebaliknya kain itu akan kurang bernilai jika pembatiknya menodai dengan goresan-goresan tak bermotif alias semrawut. Mendidik anak merupakan pekerjaan terpenting untuk membentuk karakter anak dan tanggung jawab orang tua. Dalam mendidik anak diperlukan beberapa langkah/cara tepat yang dapat mendukung terbentuknya karakter baik bagi anak. Namun, kondisi yang terjadi di masyarakat kadang malah justru sebaliknya, kebanyakan mereka cenderung menggunakan cara-cara ”sadis”/ semaunya sendiri, yang bisa merampas kebebasan bereksplorasi dan membunuh karakter anak.



Beberapa kekeliruan tersebut di antaranya adalah:

1. Membuat takut anak/ membohongi Perbuatan ini sering kita jumpai di masyarakat.

Misalnya: ”jangan nangis nak, nanti ditangkap polisi lho!” Ucapan ini akan membekas di benak anak sehingga akan tertanam perasaan takut pada polisi sedangkan polisi adalah pelindung/mitra masyarakat. Contoh lain: ”kalau gak belajar, saya pukul pakai sapu”. Hal ini tentu membuat anak selalu merasa terancam jiwanya. Anak melakukan perintah ortu karena perasaan takutnya, bukan karena keinginan hendak menurut. Contoh lagi: ”makan ya nak, nanti kalau gak makan didatangi mak lampir lho!”. Sangat fatal kiranya jika masih kecil saja sudah terbiasa dibohongi. (”Allah menyuruh untuk berbuat kebaikan dan menahan yang salah” [QS Ali Imran: 104]).

2. Banyak menyuguhi mitos-mitos

Sangat riskan jika di era sekarang masih ada ortu yang menyuguhkan anak-anaknya dengan mitos-mitos yang sudah jelas tidak benar. Contohnya: ”kamu jangan suka makan kelapa (yang sudah diparut), nanti kamu cacingan (krawiten) lho”. Sudah jelas, ucapan ini sangat mengada-ada dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Selama ini tidak ada buku/berita yang mengabarkan bahwa makan parutan kelapa dapat menyebabkan cacingan. Tidak ada yang memberitakan bahwa dampak negatif makan parutan kelapa adalah cacingan. (secara ilmiah ada di Biologi SMA kelas X, silakan baca sendiri bab avertebrata tentang siklus hidup cacing kremi). Contoh lain: ”kalau ada kupu2 hinggap di sebuah rumah pertanda akan kedatangan tamu”. ”Kalau makan keselek/ kegigit, pertanda dirinya sedang dibicarakan orang lain” (secara ilmiah ada di Biologi kelas XI bab sistem pernapasan & pencernaan). ”Kalau matanya bergetar2 terus, jika yang bergetar sebelah kiri pertanda akan menyaksikan kesedihan kalau yang sebelah kanan akan menyaksikan kebahagiaan”. Alangkah baiknya jika pemikiran nyeleneh itu segera dibuang jauh2. (”Pergunakanlah akal dan ilmu” [QS. Yunus: Ar-Rum: 29, An-Nahl: 43, Az-Zumar: 9).

3. Terlalu banyak larangan dan perintah tanpa teladan

Kita tidak boleh melarang anak jika sekiranya sesuatu yang diperbuatnya itu positip (bukan negatip). Jika keinginan anak yang positip dilarang, berarti telah menghalang-halangi bakat mereka dan mematahkan semangatnya. Contoh: ”Sepulang sekolah harus di rumah, tidak boleh keluar, tidak boleh main sepak bola dengan teman2nya”. Kapan lagi mereka bisa bermain? Anak butuh beradaptasi dengan lingkungannya. Anak juga butuh merefresh otaknya setelah berjam2 disuguhi rumus2 matematika di sekolahnya, menghafal ayat-ayat pendek misalnya, anak juga butuh lebih banyak berinteraksi dengan teman2nya, butuh meluapkan keinginannya. Dengan sepak bola mungkin bisa belajar bagaimana bekerjasama dalam teamnya, bisa belajar bagaimana mengatur strategi untuk membobol gawang team lain. Dalam penelitian terhadap lebih dari 500 murid di Kanada, murid yang menghabiskan waktu tambahan setiap harinya di ruang olahraga mampu mengerjakan ujian lebih baik ketimbang mereka yang kurang aktif berolahraga. Di Scripps College California, murid-murid yang berolahraga selama 75 menit seminggu, ternyata bisa bereaksi lebih cepat, berpikir lebih baik dan mengingat lebih cermat (4). Atau kadang juga ortu terlalu banyak perintah tanpa memberi teladan, misal: ”Tutup pintu”, ”Habiskan makan malammu”, ”Selesaikan PR-mu”, ”Pergilah tidur”. ”Jangan merokok!”, tapi ortu tanpa ada perasaan malu merokok di depan anaknya. Percakapan dalam keluarga cenderung berbentuk perintah dan bukan dialog bermakna. Kebutuhan akan keintiman, karenanya, tidak terpenuhi; dan anak-anak seperti ini bisa merasa terasing dan sendirian secara emosional diantara orang banyak kecuali jika mereka memiliki saudara kandung, teman sebaya atau guru yang menyediakan keintiman yang sangat didambakan (3). Seharusnya ortu harus mengisi dialog bermakna meskipun singkat sekaligus menemaninya, ”Mari kerjakan PR yuk, biar nanti bisa lebih mendalam/paham” dll. Contoh lain: ”kamu harus masuk jurusan kedokteran, kalau ga itu mending ga usah kuliah”. Ortu tidak boleh memaksa anaknya harus kuliah di kedokteran kalau IQ atau daya ingat si anak di bawah standar, karena di jurusan kedokteran akan dijumpai ratusan bahasa ilmiah dari strukutur organ tubuh manusia. Akan sangat merepotkan si anak nantinya. Jangan memaksakan anak untuk kuliah di Teknik Mesin sementara dia lebih menyukai dan merasa nyaman di bidang seni. (”Assya’bi meriwayatkan dan Nabi Muhammad SAW bersabda: Allah akan merakhmati kepada aba yang membantu anaknya untuk berbakti taat kepadanya. Yakni tidak menyuruh sesuatu yang dikuatirkan anak itu tak dapat melaksanakannya” (1)).

4. Membicarakan tabiat anak di hadapan orang lain/ membanding2kannya dengan anak lain

Seorang anak akan merasa ”terhina” jika mengetahui bahwa kesalahan-kesalahannya disiarkan kepada orang lain. Sebaliknya, jika anak mengetahui bahwa kebaikan-kebaikannya dipamerkan kepada orang lain maka anak akan menjadi sombong. Alangkah baiknya, panggilah si anak untuk membicarakan kekurangan-kekurangannya tanpa kehadiran orang lain. Dengan kekurangannya maka sekaligus dicarikan solusi dari ortu kepada anak. Ortu tidak boleh terlalu ambisius memamerkan kebaikan-kebaikan anaknya di hadapan orang lain apalagi dalam suatu majelis/ orang banyak, karena hal ini akan menyebabkan orang lain yang diajak bicara merasa sangat bosan alias boring!. Kadang bahkan seringkali kita dapati ortu yang selalu membanding2kan anaknya dengan anak lain. Misalnya: ”si A itu kok piala/tropinya banyak, tidak seperti kamu kerjaannya cuma nangis”. Ucapan-ucapan ini bukannya menjadikan anak bersemangat untuk memperbaiki, tetapi justru sangat mematahkan semangat si anak dan anak menganggap bahwa ortu lebih sayang pada anak orang lain, seolah si anak sungguh sangat tidak berarti bagi ortu. Sebaiknya ortu bisa membangun kepercayaan anaknya serta menganjurkan supaya berusaha lebih gigih.

5. Mencacimaki anak

Jikalau anak mendengar ibu bapaknya mengatakan ”kamu jahat”, maka anak tersebut akan merasa kesal dan cenderung pada perlakuan seorang jahat. Sebaiknya, dikatakan pada anak itu ”kau anak yang baik” dan anak baik itu kan tidak suka marah, tidak pernah berkelahi, rajin mengaji, dll. Alangkah baiknya ortu tidak mengucapkan perkataan2 kotor seperti ini. ”Kamu anak tidak benar, (tambeng, mbeling, nakal), bejat, dsb”. Kadang juga ada yang bilang kepada anaknya: ”kamu itu mau jadi apa si?”. Tepis jauh kata2 kotor itu. Ganti dengan kata2 yang lembut, dan lebih baik lagi jika kata itu bisa menyentuh hati anak. Misalnya: orang baik itu dikasihi Allah lho nak, jadi adik yang baik ya. Adik itu anak yang baik kok, jadi ga boleh marah2 lagi ya, ga boleh suka nangis lagi. (”Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk etis. Jiwa (nafs) seorang itu memberinya kemampuan untuk membedakan mana yang buruk (fujur) dan mana yang baik” [QS. As-Syams: 8]).

6. Berbicara terlalu banyak dan suara terlalu lantang

Hindarilah berbicara terlalu panjang lebar kepada si anak. Sedikit perkataan tapi jelas dan tepat lebih berpengaruh bagi anak daripada nasihat yang terlalu panjang lebar/ nonstop. Janganlah menyuruh atau melarang anak dengan perkataan yang terlalu banyak sehingga membosankan anak. Dalam rumah tangga juga sebaiknya jangan ada kata-kata yang bernada tinggi. Ucapkanlah perkataan yang lembut yang bisa mendatangkan berkah kepada pendengarnya. Jangan biarkan anak menyaksikan kemarahan, kebengisan, amukan ortu. Anak-anak lebih mengingat nasihat atau kata-kata yang diucapkan tenang dan manis daripada ucapan yang membentak-bentak. Anak yang selalu mendengar suara lantang akan kebal dengannya sehingga suara mengguntur pun tak berarti lagi baginya. Jadi, jangan heran jika suatu saat ada anak yang membalas membentak dari bentakan ortunya, karena rupanya bentakan ortu yang telah disuguhkan kepadanya telah melenyapkan sikap lemah lembut si anak. Jangan sampai ada alasan bahwa dengan dibentak anak akan nurut, dengan dipukul anak akan kapok, karena pada hakikatnya kekerasan/kekasaran tidak akan menyelesaikan masalah dan bukan solusi terbaik. (”Kecenderungan manusia untuk memandang musuh kepada sesamanya, sebenarnya dapat diatasi dengan ”saling menasihati agar bersabar dan saling menasihati agar saling berbelas kasihan” [QS. Al-Balad: 17]). Demikian beberapa kekeliruan ortu dalam mendidik anaknya. Tentu masih banyak kekeliruan2 lainnya yang bisa dijadikan bahan koreksi bagi kita bersama.

Tapi ini cukup bisa dijadikan bahan pelajaran untuk kita sehingga bisa memperbaiki jika ada Kesalahan/kekurangan, bisa melakukan jika belum sempat dilakukan. Sebaiknya kita juga harus berpikir jernih, kita tidak boleh beranggapan bahwa ”Ah itu kan hanya sekadar teori/ hanya buku yang bilang, tapi kan faktanya tidak/lain!”. Kebetulan referensi yang dipakai adalah referensi yang disertai penelitian2 yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan tentang kejadian2 di masyarakat baik di Indonesia maupun di luar
negeri.
Sumber : tanbihun.com

CARA MENDIDIK ANAK | TIPS ORANG TUA MENDIDIK ANAK


B
ila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda :



1. Kurang Pengawasan 

Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.

2. Gagal Mendengarkan 

Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.

3. Jarang Bertemu Muka 

Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda. 4. Terlalu Berlebihan Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.

5. Bertengkar Dihadapan Anak 

Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

6. Tidak Konsisten Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. 

Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.

7. Mengabaikan Kata Hati 

Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.

8. Terlalu Banyak Nonton TV 

Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi 

Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.


10. Bersikap Berat Sebelah 

Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

Sumber: www.isdaryanto.com

Saturday, February 25, 2012

PERSIAPAN BIAYA SEKOLAH ANAK




Cara Terbaik Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Pengaruh Inflasi

Biaya pendidikan terus naik setiap tahun. Kenaikannya bisa mencapai 10% hingga 20%/tahun. Kenaikan harga seiring berjalannya waktu (atau penurunan nilai uang terhadap waktu) disebut inflasi. Dan inflasi di sektor pendidikan termasuk yang paling tinggi.

Jika kita punya anak yang baru lahir, sekitar enam tahun lagi dia akan masuk sekolah dasar. Jika uang pangkal masuk SD berkualitas baik tahun ini sebesar 5 juta, maka enam tahun lagi biayanya bisa mencapai 8 jutaan (asumsi inflasi 10%) atau 10 jutaan (inflasi 15%). Oleh karena itu kita jangan mengumpulkan uang hingga sebesar 5 juta, tapi kumpulkanlah uang senilai 10 juta, khusus untuk masuk SD.

Tentunya kita pun perlu mempersiapkan dana masuk SMP, SMA, dan perguruan tinggi, yang pasti lebih besar ketimbang uang pangkal SD. Jika uang pangkal masuk SMP berkualitas baik tahun ini besarnya 7 juta, maka 12 tahun mendatang, uang pangkalnya akan mencapai 19 jutaan (asumsi inflasi 10%) atau 32 jutaan (asumsi inflasi 15%).
Jika kita tidak siap dengan biaya-biaya tsb, alternatifnya adalah menyekolahkan anak kita di sekolah negeri. Gratis. Tapi sebagian kita mungkin kurang percaya dengan kualitas sekolah negeri. Jika ada sekolah negeri berkualitas baik (SBI atau RSBI), jadinya pasti tidak gratis lagi.

Selain itu, biarpun SD, SMP, dan SMA negeri sudah gratis, perguruan tinggi belum ada yang gratis. Kecuali anak kita cukup pintar sehingga berhasil mendapatkan beasiswa, selebihnya kita tetap harus mengumpulkan uang.

Jadi, bagaimana menyiasatinya?

Ada beberapa cara mengumpulkan uang, misalnya menabung di bawah kasur, menabung di bank, atau deposito. Tapi cara-cara tsb tidak tanggap terhadap inflasi. Celengan di rumah tidak ada bunganya, sedangkan bunga deposito saat ini rata-rata cuma 6%/tahun. Di deposito, meski uang kita bertambah 6% setiap tahunnya, sebetulnya uang tsb berkurang nilainya. Jika kita menabung 500 ribu per bulan dan setelah 5 tahun terkumpul 30 juta, sesungguhnya 30 juta di lima tahun mendatang itu tidak sama dengan 30 juta sekarang. Dengan inflasi 10%, maka 30 juta lima tahun kemudian hanyalah senilai dengan uang 19 juta masa sekarang. Dengan kata lain, jika 30 juta saat ini bisa kita belikan 30 set meja makan seharga @1 juta, lima tahun kemudian yang diperoleh hanya 19 set meja makan.
Betapa jahatnya inflasi; diam-diam ia merampok sebagian uang kita sementara kita sedang tidur (tidak sadar).

Dua Cara Mempersiapkan Dana Pendidikan

Oleh karena itu, cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah dengan menabung atau berinvestasi di instrumen yang bisa menghasilkan retur sama atau lebih besar dari inflasi. Apa atau apa sajakah itu?

Pertama, menabung emas atau perak (dinar atau dirham). Harga emas dan perak selalu naik, dan kenaikannya bisa mengimbangi bahkan mengalahkan inflasi. Jika tahun ini uang pangkal masuk SD setara dengan 10 gram emas (5 jutaan; per gram 500 ribuan), maka enam tahun kemudian pun biayanya tetap di kisaran 10 gram emas. Jika uang pangkal masuk SMP tahun ini setara 14 gram emas (7 jutaan), maka 12 tahun ke depan pun biayanya tetap sekitar 14 gram emas.

Menabung dalam bentuk emas/perak menjamin nilai uang kita di masa depan, tanpa terpengaruh kenaikan harga-harga (inflasi). Jadi jika kita sudah memiliki 10-20 gram emas saat ini, tidak perlu khawatir kalau hanya untuk urusan masuk SD/SMP. Tapi ya tetap harus mengumpulkan uang untuk keperluan lain.

Menabung emas bisa dicicil, tapi karena harga satu gram emas saja sekarang sudah lebih dari 500 ribu, dan biasanya emas dijual dalam satuan yang lebih berat (2, 3, atau 5 gram; dan 1 dinar saja beratnya 4,25 gram), maka bagi orang yang hanya mampu menabung 500 ribu sebulan, dia harus menunggu beberapa bulan untuk membeli emas. Atau bisa juga dia mencicil emas di pegadaian, tapi dikenai biaya administrasi dan margin keuntungan, dan ada DP (uang muka) yang besarnya sekitar 25%.
Pilihan yang lebih terjangkau adalah menabung perak (dirham). Harganya saat ini sekitar 70 ribuan per dirham, beli 5 dirham bebas ongkos pembuatan. Dirham bisa dibeli secara offline maupun online di gerai-gerai yang menjual dinar dan dirham. Alamatnya silakan dicari di internet.

Kedua, berinvestasi di saham atau reksadana. Investasi saham berarti kita membeli secara langsung saham-saham perusahaan yang terdaftar di pasar modal (Bursa Efek Indonesia), sedangkan reksadana adalah berinvestasi saham/obligasi di pasar modal melalui manajer investasi.

Investasi saham/reksadana dapat menghasilkan retur lebih besar daripada emas, tapi mengandung risiko merugi. Risiko kerugian dapat diminimalkan dengan pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, sebelum memutuskan terjun ke pasar modal, kita harus mempelajari dulu seluk-beluk investasi saham/reksadana. Sekilas ini kedengarannya sulit, tapi jika anda punya waktu dan siap untuk mempelajarinya, kenapa tidak.
Apakah investasi saham/reksadana perlu modal besar? Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak. Sekarang ini kita bisa membuka rekening di perusahaan sekuritas (pialang/broker saham) dengan deposit minimal 5 juta, bahkan ada yang cuma 100 ribu. 100 ribu? Ya, dan saya sudah membuka rekening di broker tsb. Tapi tentu saja 100 ribu tsb baru untuk buka rekening saja, belum bisa dipakai beli saham apa pun. Untuk mulai membeli saham, kita perlu setor 500 ribu atau 1 juta; itu cukup untuk membeli 1-2 lot saham yang harganya seribu rupiah per lembar. Seterusnya kita bisa menambah kepemilikan saham kita setiap bulan atau setiap kali punya uang lebih.

Jika saham tampaknya cukup ribet dan butuh belajar banyak, maka reksadana tidak perlu sebanyak itu belajarnya. Percayakan saya dana kita kepada manajer investasi yang memang ahlinya dalam berinvestasi. Selain itu reksadana bisa dicicil dengan biaya lebih murah. Dulu reksadana ditawarkan dengan setoran awal minimal puluhan juta, tapi sekarang ada reksadana yang menerima cicilan mulai 100 ribu/bulan.
Adakah cara lain mengumpulkan uang untuk keperluan di masa depan? Sementara itu dulu, sebab keduanya (nabung emas/perak dan investasi saham/reksadana) bisa dicicil secara berkala dengan lebihan dari gaji atau penghasilan bulanan. Dan tulisan ini pun saya tujuan untuk orang-orang yang mengandalkan hidup dari gaji rutin.

Sebelumnya Harus Punya Asuransi Jiwa

Mungkin anda berpikir, okelah kita bisa menyisihkan uang secara rutin untuk beli emas atau reksadana, tapi bagaimana kalau di tengah jalan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita sehingga kita tidak bisa lagi mencicil dana tsb?
Solusinya: sebelum menabung atau berinvestasi, terlebih dahulu kita harus punya asuransi jiwa.

Dalam prioritas perencanaan keuangan, asuransi jiwa didahulukan dari investasi, sebab investasi bisa gagal total jika di tengah jalan terjadi sesuatu pada kita, entah sakit, kecelakaan, atau meninggal dunia. Jika sakit, maka kita harus berobat. Untuk berobat perlu uang. Semakin parah penyakitnya, semakin besar uang yang kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita rela jika hasil investasi kita, yang sedianya untuk tujuan pendidikan, terpakai untuk biaya berobat? Tentu lebih baik jika biaya berobat itu berasal dari pihak lain, dalam hal ini perusahaan asuransi. Dengan demikian, dana investasi kita tetap aman-aman saja.

Atau jika kita meninggal dunia, sudah jelas anak kita bukan hanya kehilangan dana pendidikan, tapi juga sumber nafkah hidupnya. Oleh karena itu, asuransi jiwa wajib hukumnya bagi orangtua yang telah memiliki tanggungan hidup. Bukan sekadar punya, jumlahnya pun harus cukup.

Satu hal perlu diperhatikan: Yang harus mengambil asuransi jiwa adalah orangtua, bukan anak. Anak tidak butuh asuransi jiwa, sebab seandainya dia meninggal, kedua orangtua memang akan sedih, tapi tidak disusahkan dalam segi ekonomi.

Asuransi Pendidikan Jenis Endowment

Dari pemikiran ini, bahwa persiapan dana di masa depan harus dibarengi dengan asuransi jiwa, muncullah produk keuangan yang disebut asuransi pendidikan. Asuransi pendidikan menyediakan uang tunai sejumlah tertentu ketika anak masuk jenjang-jenjang sekolah, plus asuransi jiwa, plus pembebasan/pembayaran premi jika orangtua meninggal dunia. Jenis asuransi yang biasanya ditawarkan perusahaan asuransi adalah endowment (dwiguna), sebab dia menyediakan uang pertanggungan jiwa sekaligus jaminan uang tunai.

Tapi apakah asuransi pendidikan jenis ini sudah memadai untuk mengkover biaya masuk sekolah di masa depan?

Mari kita tinjau lebih saksama. Sebelumnya kita harus tahu berapa biaya masuk SD, SMP, SMA, dan PT saat ini, lalu kalkulasikan biaya di masa depan dengan memasukkan faktor inflasi. Mengikuti asuransi pendidikan tanpa terlebih dahulu menghitung kebutuhan anak kita di masa depan akan berakibat dua hal. Pertama, kemahalan, tapi ini masih mending, sebab mendingan lebih daripada kurang. Kedua, dana tahapan pendidikan yang kita terima tidak dapat membantu pada saatnya dibutuhkan, karena jumlahnya kekecilan.

Sekadar gambaran kasar, mari kita anggap biaya masuk SD saat ini 5 juta, SMP 7 juta, SMA 8 juta, dan PT 10 juta. Dengan asumsi inflasi sekitar 10% per tahun, maka 6 tahun kemudian, biaya masuk SD adalah 9 juta, 12 tahun kemudian biaya masuk SMP 20 juta, 15 tahun kemudian biaya masuk SMA 31 juta, dan 18 tahun kemudian biaya masuk PT 50 juta. Total dana yang dibutuhkan 110 juta.

Beberapa produk asuransi pendidikan yang pernah saya lihat memberikan dana tahapan 10% UP saat masuk SD, 20% UP saat masuk SMP, 20-25% UP saat masuk SMA, dan 45-50% UP saat masuk PT. Ada juga yang memberikan dana 10% UP di tahun kelima (masuk TK), tapi persentase saat masuk PT jadi berkurang. Secara umum, dengan skema pembagian dana seperti itu, nasabah akan balik modal (balik 100%) pada saat anaknya masuk PT. Setelah itu, asuransi akan memberikan beasiswa per tahun selama anak kita kuliah di PT selama 4 tahun. Persentasenya dihitung dari saldo terakhir pada tahun masuk PT. Total dana tahapan yang diterima anak nasabah mencapai lebih dari 100% UP.

Dari gambaran tsb, maka kita membutuhkan asuransi pendidikan dengan UP 100 juta s.d. 110 juta. Agar lebih mudah menghitungnya, kita ambil yang 100 juta. UP 100 juta ini menjadi dasar perhitungan pemberian dana tahapan, sekaligus menjadi uang tunai yang diberikan lumpsum kepada ahli waris jika pemegang polis (orangtua) meninggal dunia.
Dengan UP 100 juta, maka dana tahapan yang diterima adalah:

- SD (10%) sebesar 10 juta. Insya Allah cukup.
- SMP (20%) sebesar 20 juta. Insya Allah cukup.
- SMA (25%) sebesar 25 juta. Kurang sekitar 6 juta.
- PT (45%) sebesar 45 juta. Kurang sekitar 5 juta.
- Beasiswa per tahun selama kuliah (4-5 tahun), persentasenya dihitung dari saldo rekening tabungan akhir tahun yang ada pada saat itu. Di sinilah nasabah baru mendapat keuntungan dari dana yang telah ia bayarkan. Besarnya kira-kira 10-20% dari UP.

Untuk mendapatkan UP 100 juta, jika masa pembayaran premi 18 tahun (anak baru lahir), usia orangtua sekitar 30 tahun, maka yang harus dibayar adalah 100 juta dibagi 18 tahun, yaitu 5,6 juta per tahun atau 470 ribu per bulan (dibulatkan). Jika anak kita telah berusia 3 tahun, maka masa pembayarannya 15 tahun, dan premi bulanannya menjadi 560 ribu. (Lebih mahal. Itulah sebabnya, waktu terbaik mempersiapkan dana pendidikan adalah sedini mungkin).

Itu gambaran umum asuransi pendidikan yang biasanya ditawarkan perusahaan asuransi. Ada asuransi pendidikan yang memakai skema sedikit berbeda, dengan total dana tahapan mencapai 250% bahkan lebih, tapi preminya lebih mahal.

Tabungan Pendidikan

Selain asuransi pendidikan, ada pula yang disebut tabungan pendidikan. Bedanya, asuransi pendidikan diterbitkan perusahaan asuransi, tabungan pendidikan dikeluarkan oleh bank. Dibanding asuransi pendidikan, tabungan pendidikan memberikan nilai tunai yang lebih besar karena ada bunganya. Besar bunganya sedikit di bawah bunga deposito dan lebih tinggi dari rekening biasa; saat ini sekitar 4-5%.

Tabungan pendidikan juga ada asuransi jiwanya dan fasilitas bebas premi. Hanya asuransi jiwanya sangat kecil, yaitu (dari sebuah produk yang pernah saya lihat) antara 5 s.d. 20 kali setoran bulanan, tergantung kapan meninggalnya. Jadi jika setoran bulanannya 500 ribu, premi asuransi jiwanya antara 2,5 juta s.d. 10 juta.
Sekarang, tabungan pendidikan juga ada yang menawarkan asuransi jiwa lebih besar, sampai 320 x hingga 480 x setoran bulanan, dan ada pula yang disertai rider kesehatan. Namun tambahan manfaat itu akan mengurangi porsi tabungan antara 10% hingga 30%.

Di sini, tabungan pendidikan menjadi tidak ada bedanya dengan asuransi pendidikan, yaitu sama-sama tergolong asuransi endowment (dwiguna; asuransi+tabungan). Namun tabungan pendidikan memberikan kelebihan lain, yaitu dana lebih mudah diambil (karena sifatnya tabungan), besar pengambilannya terserah kita, dan waktu pengambilan dana bisa kapan saja (jumlah dana dan waktu pengambilan dana tidak tercantum di perjanjian).

Tinjauan Asuransi Pendidikan Jenis Endowment

Sekarang mari kita tinjau asuransi pendidikan endowment tsb dengan beberapa pertanyaan.

Pertama, apakah dana tahapan yang diberikan cukup membantu pada saat nanti dibutuhkan? Jika asumsi inflasi 10% terpenuhi atau kurang dari itu, maka dananya cukup. Kurang-kurang sedikit bisalah kita tambah dari uang sendiri.
Pada kenyataannya, biaya pendidikan mungkin naik lebih besar daripada asumsi tsb. Maka kalau mau lebih aman, kita perlu menggunakan asumsi 15% atau bahkan 20%, dan jika begitu, maka premi yang kita bayarkan bisa mencapai 2 hingga 4 kali lipat.
Selain itu, kalaupun inflasi pendidikan hanya 10% atau kurang, premi yang dibayarkan sebesar 470 ribu per bulan itu sebetulnya terlalu mahal. Jika uang itu kita taruh di deposito dengan bunga 6% per tahun, maka total yang kita dapat bukan lagi 100 juta, melainkan 160-an juta. Hanya memang tidak ada asuransinya.

Kedua, jika pemegang polis meninggal dunia, apakah dana tahapan tetap diterima? Ya. Bahkan ada pula lumpsum sebesar 100 juta.

Tapi bicara tentang asuransi jiwa, sesungguhnya UP 100 juta itu sangatlah kecil. Jika pemegang polis atau orangtua meninggal dunia, uang 100 juta itu jika dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari mungkin akan habis dalam satu-dua tahun.

Adakah yang Lebih Murah?

Kita lanjutkan tinjauan kita.
Ketiga, apakah ada cara yang lebih murah? Ada, yaitu dengan menggunakan produk asuransi mutakhir yang disebut unit link. Unit link adalah asuransi plus investasi. Model investasi pada unit link sama dengan reksadana, yaitu manajer investasi mengalokasikan dana nasabah ke saham, campuran saham dan obligasi, atau campuran obligasi dan deposito (tergantung jenis reksadananya).

Di sini unit link berbeda dengan endowment yang merupakan gabungan antara asuransi dan tabungan. Apa bedanya investasi dengan tabungan? Investasi mengandung harapan adanya keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang, sementara tabungan hanya menghasilkan sejumlah yang dikumpulkan ditambah bunga. Karena potensi hasilnya yang lebih besar itu, maka investasi mengandung risiko kerugian, sementara tabungan lebih aman. Perbedaan lainnya, hasil investasi bisa mengungguli inflasi, nilai tabungan bisa dipastikan akan tergerus inflasi.

Nilai tunai pada asuransi endowment merupakan tabungan karena jumlahnya dijamin. Sedangkan nilai tunai pada unit link merupakan hasil investasi, jumlahnya tidak dijamin tapi bisa lebih besar.

Pilih mana: dijamin tapi jumlahnya kecil, atau tidak dijamin tapi jumlahnya bisa lebih besar?

Selain memberikan peluang retur investasi yang lebih besar dari inflasi, unit link juga memberikan UP jiwa yang jauh lebih besar.

Sekadar gambaran, dari mesin program unit link yang saya punya, premi 470 ribu/bulan selama 18 tahun, untuk orangtua dengan usia 30 tahun, akan memberikan manfaat:

1. “Dana tahapan” dengan jumlah yang sedikit lebih besar dibanding yang diberikan asuransi pendidikan endowment, yaitu 10 juta (masuk SD), 20 juta (SMP), 31 juta (SMA), 50 juta (PT). Total 110 juta.
2. Bonus 10 juta per tahun selama 5 tahun di PT, diberikan jika asumsi investasi minimal 10% per tahun terpenuhi.

Sampai di sini, total “dana tahapan” mencapai 160 juta, lebih besar daripada total dana yang disetor sebesar 101 juta. Istilah dana tahapan saya taruh di antara tanda petik (“), karena dana unit link pada dasarnya bisa diambil berapa saja dan kapan saja, asalkan masih ada sisa untuk membayari biaya asuransi jiwa. Sama seperti halnya tabungan pendidikan, waktu pengambilan dana dan besarnya dana tidak tercantum dalam polis.

1. UP jiwa sebesar 300 juta, diberikan jika orangtua meninggal dunia. Manfaat ini berlaku seumur hidup, bukan hanya selama masa pembayaran premi.
2. Hasil investasi yang terus berkembang dan membesar, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk dana pensiun dan tambahan warisan. Manfaat ini membutuhkan terpenuhinya asumsi investasi minimal 13% per tahun.

Skema dan manfaat tsb didapat dengan pembagian porsi asuransi sebesar 230 ribu dan porsi investasi sebesar 240 ribu. Selain itu, sejumlah rider (asuransi tambahan) dapat pula ditambahkan, seperti manfaat rawat inap dan pembedahan di RS, perlindungan terhadap sakit kritis, perlindungan dari kecelakaan, perlindungan dari cacat total, dan manfaat payor (pembebasan premi plus pembayaran premi jika pemegang polis mengalami sakit kritis/cacat total). Jika manfaat-manfaat tambahan tsb diambil, maka komposisi asuransi dan investasi bisa berubah, dan itu mengubah pula dana tahapan ataupun UP jiwa yang bisa diberikan.

Meski hasil investasi pada unit link tidak dijamin, bukan berarti akan rugi. Ada beberapa cara untuk melindungi hasil investasi supaya menghasilkan retur yang optimal, salah satunya dengan diversifikasi dana atau penyebaran dana pada beberapa instrumen. Dana unit link diinvestasikan pada berbagai instrumen investasi, ada yang murni saham (reksadana saham), ada yang campuran saham dan obligasi (reksadana campuran/berimbang), dan ada yang pada obligasi dan deposito (reksadana pendapatan tetap). Khusus untuk keperluan pendidikan, komposisi yang cukup ideal untuk menghasilkan retur optimal (cukup tinggi tapi juga cukup aman) adalah 20% reksadana saham, 30% reksadana campuran, dan 50% reksadana pendapatan tetap. Dengan komposisi ini, maka mencapai retur 13% per tahun terbilang cukup realistis.

Untuk mendapatkan manfaat yang kira-kira sama dengan yang diberikan asuransi endowment, yaitu dana tahapan plus UP jiwa 100 juta, unit link saya bisa mengenakan premi antara 300 ribu s.d. 350 ribu/bulan.

Keempat, adalah cara yang lebih murah lagi? Ya, yaitu asuransinya dipisah dengan investasinya. Pertama, ambil dulu asuransi jiwa berjangka (term life) dengan jangka waktu 18 atau 23 tahun (sampai anak kita lulus kuliah/bekerja). Untuk UP 100 juta, preminya sekitar 400-500 ribu per tahun, tergantung perusahaan asuransinya. Untuk UP 300 juta preminya sekitar tiga kali lipatnya. Berbeda dengan unit link yang asuransi jiwanya berlaku seumur hidup, masa berlaku asuransi jiwa murni sama seperti endowment, yaitu selama masa perjanjian.

Setelah itu silakan berinvestasi sendiri, di reksadana atau saham, atau di emas dan perak, atau berbisnis apa saja. Perbedaannya dengan investasi lewat unit link ataupun tabungan endowment, jika investasi/usaha sendiri kita bebas menentukan berapa dana yang kita setorkan dan kapan kita setorkan, besarnya tidak harus sama dan tidak harus rutin. Tapi perlu diingat bahwa jika tujuan ingin tercapai, bagaimana pun kita harus disiplin.

Simpulan
1. Cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah dengan menabung atau berinvestasi pada instrumen yang memberikan retur lebih besar daripada inflasi (kenaikan harga). Pada saat yang sama, orangtua juga harus mengambil asuransi jiwa, agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya, rencana pendidikan anak tetap terjaga. Asuransi jiwanya dapat disatukan dengan investasi, dapat pula dipisah. Masing-masing ada plus-minusnya.
2. Contoh tabungan yang kebal inflasi adalah emas dan perak. Tabungan jenis lain (celengan, rekening bank, deposito) lebih baik dihindari untuk jangka panjang.
3. Contoh investasi antara lain saham dan reksadana. Kedua instrumen ini menawarkan retur yang lebih tinggi dari emas dan perak, tapi mengandung risiko kerugian. Risiko kerugian bisa diminimalkan dengan pengetahuan yang mencukupi tentang dunia investasi.
4. Asuransi pendidikan jenis endowment menjamin sejumlah dana tahapan pendidikan dan uang pertanggungan jiwa jika meninggal dalam masa perjanjian. Tapi karena nilai tunainya berbentuk tabungan, ia dapat tergerus oleh inflasi. Untuk menyiasatinya, cicilan tabungan kita harus lebih besar dari seharusnya. Selain itu UP jiwanya terbilang kecil, hanya sejumlah total uang yang rencananya kita bayarkan, dan berlaku hanya selama masa perjanjian.
5. Tabungan pendidikan hampir mirip dengan asuransi pendidikan. Nilai tunai lebih besar karena ada bunga, namun asuransi jiwa lebih kecil. Selain itu tabungan pendidikan lebih fleksibel dalam hal waktu pengambilan dana dan besarnya dana yang dapat diambil.
6. Asuransi unit link menawarkan hasil investasi yang lebih besar daripada endowment, UP jiwa yang lebih besar dan berlaku seumur hidup, serta dapat ditambahkan rider (manfaat asuransi lainnya) yang beragam. Dana unit link tidak dijamin, tapi keamanan dana serta hasil investasi dapat dioptimalkan dengan pengaturan komposisi instrumen yang tepat.
7. Yang lebih murah dari itu semua adalah memisahkan asuransi dan investasi. Asuransinya ambil yang murni dengan jangka waktu sesuai kebutuhan (sampai kira-kira anak kita mandiri). Investasinya bisa dipilih sendiri, dengan catatan harus disiplin.
8. Bagi yang tidak punya waktu/tidak siap untuk belajar investasi atau menjalankan usaha sendiri, pilihannya adalah unit link, sebab unit link sudah menggabungkan asuransi plus investasi dalam satu rekening.
http://bermenschool.wordpress.com

SEKOLAH ISLAM TERPADU



Mencari Format Ideal Sekolah Islam Terpadu

Mencari sekolah Islam yang unggulan pada kurun waktu 10 atau 20 tahun lalu sangat sulit. Namun bukan berarti pada masa sekarang menjadi mudah. Levelnya masih pada gampang-gampang susah. Meski banyak prestasi yang sudah ditorehkan oleh sekolah Islam terpadu, namun konsep integrasi ilmu pengetahuan di Indonesia masih pada taraf trial and error.

Umat Islam Indonesia terlalu lama terkungkung oleh pengaruh peradaban Barat yang meniupkan adanya pemisahan intelektual, antara ilmu agama dan ilmu umum sebagai dua disiplin yang tidak dapat ditemukan. Akibatnya, tingginya ilmu seseorang tidak menjadikannya semakin ‘alim dan sholeh, justru makin menjauhkannya dari Alloh SWT.


Mencari sekolah Islam yang unggulan pada kurun waktu 10 atau 20 tahun lalu sangat sulit. Namun bukan berarti pada masa sekarang menjadi mudah. Levelnya masih pada gampang-gampang susah. Meski banyak prestasi yang sudah ditorehkan oleh sekolah Islam terpadu, namun konsep integrasi ilmu pengetahuan di Indonesia masih pada taraf trial and error. Umat Islam Indonesia terlalu lama terkungkung oleh pengaruh peradaban Barat yang meniupkan adanya pemisahan intelektual, antara ilmu agama dan ilmu umum sebagai dua disiplin yang tidak dapat ditemukan. Akibatnya, tingginya ilmu seseorang tidak menjadikannya semakin ‘alim dan sholeh, justru makin menjauhkannya dari Alloh SWT.

Namun kita harus tetap optimis. Eksistensi sekolah Islam terpadu yang kini tengah menjadi trend membawa angin segar bagi dunia pendidikan Islam di tanah air. Umat Islam berharap eksistensinya membuat para pemerhati serta praktisi pendidikan Islam mampu mengaplikasikan konsep pendidikan integral dalam bentuk lembaga pendidikan - seperti yang pernah dilakukan Prof. Al-Attas dengan ISTAC-nya -, yang dimulai dari jenjang pendidikan dasar.

Misi besar pendirian SDIT adalah menghapus dikotomi ilmu kemudian memunculkan monokotomi ilmu. Konsep al-Ghazali yang membuat bangunan keilmuan berdasarkan asas manfaat (hukum mencarinya menjadi fardhu ain dan fardhu kifayah) menjadi landasan bagi terciptanya bangunan ilmu yang bersifat integratif sehingga keterpecahan kepribadian yang melanda anak didik dapat teratasi.

Dalam seminar interdisciplinary ke-126 pada 18 Juni 2011 bertajuk “Strategi Mencari Keunggulan Sekolah Islam”, dipaparkan segenap kegelisahan serta upaya yang sudah dilakukan oleh para pemerhati serta praktisi pendidikan Islam terhadap permasalahan pendidikan Islam di tanah air. Acara yang terselenggara berkat kerjasama Ikatan Alumni program studi MPI (Magister Pemikiran Islam) dan MPd.I (Magister Pendidikan Islam) dengan Pascasarjana UMS menghadirkan para pemerhati sekaligus praktisi pendidikan Islam.

Konsep integrasi ilmu dipaparkan secara atraktif oleh Muhammad Haris, S.E., kepala sekolah ‘Semesta’ Semarang yang sudah sering menorehkan prestasi di olympiade-olympiade tingkat nasional maupun internasional. Haris menuturkan pengalamannya merintis sekolah Islam terpadu ‘Semesta’ yang bekerjasama dengan Turki ini. Berawal dari aktivitas mahasiswa UNDIP Semarang di sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an, kemudian muncul ide tentang pendidikan terintegrasi. “Otak Jerman, hati Mekkah”, tukas Haris. Pendiri sekolah ‘Semesta’ berharap anak didiknya tumbuh menjadi pembelajar yang unggul dalam ilmu kauliyah maupun kauniyah.

Senada dengan Haris, pendiri Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) yang juga diundang sebagai pembicara menegaskan kegelisahannya terhadap hasil pendidikan sekular yang menghasilkan keterpecahan anak didik; semakin tinggi pendidikannya, semakin tidak beres aqidahnya. “Yang harus dilakukan adalah membangun sekolah Islam integral yang bisa menghasilkan pribadi yang sempurna, yang komprehensif, kuasai ilmu kauniyah dan kauliyah sekaligus”, jelasnya. Awal pendidikan Islam bermula dari tempat yang sangat sederhana, yaitu serambi masjid yang disebut al-Suffah. Seluruh aktivitas umat Islam terpusat di masjid. Setelah dibangun aqidah yang bentuk fisiknya ada di masjid, baru membangun aspek yang lain. “Konsep pendidikan Islam integral di Indonesia pernah dipraktekkan oleh Wali Songo. Mereka merupakan prototipe manusia yang komprehensif, ahli ilmu kauliyah sekaligus kauniyah. Buktinya, masjid Demak yang dibangun ratusan tahun yang lalu hingga kini masih berdiri kokoh. Itu menunjukkan kepada kita semua bahwa mereka ulama sekaligus teknokrat”, imbuhnya.

Dr. Muinudinillah Basri yang berbicara dalam seminar tersebut menggarisbawahi bahwa kelebihan yang dimiliki seorang Muslim adalah wakaf bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita menggali strategi-strategi yang digunakan oleh sekolah-sekolah Islam dalam mencapai keunggulannya. Dr. Muinudinillah juga menekankan bahwa pendidikan Islam muaranya harus dari Alloh SWT, kemudian berangkat bagaimana Alloh mendidik alam semesta ini yakni memadukan antara sunnatullah kauliyah dan sunnatullah kauniyah. Hukum alam adalah hukum Alloh juga. “Ketika Alloh mendidik dengan dua didikan ini, maka dalam kurikulum kita break down, bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu fardu ‘ain dna fardu kifayah”, kata Dr. Muinudinillah. Ditambahkan oleh Dr. Muinudinillah, pendidikan dan pendidik yang berhasil adalah yang Robbaniyy, mampu mendidik dengan sunnatullah kauliyah dan kauniyah.
Menurut Dr. Muinudinillah, kurikulum yang pertama kali harus diberikan pada anak didik adalah tahfizhul Qur’an. Itu merupakan basic dan anak didik harus mampu berinteraksi dengn Al-Qur’an. Yang kedua adalah tazkiyah atau akhlakiyyah, bagaimana para bisa menjadi teladan, yang ketiga adalah ta’limul Qur’an dan sunnah, keempat adalah ta’limul ilmu-ilmu yang bermanfaat yakni skill yang praktis. “Yang namanya pesantren kalo memiliki filosofi ini tidak akan dihalangi untuk unggul. Anak-anak pesantren bisa memiliki kemampuan yang komprehensif”, tukas Dr. Muin. Dan adanya para pendidik yang terintegrasi ilmunya sangat diperlukan untuk mewujudkan semua ini. “Dengan begini, maka Barat dan Timur harus mengakui kehebatan Islam,” tegas Dr. Muinudinillah mengakhiri seluruh sesi seminar.

Buku Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi turut menjawab problematika di atas. Poin terpenting untuk membangun kembali peradaban Islam harus dimulai dari pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Termasuk dalam hal ini adalah membangkitkan tradisi keilmuan Islam dengan menggali konsep-konsep penting khazanah ilmu pengetahuan Islam dan menyebarkannya agar dimiliki oleh kaum terpelajarnya yang secara sosial berperan sebagai agen perubahan dan yang secara individual sebagai decision maker. Penguasaan konsep-konsep kunci inilah yang nantinya bisa mengubah aplikasi yang tadinya hanya berkisar pada level trial and error menjadi success. Semoga.
Sumber : http://www.inpasonline.com