Sunday, October 16, 2011

FAKTOR PRESTASI BELAJAR ANAK

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR ANAK


Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses belajar yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku yang baru, dari pemahaman lama ke pemahaman baru.

Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses belajar yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku yang baru, dari pemahaman lama ke pemahaman baru.

Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah bagaimana anak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan rangsangan yang ada, sehingga terdapat reaksi yang muncul dari anak.

Reaksi yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang mengakibatkan perubahan pada anak sebagai hal baru serta menambah pengetahuan.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa belajar merupakan kegiatan penting baik untuk anak-anak, bahkan juga untuk orang dewasa sekalipun.

Perlunya perhatian faktor lingkungan dapat mempengaruhi proses belajar. Suasana yang nyaman dan kondusif mengakibatkan proses belajar akan menjadi lebih baik. Termasuk juga keaktifan proses mental untuk sering dilatih, sehingga nantinya menjadi suatu kegiatan yang terbiasa.

Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar atau prestasi belajar. Orangtua pun perlu untuk mengetahui apa saja faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar pada anak mereka, sehingga orangtua dapat mengenali penyebab dan pendukung anak dalam berprestasi. Berikut adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan menurut Djaali, H. dalam sebuah bukunya berjudul Psikologi Pendidikan pada tahun 2007, yaitu:

FAKTOR DARI DALAM DIRI

Kesehatan

Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek, deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan kecewa karena konflik juga dapat mempengaruhi proses belajar.

Intelegensi

Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar anak. Menurut Gardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik fisik, sosial interpersonal dan intrapersonal.

Minat dan motivasi

Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar lingkungan
Cara belajar

Perlu untuk diperhatikan bagaimana teknik belajar, bagaimana bentuk catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.

FAKTOR DARI LINGKUNGAN

Keluarga

Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak. Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan orangtua dan saudara, bimbingan orangtua, dukungan orangtua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.

Sekolah

Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga mempengaruhi anak dalam proses belajar.

Masyarakat

Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan moral yang baik, terutama anak-anak mereka. Hal ini dapat sebagai pemicu anak untuk lebih giat belajar.

Lingkungan sekitar

Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.

Dari sekian banyak faktor yang harus diperhatikan, tentu tidak ada situasi 100% yang dapat dilakukan secara keseluruhan dan sempurna. Tetapi berusaha untuk memenuhinya sesempurna mungkin bukanlah faktor yang mustahil untuk dilakukan.

Sumber : Muhammad Baitul Alim (http://www.psikologizone.com/faktor-yang-mempengaruhi-prestasi-belajar-anak/06511161)

Thursday, October 6, 2011

MENYIASATI KEJANG DEMAM




Kejang demam bukan epilepsi. Kenali gejalanya agar bisa diatasi dengan cepat dan tepat.

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu badan anak (demam tinggi). Perlu Anda tahu, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Ada anak yang sudah kejang pada suhu 38 derajat C, tapi ada pula yang baru kejang jika suhu badan mencapai 39 derajat C bahkan lebih.

Kabar baiknya, sebagian besar kejang demam tidak menimbulkan masalah serius. Dengan penanganan yang tepat dan segera, kejang demam yang berlangsung beberapa saat umumnya tak menimbulkan gangguan fungsi otak.

Untuk itu, tak ada salahnya Anda perhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan kejang demam berikut ini.
  • Seorang anak yang terkena kejang demam, biasanya diawali dengan meningkatnya suhu tubuh.
  • Anak dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya yang diukur melalui termometer yang diletakkan di ketiak 37,2 derajat C, diukur melalui mulut atau telinga 37,8 deraja C, atau diukur melalui anus 38 derajat C (suhu normal antara 36-37 derajat C). Penting diketahui, Anda tak dianjurkan mengukur suhu hanya dengan menempelkan punggung tangan ke dahi anak.
  • Kaki dan tangan kaku disertai gerakan-gerakan kejut yang kuat, bola mata berbalik ke atas, gigi terkatup, dan kadang-kadang muntah.
  • Tak jarang si anak berhenti napas sejenak.
  • Pada beberapa kasus, anak tidak bisa mengontrol pengeluaran buang air besar/kecil.
  • Setelah kejang, anak kadang terlihat mengantuk.
  • Yang perlu diketahui, intensitas waktu kejang sangat bervariasi, namun biasanya tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik. Sangat jarang kejang demam berlangsung lebih dari 5 menit.
Jika kejang pada anak tak kunjung membaik, segera bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Perlu Dilakukan Jika Anak Kejang

Jika anak mengalami kejang demam, sebaiknya Anda tetap tenang, lalu, lakukanlah hal-hal berikut.
  • Catat waktu kejangnya untuk dilaporkan pada dokter, jika perlu.
  • Agar anak tidak cedera, pindahkan benda-benda keras atau tajam yang berada dekat anak.
  • Tak perlu menahan mulut anak agar tetap terbuka dengan meletakkan sendok atau benda-benda lain di antara giginya. Hal ini dikhawatirkan justru akan membahayakan anak.
  • Miringkan posisi tubuh anak dengan kepala sejajar atau sedikit lebih rendah agar dia tidak menelan cairan muntahnya sendiri (karena bisa mengganggu pernapasannya).
  • Setelah anak benar-benar sadar, beri obat penurun panas (parasetamol atau ibuprofen). Jadi, sediakanlah obat penurun panas dan obat anti kejang yang telah diresepkan dokter anak.
  • Bujuklah ia untuk banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi bisa cepat tergantikan.
Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut , jika:
  • Kejang berulang atau berlangsung sampai lebih dari 5 menit.
  • Anak tidak sadar setelah kejang berakhir.
  • Anak sulit bernapas.

Pencegahan Kejang Akibat Demam

Jika ada riwayat kesehatan keluarga yang menderita kejang demam, maka ada hal yang dilakukan untuk pencegahan. Yakni, saat anak demam sebaiknya diusahakan menurunkan suhu badannya dengan cara:
  • Bila suhu udara panas, kenakan pakaian seminimal/setipis mungkin, atau tanggalkan pakaiannya.
  • Jangan selimuti anak dengan selimut tebal, karena justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan.
  • Kompres dengan lap basah (suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan anak). Jangan gunakan alkohol atau air dingin (penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan keracunan/intoksikasi).
  • Seka seluruh permukaan tubuh anak untuk menurunkan suhu di permukaan tubuh. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan.
  • Beri obat penurun panas.
  • Beri banyak minum.
Namun jika anak akhirnya terkena kejang demam, segera bawa ke dokter jika kejang berulang atau terjadi lebih dari 5 menit

Tips Tangani Anak Kejang

Jika balita Anda tiba-tiba kejang akibat demam, inilah tips pertolongan pertama untuk menanganinya
  • Catat waktu datang dan lamanya serangan
  • Yakinkan jalan nafas anak lancar:
  • Miringkan posisi tubuh anak dengan kepala sejajar atau sedikit lebih rendah. Tujuanya, agar dia tidak menelan kembali muntahannya sendiri, karena dapat mengganggu pernafasan.
  • Longgarkan baju, sehingga bisa bernafas dengan leluasa
  • Bila tersedia, berikan obat untuk menghentikan kejang (diazepam) yang diberikan melalui dubur. Tapi biasanya kejang berhenti dengan sendirinya setelah 5 menit.
  • Jangan mengganjal mulut anak agar tetap terbuka, misalnya dengan meletakkan kain, sendok atau jari tangan diantara gigi balita.
  • Pindahkan benda-benda keras dan tajam yang ada di dekat balita.
  • Setelah anak benar-benar sadar, upayakan menurunkan suhu tubuhnya, misalnya dengan mengompres atau memberi obat penurun panas.
Bila kondisi anak tak kunjung membaik, jangan segan segera dibawa ke dokter.

www.ayahbunda.co.id

ANAK BERMAIN SESUAI GENDER ?



Anak laki-laki dan perempuan berbeda dari aspek biologis, perkembangan motorik, kognitif, perkembangan sosial dan kepribadian. Ketika bermain bersama mereka, orang tua perlu memerhatikan perbedaan tersebut agar manfaat bermain, kesenangan bermain, dan kualitas interaksi orangtua dengan anak, menjadi optimal.

Di bawah ini panduan beraktivitas sesuai jenis kelamin anak dan orangtua.
  1. Ayah bermain dengan Anak Laki-laki. Saat bermain, anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar. Gerakan dan level aktivitas mereka cenderung lebih tinggi dibanding anak perempuan. Hal itu sama dengan kecenderungan sifat ayah yang lincah, cepat, kuat dan beraktivitas aktif. Aktivitas yang cocok seperti, lempar dan tangkap, cuci mobil dan berkemah.
  2. Ayah bermain dengan anak perempuan. Saat bermain dengan puteri kecilnya, ayah perlu membedakan perlakuannya sesuai dengan karakter fisik dan kepribadian umum anak perempuan. Aktivitas yang cocok seperti, diskusi tokoh idola, berenang, dan jalan-jalan ke taman bunga.
  3. Ibu bermain dengan si gadis kecil. Anak perempuan sangat menyukai kelembutan dan naluri untuk diasuh, dimana terdapat banyak skin to skin contact lewat belaian, pelukan dan ciuman. Anak perempuan juga suka akan keindahan, kerapian dan mengorganisir sesuatu, yang dapat dipelajarinya saat ia beraktivitas bersama ibu. Aktivitas yang cocok seperti, berdandan bersama, role play, dan meronce.
  4. Ibu bermain dengan si jagoan. Ibu bisa menjadi teman bermain seru bagi anak laki-lakinya, asalkan ibu cukup bugar, tidak jaim (jaga imej) dan bersedia kotor! Aktivitas yang cocok seperti, main lego, boneka tangan, dan melukis.
Aktivitas yang diberikan kepada anak laki-laki dan perempuan bisa sama, yang membedakan hanya cara membawakannya.

Menerapkan Pola Asuh yang Sensitif Gender

Menerapkan pola asuh yang sensitive gender, penting bagi anak laki-laki dan anak perempuan agar mereka berkembang secara optimal.

Terhadap perilaku anak laki-laki yang biasa lebih aktif dan agresif, ternyata orangtua tidak disarankan untuk melabel "nakal" atau "pemberontak", karena, memang demikianlah salah satu perbedaan antara perempuan dengan lelaki.

Perempuan memiliki daya ingat jangka panjang yang lebih hebat, sehingga mampu menyelesaikan soal dengan cara yang sudah diajarkan. Sementara lelaki punya kreativitas dan keberanian mengambil risiko yang lebih besar, sehingga lebih memilih menggunakan cara baru untuk menyelesaikan soal yang sama.

Pengetahuan tentang perbedaan gender antara anak laki-laki dan perempuan, dapat menjadi modal berharga bagi orangtua, dalam menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak-anak dengan jenis kelamin berbeda.

Nature dan Nurture. Dulu, banyak kalangan berpendapat bahwa perkembangan peran jenis kelamin disebabkan oleh faktor bawaan saja (nature),seperti hormon, kromosom dan sebagainya, atau faktor lingkungan saja (nurture), misalnya yang didapat dari pola asuh, perlakuan lingkungan dan sebagainya. Padahal, melihat salah satu faktor tanpa mengaitkannya dengan faktor yang lain, sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Karena pada dasarnya, kedua faktor tersebut saling memengaruhi. Pentingnya pola asuh yang sensitif terhadap gender atau peran jenis kelamin, untuk lebih memahami apa kebutuhan anak sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Perlakuan terhadap anak laki-laki tentu berbeda dengan perlakuan terhadap anak perempuan. Semua disesuaikan dengan keunikan masing-masing jenis kelamin, yang tentu berbeda secara biologis, perkembangan motorik dan kognitif, serta perilaku sosial dan kepribadiannya.

Sensitif sesuai takaran. Menerapkan pola asuh yang sensitif gender, sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebutuhan anak. Orangtua bisa saja kurang sensitif dalam menerapkan pola asuh sesuai gender, sehingga semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, diperlakukan sama. Misalnya, semua anak harus belajar tari balet atau semua anak harus berani membetulkan genteng, tanpa memerhatikan minat dan kenyamanan anak dalam melakukannya. Pola asuh yang kurang sensitif gender seperti ini, akan mengakibatkan anak merasa tidak nyaman, merasa kebingungan dalam berperan sesuai dengan jenis kelamin. Sehingga pada tingkat yang lebih serius, dapat berakibat pada kebingungan orientasi seksual hingga depresi.

Sebaliknya, perlakuan terlalu sensitif dalam menjalankan peran jenis kelamin, juga kurang baik pengaruhnya bagi anak. Misalnya, anak perempuan harus selalu memakai rok, tidak boleh bekerja kasar apalagi mencuci mobil, harus selalu menurut dan sebagainya. Sedangkan anak laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh memasak dan harus memakai pakaian berwarna gelap, dan sebagainya. Hal itu akan membuat anak merasa diperlakukan kurang adil, misalnya, membandingkan diri dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, memiliki konsep diri yang terbatas, kurang fleksibel terhadap berbagai peran yang ada - misalnya bapak yang tidak mau menggendong bayi karena merasa tidak pantas laki-laki menggendong bayi - serta kurang sensitif atau kurang dapat berempati terhadap lawan jenis.

Yang paling tepat adalah pola asuh yang tidak keterlaluan sensitifnya, namun juga bukan tidak peka. Jadi, cukup sensitif dan fleksibel berada di tengah-tengah antara dua ekstrim tersebut. Bukankah tidak ada salahnya seorang anak laki-laki memiliki beberapa sifat feminin, seperti penuh kasih sayang atau lembut? Dan, anak perempuan juga boleh memiliki beberapa sifat maskulin, seperti mandiri dan berani mengambil risiko, jika semua itu merupakan nilai-nilai yang dibutuhkan sang anak dalam menggapai masa depannya.

Pola asuh seperti itu akan membuat anak menjadi lebih berpikiran terbuka, fleksibel, mudah beradaptasi dengan keadaan, terampil di berbagai bidang, lebih ekspresif, dan akhirnya akan membuatnya lebih bahagia dengan hidupnya.

Tips Pola Asuh Sensitif Gender

Menerapkan pola asuh yang sensitif gender, sangat penting untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sesuikan juga dengan tahapan usianya.

*Anak usia 0 – 1,5 tahun
Pola asuh umum:
  • Orangtua sebaiknya banyak berdekatan dengan anak
  • Orangtua sebaiknya banyak membelai dan menggendong anak; keduanya tidak membuat anak jadi feminin atau manja.
  • Orangtua mulai mengenalkan rutinitas pada si kecil, sebagai fondasi disiplin.
  • Orangtua menstimulasi berbagai kecerdasan dengan berbagai cara.
  • Pola asuh sensitif gender
Anak perempuan:
  • Lebih membutuhkan kelembutan dibanding anak laki-laki, karena itu banyak sentuhan dan kelembutan.
  • Membutuhkan banyak tatapan mata untuk memenuhi kebutuhan afeksi.
Anak laki-laki:
  • Di usia ini lebih sulit diatur dan lebih rewel, karenanya, membutuhkan kesabaran untuk merawatnya.
  • Jika anak aktif, orangtua harus ikut lincah mengikuti gerakan mereka.
*Anak usia 1,5 – 3 tahun
Pola asuh umum:
  • Membutuhkan rumah yang aman untuk bereksplorasi, mengikuti area pergerakan mereka yang lebih luas.
  • Orangtua harus lebih kreatif memberi kegiatan yang variatif demi mengoptimalkan potensi si kecil.
  • Sudah harus mengenal disiplin yang diterapkan secara lebih konsisten.
  • 1,5 tahun adalah batas akhir anak mengeluarkan kata pertama, sehingga jika lebih dari 18 bulan ia belum bisa bicara, konsultasikan ke ahli tumbuh kembang.
Pola asuh sensitif gender:

Anak perempuan
  • Stimulasi dengan aktivitas kreatif yang bisa dikerjakan dengan tenang.
  • Anak perempuan juga senang mendengarkan cerita dan dongeng.
Anak laki-laki
  • Membutuhkan aktivitas aktif yang seru dan ruang gerak lebih luas untuk bereksplorasi fisik.
  • Membutuhkan disiplin positif yang lebih tegas, namun menyenangkan.
*Anak usia 3-6 tahun
Pola asuh umum:
  • Belum mengikuti pola pengajaran terstruktur di sekolah formal, namun sebaiknya diarahkan pada aktivitas yang teratur dan terarah untuk menyiapkan mereka.
  • Mulai mengenalkan cara menjaga kebersihan dan keamanan alat kelamin, misalnya, membersihkan kelamin anak perempuan dari depan ke belakang, anak laki-laki harus membersihkan kelamin setiap selesai berkemih. Ajarkan pula anak tidak sembarangan disentuh di tempat-tempat tertentu, untuk menghindarkan mereka dari pelecehan seksual.
  • Beri kesempatan anak bermain dengan teman.
  • Beri kesempatan belajar lebih mandiri dan bertanggung jawab.
Pola asuh sensitif gender:

Anak perempuan:
  • Anak perempuan lebih suka bermain pura-pura atau role playing.
  • Membutuhkan kegiatan mengobrol bersama untuk memenuhi kebutuhan afeksi.
Anak laki-laki:
  • Membutuhkan banyak aktivitas seru bersama teman sebaya.
  • Sebaiknya ayah memperkenalkan beberapa aktivitas laki-laki sederhana untuk mulai mengajarkan peran.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli atau yang didapat secara statistik, terdapat beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Baik dari segi biologis, motorik, kognitif, emosi, perilaku hingga kepribadian.

Perbedaan biologis
  • berbeda (anak laki-laki XY, anak perempuan XX)
  • hormon berbeda (anak laki-laki memiliki hormon testosteron anak perempuan hormon esterogen)
  • alat kelamin berbeda, antara penis dan vagina
  • Ada perbedaan tinggi dan berat badan: anak laki-laki akan lebih tinggi dan berat dibanding perempuan, terutama setelah melewati masa pubertas.
  • Ada perbedaan usia pubertas: anak perempuan lebih cepat puber dibanding anak laki-laki.
Perbedaan motorik
  • Anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar karena pengaruh hormon testosteron, ditambah minat dan dorongan budaya.
  • Sebaliknya, anak perempuan lebih ke arah pengembangan motorik halus.
  • Jenis gerakan dan level aktivitas lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan, sehingga anak laki-laki terkesan lebih kasar, sedangkan anak perempuan lebih halus.
Perbedaan kognitif
  • Jenis kecerdasan berbeda, meskipun secara umum kecerdasan anak laki-laki dan anak perempuan kurang lebih sama.
  • Daya ingat jangka panjang anak perempuan lebih baik, sedangkan anak laki-laki lebih baik dalam ingatan jangka pendek.
  • Anak perempuan lebih cepat belajar berbicara, kata-katanya lebih bervariasi, struktur kalimatnya lebih teratur. Hal ini disebabkan karena anak perempuan memiliki kebutuhan afeksi lebih tinggi, yang dapat terpenuhi lewat komunikasi.
  • Anak laki-laki lebih pintar secara spasial. Mereka lebih cepat ingat rute menuju rumah atau tempat favorit mereka. Mereka juga lebih cepat menangkap perbedaan bentuk dan perbedaan ukuran dari dua benda yang dibandingkan.
  • Kecerdasan dan nalar matematika anak laki-laki dan perempuan relatif sama. Namun anak perempuan cenderung mengerjakan soal seperti yang diajarkan guru, sedangkan anak laki-laki lebih inovatif dan kreatif dalam memecahkan masalah matematika. Ini juga disebabkan karena anak laki-laki jarang hafal apa yang diajarkan gurunya, sehingga mencari cara pemecahannya sendiri.
Perbedaan emosi
  • Anak perempuan lebih ekspresif menunjukan emosi sedih/kecewa, misalnya dengan menangis.
  • Anak laki-laki lebih ekspresif dalam mengungkapkan kemarahan, misalnya dengan membanting barang atau menendang mainannya.
  • Cara mengatasi stress berbeda. Perempuan dengan menjalin relasi, laki-laki dengan segera mencari solusi.
  • Anak perempuan lebih sensitif terhadap perasaan orang, dibanding anak laki-laki.
  • Perbedaan perilaku
  • Anak perempuan lebih mudah berempati, sehingga lebih mudah mengulurkan bantuan dibanding anak laki-laki.
  • Anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan fisik, dibanding anak perempuan.
  • Dalam pengambilkan risiko, anak laki-laki lebih agresif. Anak laki-laki diuntungkan dengan kemampuannya melakukan permainan fisik ditambah pengaruh hormon testosteron. Tuntutan lingkungan juga mengakibatkan anak laki-laki lebih berani mengambil risiko.
  • Anak laki-laki dan anak perempuan kenakalan yang sama, namun anak perempuan lebih mengekspresikannya ke ekspresi verbal, misalnya menjelekkan orang lain, sedangkan anak laki-laki lebih ke perilaku.
Perbedaan kepribadian
  • Anak perempuan lebih banyak lahir dengan temperamen easy going atau mudah, sementara anak laki-laki lebih banyak masuk ke kategori difficult atau sulit. Lihat saja waktu menyusui, anak perempuan lebih mudah dipuaskan, sedangkan anak laki-laki lebih rewel.
  • Beberapa gangguan psikologis lebih banyak diderita oleh anak laki-laki dibanding anak perempuan, seperti tuna grahita, atau spektrum autisme.
  • Kesulitan belajar (learning disabilities) lebih banyak dialami laki-laki, misalnya hambatan membaca (disleksia), hambatan menghitung (diskalkulia ) dan hambatan menulis (disgrafia).
Dalam buku “Boys and girls learn differently” karya Michael Gurlan, M.D. dan hasil riset Gwenn O’Keeffe, M.D. dari North Shore Children’s Hospital, Massachusetts, serta Martin T. Stein, M.D. dari University of California, San Diego, AS, diungkapkan beberapa hal yang hanya dialami bayi laki-laki yaitu:
  • Lebih besar kemungkinan buta warna karena gen pembawa kelainan ini terkait pada kromoson X
  • Lebih mudah terserang infeksi saluran telinga tengah pada rentang umur 3 bulan sampai 3 tahun
  • Lebih mudah mengalami hernia sebab pada proses pembentukan testis sering terbentuk rongga pada dinding perut
  • Lebih lemah sistem pencernaannya, terutama pada umur 6 minggu
  • Lebih mudah kena asma
  • Lebih mudah meninggal akibat SIDS, terutama umur 1 minggu sampai 1 tahun. Penyebabnya belum diketahui
  • Lebih peka terhadap rasa asin.
www.ayahbunda.co.id

AYAH DAN ANAK LAKI-LAKINYA




AYAH BERMAIN DENGAN ANAK LAKI-LAKI

Kesamaan jenis kelamin antara ayah dengan anak laki-laki, sering diartikan bahwa mereka memiliki kecocokan dalam berinteraksi atau beraktivitas.

Saat bermain, anak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan motorik kasar. Gerakan dan level aktivitas mereka cenderung lebih tinggi dibanding anak perempuan. Hal itu sama dengan kecenderungan sifat ayah yang lincah, cepat, kuat dan beraktivitas aktif.

Aktivitas yang cocok bagi ayah dan anak laki-lakinya, adalah:

1. Lempar dan tangkap. Aktivitas ini sebenarnya bisa juga dilakukan oleh ibu dengan anak laki-lakinya, tetapi, bila dilakukan anak laki-laki bersama ayahnya, lebih seru! Sebab, para ayah punya cara tersendiri dalam bermain lempar - tangkap:
  • Di luar ruangan. Para ayah tidak mau main lempar tangkap di rumah. Dengan bersemangat, mereka akan mengajak anak keluar rumah, mencari lokasi yang lapang - misalnya playground - agar bisa bermain leluasa dan aman. Sambil bermain, anak dan ayah juga mengeksplor lingkungan.
  • Melempar dengan berbagai gaya. Tidak sekedar melempar dan menangkap bola menggunakan satu tangan, para ayah akan memilih berbagai pose, misalnya, gaya American Football atau Aussie Rule.
  • Yang kuat! Ayah tidak ragu untuk melempar bola dengan kekuatan, kecepatan dan ketinggian maksimal. Ia pun mengajarkan anaknya untuk melakukan hal yang sama.
  • Kena bola? Biasa. Ups! bolanya malah kena kepala anak! Para ayah biasanya tetap tenang dan tidak segera bereaksi. Momen ini mereka gunakan untuk mengajarkan anak laki-lakinya agar kuat. Bila justeru ayah yang terkena lemparan bola, wah, dia malah bangga!
  • Anak jadi bola. Ayah sering menutup permainan lempar-tangkap dengan menjadikan anak sebagai...bolanya! Si Buyung pun bisa merasakan ‘terbang’ di udara. Wiiiiing...!
2. Cuci mobil. Hore, main air! Semua anak laki-laki senang bermain air, namun bila dilakukan sambil mencuci mobil, mereka akan mendapat manfaat bermain sekaligus belajar. Enaknya mencuci mobil bersama ayah adalah:
  • Ayah tidak banyak melarang saat anak laki-lakinya bereksplorasi, seperti menyabuni dan menyemprot mobil dengan air, meski pun belum sempurna.
  • Ayah dengan bahagia akan mengajarkan anak laki-lakinya tahapan mencuci mobil, seperti memilah bagian yang dicuci (interior dan eksterior mobil), menyedot debu, membasahi badan mobil, menyabuni, mengeringkan, memoles dan mencuci detail ban.
  • Sambil mencuci mobil, ayah senang mengajarkan anak laki-lakinya nama-nama dan fungsi organ mobil.
3. Berkemah. Berkemah indentik dengan petualangan. Anak laki-laki senang sekali bertualang, apalagi bila ia menemukan tantangan berisiko. Berkemah dengan ayah, meski cuma dilakukan di halaman belakang rumah, terasa seru bagi Si Buyung. Apalagi biasanya ayah akan melibatkan dia melakukan tugas-tugas maskulin yang "sulit", seperti mendirikan tenda, menabur sekeliling tenda dengan garam, membuat api unggun dan berjaga malam.

Ayah merasa lebih aman bila anak laki-lakinya "nakal", sebab mereka ingin memastikan anak laki-lakinya tidak tumbuh menjadi pribadi yang lemah lembut atau feminin.

www.balitasehat.net

CARA TEPAT HADAPI KEJANG DEMAM




Apabila balita Anda tiba-tiba demam disertai kejang, tak perlu panik. Ini bukan berarti ia mengalami epilepsi. Yang penting tetap tenang dan hadapi dengan cara yang tepat.

Kejang demam yang dikenal juga dengan istilah stuip atau stip, terbagi dalam 2 kelompok. Yakni kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks, yang sering dialami anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Tidak berulang. Kejang demam berbeda dengan kejang epilepsi. Kejang epilepsi terjadi berulang terus-menerus dan tanpa diawali demam. Sedengkan kejang demam sederhana cenderung tidak berulang dan tidak terus menerus, namun diawali demam. Sementara kejang demam kompleks, berisiko lebih tinggi untuk terjadi pengulangan serangan serta bisa berkembang menjadi epilepsi.

Untuk mendeteksinya, dr. Irawan Mangunatmadja, SpAK, dari Divisi Neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta menyarankan agar mencatat dan mengukur pada suhu berapa balita mulai mendapat serangan kejang. Sebab setiap anak memiliki batas toleransi yang berbeda.

Bukan akibat infeksi saraf. Ciri khas kejang demam adalah karena kenaikan suhu tubuh di atas 38ºC dan bukan akibat adanya infeksi pada susunan pusat saraf. Contohnya, pada saat balita terkena radang tenggorokan dan demam tinggi, ia mengalami kejang.

Definisi demam. Demam adalah gejala dari suatu penyakit. Balita disebut demam bila suhu tubuh lebih dari 38ºC (bila diukur lewat ketiak, tambah 0,7ºC). Selain demam, gejala-gejala balita mengalami kejang demam adalah:
  • Kehilangan kesadaran atau pingsan
  • Tubuh, kaki dan tangan menjadi kaku
  • Biasanya kepala anak terkulai ke belakang, disusul dengan munculnya gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang
  • Kulit berubah jadi pucat, bahkan menjadi biru
  • Bola mata terbalik ke atas, gigi terkatup
  • Kadang-kadang disertai muntah
  • Pada beberapa anak, nafas bisa berhenti beberapa saat
  • Tidak bisa mengontrol buang air kecil maupun besar
Serangan berlangsung hanya beberapa menit dan kejang-kejang akan berhenti. Kesadaran balita bertahap kembali pulih.

www.ayahbunda.co.id

Tuesday, October 4, 2011

KASUS KEKERASAN ANAK



KASUS KEKERASAN PADA ANAK DAN DAMPAKNYA

PENGABAIAN

Kasus : Vira (24 th), punya anak tak lama setelah menikah. Ia merasa menjadi tawaan yang tidak bebas lagi berkumpul dengan teman-teman. “Real life tak seperti romantisme yang saya bayangkan. Kebebasan saya terampas, “ ujarnya. Maka pengasuhan bayi sepenuhnya diserahkan pada baby sitter. Vira sendiri selalu pulang tepat sebelum suaminya tiba di rumah, seolah seharian mengurus anak. Padahal, “Tidur, mandi, makan, susu, bahkan uang belanja harian dina bulanan, saya serahkan sepenuhnya pada baby sitter. Saya tak mau tertawan. “

Dampak emosi : Secara alami, anak memilih ibu untuk melekat. Disekap, disentuh, dibelai dan dipeluk adalah kebutuhan utama bayi. Dari pengalaman ini bayi menumbuhkan cinta di hati membangun rasa percaya di dalam diri dan terhadap orang lain, dan yang utama adalah tumbuhnya rasa aman. Itu sebabnya anak-anak dengan riwayat diabaikan, berisiko mengalami masalah-masalah emosi bahkan kejiwaan.
  • Mudah cemas, depresi, sulit percaya pada orang lain dan merasa tidak aman.
  • Penelitian Dante Cicchetti, ahli psikopatologi dari University of Minessota (AS) menyebut, 80% bayi yang ditelantarkan menunjukkan perilaku kelekatan yang tidak jelas.
  • Di usia muda anak menolak dan melawan pengasuhnya, bingung, gelisah, atau cemas. Diusia 5 tahun, anak tidak bertingkah laku layaknya anak, ia ingin mendapat perhatian dengan cara melayani orang tuanya.
Dampak fisik : Asupan gizi yang tidak memadai.

Orang tua diharapkan : Konsultasi pada psikolog untuk mengkaji kembali perkawinannya dan untuk apa mempunyai anak, serta mengubah pola pikir.
Bantuan untuk anak oleh orang dewasa lain :
  • Periksa anak ke dokter untuk mengetahui tumbuh kembangnya serta status gizinya.
  • Penuh kebutuhan anak untuk menumbuhkan rasa percaya dan rasa aman.
  • Ajak anak bermain dan penuhi kebutuhan emosinya seperti diajak bicara atau dibelai, namun tetap mempertahankan sikap konsisten, tidak cepat marah dan tidak member penilaian negative pada sikap anak.
KASUS KEKERASAN FISIK TERHADAP ANAK

KEKERASAN FISIK

Kekerasan fisik kerap kali tidak ada batas jelas antara menyiksa dan mendisiplikan.

Kasus : Yani (30 th) sering menghukum kenakalan anaknya yang berusia 5 tahun. Bentuk kenakalan itu antara lain, menuang sabun di kamar mandi, tak mau makan, mengotori jemuran dan menganggu adik. “Kalau nakalnya di kamar mandi, ya saya pukul pakai gayung. Kalau tak mau makan, saya pukul pakai sendok atau piring. Kalau menganggu adiknya, saya pukul pakai mainannya.” Menurut Yani, anak harus dihukum supaya jera dan tidak mengulangi perbuatan yang dilarang. Yani tak ingin disalahkan suami karena tak mampu mendidik anak.

Dampak fisik : Memar, luka, patah tulang terutama di daerah rusuk dan gangguan-gangguan di bagian tubuh lain seperti kepala, perut, pinggul, kelak di usia selanjutnya.

Dampak emosi :
  • Merasa terancam, tertekan, gelisah dan cemas
  • Membangun pemahaman bahwa memukul dibenarkan untuk member disiplin. Di usia dewasa anak akan menggunakan pendekatan kekerasan untuk mendisiplinkan anak.
  • Orang tua diharapkan :
  • Konsultasi pada psikologi untuk latihan mengelola emosi, menggali masalah suami isteri yang tidak selesai dan mempelajari perkembangan anak.
  • Ajak anak ke dokter untuk memeriksakan kondisi fisik.
  • Pahami perkembangan anak. Di usia 5 hingga 8 tahun, anak sedang berada pada tahapan ingin menunjukkan kemampuan, mereka ingin berkreasi. Tidak semua tindakan anak merupakan kenakalan, mereka tidak tahu bahwa tingkah lakunya salah atau kurang tepat.
  • Bantuan untuk anak :
  • Pemeriksaan psikologis oleh psikolog untuk mengetahi gangguan emosi yang dialaminya dan mendapat terapi yang sesuai.
  • Tumbuhkan kembali rasa percaya diri anak. Terimalah apa yang mereka lakukan dengan tidak lupa memberitahu tindakan apa yang seharusnya dilakukan.
  • Bila orang tua bukan pelaku kekerasan, yakinkan anak bahwa ia sangat dicintainya.

KASUS KEKERASAN SEKSUAL

Biasa dilakukan orang dewasa terhadap anak. Bisa berdampak pada cedera fisik, cemas, depresi, trauma, perubahan fungsi dan perkembangan otak.

Kasus :
  1. Aditya, seorang pemuda belasan tahun yang ketahuan mengoleksi film porno dirumahnya, hampir seluruhnya berisi adegan seksual antara pria dengan pria. Dari psikolog, diperoleh jawaban sewaktu Aditya masih SD, ia mengalami perbuatan tak senonoh dari satpam penjaga rumah. Adit tak berani melapor karena ia diancam.
  2. Ibu Dira (5 th) menemukan celana dalam putrinya “kotor”. Dari ruang dokter, Dira menangis tak mau diperiksa. Akhirnya dokter berhasil menemukan penyebab sakitnya Dira: infeksi akibat hubungan seksual. Rupanya Dira dipaksa melakukan hubungan seksual dengan tukang kebun di rumahnya, saat orang tuanya pergi.
Dampak : cedera fisik, cemas, depresi, trauma, perubahan fungsi dan perkembangan otak.
Orang tua diharapkan:
  • Biasakan bersikap terbuka terhadap anak dan menghargai kejujuran anak agar anak tidak takut bersikap terbuka.
  • Yakinkan anak, tak ada rahasia yang harus mereka sembunyikan. Minta anak selalu menceritakan pengalamannya.
  • Peka pada perubahan yang terjadi pada anak.
  • Bantuan untuk anak :
  • Melakukan pemeriksaan untuk menanggulangi masalah fisik.
  • Ajak anak berkonsultasi pada psikolog untuk mengetahui gangguan emosi yang dialami anak dan dilakukan terapi yang sesuai
  • Jauhkan anak dari pelaku.
  • Ciptakan rasa aman bagi anak.

KASUS KEKERASAN EMOSI/ VERBAL

Masa kanak-kanak adalah masanya meniru dan mulai tertanamya norma-norma yang akan dia ikuti. Kata-kata dan perilaku kasar yang diterimanya, akan ditirunya.

Kasus :
  1. Ayu (29 th), sangat kreatif dalam menakut-nakuti Bisma (4 th). “Jangan main di kamar mandi, nanti digigit kecoa. Jangan keluar rumah sendirian, nanti diculik hantu blau. Ayo cepat tidur, nanti tokeknya datang, kamu digigit.”
  2. Nina (35 th) kerap neneriaki Dido (7 th). “Aduh, dasar bego! Sudah ratusan kali ibu bilang, kembalikan barang di tempat semula! Bikin ibu darah tinggi.”
  3. Firdaus, kelas 1 SD, kerap pulang sekolah dengan perasaan sedih. Miss Yovita, gurunya, sering mengatainya pemalas, pelupa dan jorok saat firdaus pilek.
  4. Bermaksud memotivasi anak, Meta sering mencela anaknya, “Memangnya kamu bisa? Kamu itu bisanya apa, sih? Ini nggak bisa, itu nggak bisa! Paling pintar nangis. “ Meta juga sering memarahi anaknya di tempat umum.
Dampak :
  • Masa kanak-kanak adalah masanya meniru dan mulai tertanamnya norma-norma yang akan dia ikuti. Kata-kata dan perilaku kasar yang diterimanya, akan ditirunya. Anak tidak lagi mengetahui mana tingkah laku yang tepat. Demikian pula pemberian ‘label akan tetap tertanam dalam dirinya, dan dapat menyebabkan ia memilki konsep diri bahwa ia adalah anak sperti apa yang dikatakan orang padanya.
  • Anak merasa terancam, ketakutan, merasa bersalah, rendah diri karena terkikis harga dirinya.
  • Bila sering ditakut-takuti, anak menjadi penakut.
  • Bantuan untuk anak :
  • Bila terjadi di sekolah, bicarakan dengan kepala sekolah tentang sikap guru terhadap murid. Sementara itu orang tua harus meyakinkan anak bahwa ia sangat dicintai.
  • Orang tua atau orang dewasa lain disekitar anak tidak lagi berlaku kasar padanya dan tunjukkan hal positif. Bila ia melakukan sesuatu yang baik berikan pujian secukupnya.
  • Ajak anak ke psikolog untuk pemeriksaan psikologis dan mendapat terapi yang sesuai.

KASUS PERKELAHIAN ORANG TUA

Anak-anak diliputi perasaan bersalah karena cara berpikir anak masi egosentris, menilai dari sudut pandangnya sendiri. Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri bila orang tua mereka bertengkar.

Kasus :
  1. Suami Riris tak bisa mengendalikan emosi. Menampar, menjambak, menendang Riris kerap dilakukannya di hadapan anak-anak. Setelah peristiwa itu, biasanya si sulung Yasmin (8 th) mengusap wajah dan menghibur ibunya. Bila diperlakukan ayahnya sudah kelewatan, Yasmin berteriak membela ibunya, sementara kedua adiknya bersembunyi saling berpelukan.
  2. Sambil uring-uringan mengomeli suami, Retha berteriak, “Dasar, laki-laki tak punya otak.” Bermacam hal membuat Retha tak puas, dan sering memicu pertengkaran dengan suami. Anak-anak sering menyaksikan pertengkaran ini.
Dampak jangka pendek :
  • Anak-anak diliputi perasaan bersalah karena anak masih egosentris, menilai dari sudut pandangnya sendiri. Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri bila orang tua mereka bertengkar.
  • Anak-anak merasa diri sebagai penyebab setiap kali terjadi pertengkaran orang tuanya.
Dampak jangka panjang:
  • Merasa tidak aman
  • Sulit percaya pada lawan jenis.
Orang tua diharapkan:
  • Minta bantuan psikolog untuk menggali masalah-masalah yang belum terselesaikan antara suami isteri.
  • Menghindari pertengkaran di depan anak.
Bantuan untuk anak :
  • Jelaskan pada anak bahwa anak-anak bukan penyebab pertengkaran orang tuanya.
  • Bicaralah pada anak sesuai usianya. Jawab pertanyaan anak mengenai kondisi keluarga dengan tidak menyertakan emosi, jangan menjelekkan pasangan, walaupun mungkin sudah memutuskan untuk bercerai.
  • Minta maaf pada anak kalau ia menjadi takut dan cemas dengan pengalam melihat pertengkaran orang tuanya. Tegaskan bahwa walaupun kedua orangtua bertengkar atau berpisah tetapi mereka tetap mencintai anak.
  • Tetap memiliki pola asuh yang sama walau berpisah, sehingga anak tidak bingung dengan adanya aturan yang berbeda.

TEMPAT-TEMPAT KONSULTASI DAN TERAPI ANAK

Jika anak atau balita anda mengalami kekeraan, anda bisa segera mencari bantuan dari berbagai lembaga berikut ini :

JAKARTA

1. Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Kampus UI, Depok.

2. Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.
Jl. Salemba Raya No.4, Jakarta Pusat
Telp. (021) 3145078, 3907408, 3908995.

3. Klinik Anakku.
Jl.Mandiri Raya Blok M4D Kav.1-2
Kelapa Gading Permai, Jakarta.
Telp. (021) 4529498, 70790055

4. Pusat Krisis Terpadu.
Instalasi Gawat Darurat Lantai 2
RSUPN Ciptomangunkusumo Jakarta.
Telp. (021) 3162261

5. Biro Konsultasi Psikologi DWIPAYANA.
Kav. POLRI blok G No.46 Jakarta Selatan
Telp. (021) 7817477
Surel: dwipayana@dwipayana.com / birodwipayana@yahoo.com

BANDUNG
1. Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran.
Kampus Jatinagor, Bandung.
Telp. (022) 2516933
2. Biro Konsultasi Psikologi DWIPAYANA.
Jl.Pager Gunung No.14, Bandung.
Telp. (022) 2516933

SEMARANG.

1. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
Jl.Prof.Dr.Soedarto SH
Kampus UNDIP Tembalang, Semarang.
Telp.(024) 7460051
Surel: psikoundip@yahoo.com

2. Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata.
Jl.Pawiyatan Luhur IV No.1
Bendan Dhuwur Semarang.
Telp. (024) 8441555
Surel: psikologi@unika.ac.id

3. Biro Konsultasi Psikologi Universitas Semarang.
Jl.Soekarno Hatta Tlogosari, Semarang.
Telp. (024) 6702757
Surel: univ_smg@indo.net.id

YOGYAKARTA

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
Jl.Humaniora 1, Bulaksumur
Telp. (0274) 550435

SURABAYA

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
Jl.Dharmawangsa Dalam Selatan
Telp. (031) 5032770, 5014460

MEDAN

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
Jl.Dr. T. Mansur 7
Kampus USU Padang Bulan, Medan.
Telp. (061) 822 0122

http://www.ayahbunda.co.id

Friday, August 5, 2011

HINDARI PENGGUNAAN RUM




Rum oleh sebagian masyarakat masih sering digunakan. Mereka memanfaatkannya untuk pembuatan kue atau jenis pangan lainnya. Menurut wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Muti Arintawati, pemanfaatan itu dalam bentuk rum asli, esens atau jenis sintetisnya.

Muti mengungkapkan, rum ini merupakan jenis minuman keras. Dengan demikian, masyarakat muslim atau konsumen Muslim mestinya tak memanfaatkannya atau mengonsumsi makanan yang berisi rum. Mereka juga sebaiknya meninggalkan rum dalam bentuk esens.
Ia mengatakan, MUI tak bias mensertifikasi bahan yang dibuat menyerupai bahan asli yang haram. Jadi, esensnya tak semestinya dipakai dalam pembuatan produk pangan. Ia menambahkan, biasanya rum ini dimanfaatkan dalam pembuatan kue, seperti black forest atau fla-isi dari sau dan pudding.

Tak jarang dalam pembuatan cocktail juga melibatkan rum dalam pasta. Muti mengungkapkan dalam pembuatan kue, rum disemprotkan pada kue tersebut. Ada sejumlah tujuan yang ingin dicapai. “Dengan rum, diharapkan ada aroma tertentu yang menarik,” katanya.

Rum pun diyakini mampu meningkatkan ketahanan kue dalam kurun waktu tertentu. Kue bisa bertahan lebih dari waktu umumnya. Karena, rum yang mengandung etanol itu, jelas Muti, mampu mencegah munculnya organism yang membuat kue rusak. Tapi, ia mengku tidak tahu persisi berapa lama kue itu mampu bertahan.

Masyarakat atau konsumen Muslim masih banyak yang menggunakan atau menikmati kue dengan rum ini. Ini disebabkan factor ketidak tahuan bahwa rum itu termasuk ke dalam khamar. Sebagian lain meyakini rum ini akan menguap dan terpisah dari kue ketika dipanaskan.
Pakar pangan halal, Anton Apriyantono, menjelaskan, rum termasuk golongan khamar atau minuman keras dengan kadar alcohol mencapai 37 persen. “Jelas, sifatnya sangat memabukkan sehingga masuk ke dalam golongan khamar,” katanya. Ada jenis sintetisnya, namun tetap saja bahan pelarutnya adalah alcohol.

Itu mengandung fusel oil yang berasal dari hasil samping industry minuman keras. Sehingga yang sintetis itu memiliki sifat yang sama dengan rum yang dibuat dengan cara fermentasi alcohol. Jika sudah jelas bahwa rum ini merupakan khamar, itu tak bisa digunakan sama sekali.
Hal ini sesuai dengan hadis yang berkenaan dengan khamar. Khamar, ujar Anton, tak boleh digunakan untuk membuat cuka, dipakai sebagai penghangat badan, dibuat, dibuat obat, bahkan dijual kepada Yahudi sekalipun. Bagaimana mungkin khamar boleh digunakan dalam makanan jika hukumnya sendiri tak boleh dimanfaatkan.

Selain itu, dalam pencampuran yang bersifat homogeny akan berlaku kaidah fikih : ketika bercampur antara halal dan haram, yang menang adalah yang haram. “Kesimpulannya jelas, rum tidak diperkenankan sama sekali dalam pembuatan makanan dan makanan yang sudah bercampur dengan rum tak boleh dikonsumsi, “ kata Anton.

Dalam pembuatan kue tar, misalnya, kata Anton, rum tak boleh digunakan. Memang, ada orang yang meyakini rum bisa dibersihkan dari kue dengan cara-cara tertentu. Ia menegaskan, rum yang sudah tercampur dalam tar mustahil bisa dihilangkan. Selalu ada sisa rum yang membuat makanan itu berstatus haram.

Sumber Dialog Jumat