Friday, October 29, 2010

PROBLEMATIKA ANAK



PERILAKU SADIS DAN BRUTAL ANAK MAKIN MENGKHAWATIRKAN

Sebut saja dia Ari (nama samaran, red), bocah 14 tahun yang terlihat begitu lugu, tetapi dibalik senyum malu-malunya, tersimpan cerita mengerikan. “Waktu itu habis nonton video porno. Tiba-tiba aku pingin niru adegan di situ. Akhirnya aku ajak Rina (nama samaran, red) dan maksa dia begituan. Tetapi Rina berontak dan teriak-teriak, makanya kepalanya aku pukul pakai batu sampai mati,” tutur Ari santai. Jangan keget! Kasus Ari hanyalah contoh makin brutalnya perilaku anak-anak saat ini. Utnuk mengupas masalah ini, beberapa pakar angkat bicara.

Mirip dengan kisah Ari diatas, Za (14) dan Ham (14) juga tergoda melakukan perbuatan cabul setelah sebelumnya beberapa kali menonton film biru. Secara bergantian mereka “menggilir” seorang gadis cilik bernama Neng (6) di kebun pisang. Setelah puas melampiaskan nafsu, Za dan Ham sepakat menghabisi nyawa korban. “Aku takut Neng mengadu,” demikian alasan Za. Ham langsung mengambil batu dan melemparkannya ke kepala Neng beberapa kali. Karena korban masih hidup, Ham mencekik lehernya dari kandang ayam. Akhirnya Neng pun tewas, namun Za dan Ham belum puas dengan “hasil kerja” mereka.

Entah mendapat ide darimana, kedua bocah dibawah umur itu pun sepakat membakar jasad Neng untuk menhilangkan jejak. Kasus ini membuat masyarakat terhenyak dan tak berhenti bertanya, mengapa Za dan Ham, yang masih tergolong anak-anak tega melakukan perbuatan sebrutal itu.

Menurut SR Retno Pudjiati Azhar, Psikolog dari Universitas Indonesia, dalam diri manusia bisa saja terdapat perilaku menyimpang atau deviant disorder. Selain perilaku menyimpang biasa, yang mencakup pencurian atau perkelahian, ada pula perilaku menyimpang yang tergolong sadisme dan psikopat. Pudji, begitu wanita ini biasa di sapa, melihat penyimpangan perilaku pada anak-anak saat ini tak lagi sebatas penyimpangan perilaku biasa, namun sudah sampai taraf sadisme, yakni kemampuan untuk membunuh, seperti dilakukan Za, Ham dan Ari. Kondisi tersebut menurutnya tidak terlepas dari pengaruh tayangan-tayangan televise yang berlebihan. Salah satunya tayangan acara kriminalitas yang ia anggap kurang manusiawi karena sering menggambarkan cara-cara melakukan tindakan criminal secara detail. “Walau mereka berdalih hal itu sebagai tindakan rekonstruksi, tetap tidak bisa dibenarkan. Adegan itu mengundang inspirasi orang utnuk berbrutal-brutal,” ujar Pudji.

MEMFUNGSIKAN FILTER

Selain kriminalitas, tayangan di telvisi atau media cetak yang menampilkan sosok wanita dalam busana seronok juga dianggap menjadi pemicu keinginan seorang anak melakukan tindakan asusila seperti pemerkosaan. “Harus dipahami bahwa hormone anak-anak, khususnya remaja, sedang berkembang sehingga mereka mudah terangsang,” jelas Pudji. Anak-anak yang memiliki control diri baik akan bisa mengatasi rangsangan dari media. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki control diri cukup baik, bisa terjerumus dalam tindakan asusila, seperti pelecehan seksual atau pemerkosaan.

Oleh sebab itu, tak heran banyak permerkosaan dilakukan anak-anak setelah mereka menyaksikan adegan-adegan vulgar dalam VCD porno atau televise. Selain kasus Za, Ham dan Ari, masih banyak contoh kasus lain. Di Ampenan Mataram NTB seorang remaja tanggung bernama Romi (bukan nama sebenarnya, red) ditahan karena meperkosa Mira (bukan nama sebenarnya, red), gadis lugu yang baru duduk di bangku kelas 2 SMP. Di hari pertama, Romi mmemperkosa Mira sampai 5 kali. Karena ketagihan, beberapa hari kemudian Romi kembali mengulangi perbuatan bejatnya.

Di Palembang ada Zacky (12), seorang ABG yang memperkosa gadis kecil tetangganya (8) berkali-kali. Sementara di Jambi seorang pelajar kelas 1 SMP bernama Indra (bukan nama sebenarnya, red) digelandang ke kantor polisi Karena tindakan pemerkosaan terhadap dua orang gadis belia.

Sederetan kasus tersebut merupakan contoh perilaku anak yang tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik. Selain kasus-kasus pemerkosaan, banyak juga kasus kriminalitas lain yang dilakukan anak-anak, antara lain pembunuhan, penganiyayaan, perampokan, narkoba dan lain sebagainya.

Pidji membenarkan penyimpangan perilaku pada anak seperti contoh diatas dipangaruhi antara lain oleh media. Namun ia enggan menyebutkan media sebagai pencetus utama. “Penelitian seputar masalah itu masih controversial. Saya yakin sebenarnya setiap orang memiliki filter dalam dirinya untuk menyaring informasi yang masuk. Karenanya, untuk memfungsikan filter tersebut perlu peran orang tua sebagai lingkungan terdekat bagi anak,” ujar Pudji yang berpendapat bahwa anak laki-laki lebih besar memiliki kecenderungan utnuk melakukan perilaku-perilaku menyimpang.

DIRANGKUL DAN DIPAHAMI

Selain membantu anak memfungsikan filter dalam dirinya, orang tua juga wajib memberikan bimbingan dan menciptakan komunikasi yang baik dengan putra-putrinya. Dengan demikian anak akan terbuka dan itu mempermudah orangtua membimbing dan mengontrol anak-anak dalam memilih serta mengenali teman yang baik. “Latih pula anak-anak agar bisa mengatakan tidak pada teman-temannya untuk hal-hal yang merugikan, tanpa harus menyakiti,” tambahnya.

Mengenai penjara sebagai alat untuk menciptakan efek jera, Pudji menganggap hal itu bisa dilakukan untuk tingkatan perilaku tertentu. Namun sebenarnya wanita ramah ini kurang setuju dengan penyebutan Lembaga Pemasyarakatan Anak. “ Harusnya dinamakan saja Tempat Rehabilitasi Anak Nakal. Anak-anak itu masih bisa diperbaiki dan memiliki potensi besar di masa datang. Untuk itu selama proses rehabilitasi, si anak harus tetap mendapatkan pembinaan ketrampilan, pendidikan dan pemenuhan kesejahteraan hidup, “ ujarnya.

Pihak orang tua juga diharapkan melakukan evaluasi terhadap penyebab perilaku menyimpang pada anak dan tidak memarahi si anak dengan hardikan-hardikan karena bisa membuat mental anak lebih buruk. Dengan jelas evaluasi itulah bisa didapat solusi terbaik. Dalam kondisi tertentu, cara yang harus ditempuh orang tua untuk memulihan kondisi anak adalah dengan memodifikasi lingkungannya, yaitu dengan memindahkan anak ke lingkungan baru.

Pemindahan itu dimaksudkan sebagai proses rehabilitasi, bukan pengasingan. “Namun kalau orang tua mampu membantu si anak mengatasi tekanan di lingkungan asli, tidak perlu di pindahkan ke lingkungan baru. Itu justru lebih baik. Pada dasarnya anak-anak dengan perilaku menyimpang hanya butuh dipahami dan lebih dirangkul,” tegas Pudji.

ANAK BERTINDAK TANPA BERPIKIR

Senada dengan pendapat psikolog SR Retno Pudji Ashar, kriminolog Adrianus Meliala juga menganggap pengaruh orang tua sangat besar, bai dalam mencegah maupun memicu terjadinya kebrutalan pada anak.” Anak-anak kelas bawah yang memiliki orang tua pekerjakasar banyak yang cenderung melakukan kekerasan. Pada dasarnya kehidupan mereka memang lebih keras dibanding anak-anak kelas menengah keatas. Hidup dilingkungan yang sering menuntut mereka menggunakan kekutan fisik, membuat anak-anak kelas bawah memiliki daya destruksi lebih besar,” papar Adrianus.

Sebagai salah satu upaya pencegahan, pria berkacamata ini menyarankan agar orang tua melatih emosi anak. Ajari mereka menahan diri dan mengalihkan rasa marah. Menilik banyak informasi dari media yang dapat memicu kebrutalan dan kriminalitas, orang tua diimbau agar selalu mendapingi buah hati mereka selama menonton TV atau VCD. “Namun pada dasarnya kemampuan kognitif anak memang terbatas. Seringkali yang mendasari perilaku anak adalah emosi semata. Contohnya saat marah, tanpa berpikir panjang anak bertindak, mengambil batu dan melempar. Oleh sebab itu, jangan main-main dengan emosi anak karena dia mempu melakukan tindakan sadis atau fatal,” imbuh kriminolog dari Universitas Indonesia ini.

Pada dasarnya Adrianus menganggap kejahatan yang dilakukan anak-anak umunya tanpa niat atau rencana. “Makanya muncul ketentuan anak-anak berusia di bawah 16 tahun tidak dikenakan hukuman. Orangtualah yang dianggap bertanggung jawab. Meski demikian tidak berarti Negara lepas tangan. Biasanya mereka dijadikan anak Negara dan ditempakan di Lembaga Pemasyarakan Anak (LP Anak) atau dititipkan ke orangtua denga kewajiban lapor kepada Negara,” paparnya.

Jika psikolog SR Retno Pudji Azhar dan kriminolog Adrianus Meliala menyebut fungsi orangtua sebagai pencegah utama merajalelanya kebrutalan anak, sosiolog Evelyn Suleeman MA berpendapat sedikit berbeda. “Tidak cukup hanya didikan orangtua. Seluruh masyarakat harus serius menanganinya. Misalnya menggiatkan badan sensor film karena tidak mungkin anak-anak yang menyeleksinya. Intinya jangan membebaskan anak-anak menyaksikan tayangan tanpa bimbingan orangtua. Kita juga harus memproduksi film-film mendidik sehingga anak-anak akan mengerti bahwa dalam kehidupan ini tidak hanya ada kekerasan,” panjang lebar. Keluahan peokolog Pudji yang mengaggap media terlalu detai menggambarkan sebuah tindakan criminal, sangat didukung Evelyn. “Saya pernah membaca ada orang yang melakukan kejahatan karena ingin ngetop atau masuk televise. Sepertinya tayangan negative di televise justru jadi memberi inspirasi bagi orang. Yang tadinya tidak tahu, jadi tahu,” ujar staf pengajar FISIP jurusan Sosiologi Universita Indonesia ini yang lahir di Jakarta 22 Desember 1956.

Peneliti di Insan Hitawasana Sejahtera ini juga melihat tututan dan tekanan yang dialami anak-anak sekarang lebih berat dibanding dulu. “Sajian kemewahan dalam tayangan iklan dan sinetron membuat mereka menginginkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan. Iri dan dengaki pun timbul dan ini memicu kejahata,. Pelkajaran di sekolah yang menekan juga bisa memdorong anak melakukan tindakan criminal. Dari sini bisa dilihat bahwa kriminalitas anak bisa disebabkan banyak hal. Oleh sebab itu mencegahnya tidak bisa hanya mengandalkan orangtua, tetapi diperlukan kerja sama berbagai pihak,” tutur ibu dari Gabriel Ekaputra Sutanto ini.

TUGAS BERAT SEKOLAH

Selah satu pihak yang di anggap ikut bertanggung jawab terhadap perilaku menyimpang anak adalah sekolah. Menanggapi hal tersebut Profesor Anah Suhaenah, pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengemukakan beban yang harus dipikul sekolah sangat berat. “Dulu, tugas sekolah hanya memberikan pendidikan yang sifatnya akademis. Sekarang sekolah juga dibebani tugas-tugas penanaman nilai moral yang sebenarnya merupakan tugas keluarga. Soalnya tututan jaman membuat banyak ibu bekerja diluar rumah dan tak mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan anaknya,” jelasnya.

Beban tersebut terasa semakin berat karena rendahnya rasio perbandingan antara guru dan dengan murid, khususnya di daerah-daerah urban. “Satu misalnya masih harus mengawasi puluhan bahkan ratusan anak didik,” ujar Prof Anah, “Tetapi itu semua bukan alasan sekolang angkat tangan. Seberapa pun beratnya, sekolah harus ikut menanamkan nilai-nilai moral pada anak-anak,” imbuhnya.

Prof Anah mengakui pihak sekolah belum cukup berhasil melakukan tugas tersebut. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi sekoalah untuk mendukung keberhasilan penanaman nilai moral anak didik. Namun ia juga menharapkan adanya peningkatan koordinasi antara pihak rumah dan sekolah diantanya melalui komite sekolah atau POMG. Hal ini dinilainya akan bisa memaksimalkan proses pendidikan yang berlangsung. Soal hukuman, mengeluarkan anak-anak pelaku kejahatan dari sekolah denial Prof Anah sebagai tindakan kurang tepat. “ Seharusnya hukuman yang diberikan tetap mendidik dan memperhitungkan kebaikan si anak. Dengan mengeluarkan nya dari sekolah, berarti sekolah sudah kehilangan kesempatan untuk melakukan pembinaan kepada anak yang bersangkutan, “ ungkapnya.KARTINI

BAYI-BAYI KORBAN HIV/AIDS









RATUSAN BAYI DI KOTA-KOTA BESAR SAAT INI TERINFEKSI HIV/AIDS

JAKARTA TERCATAT 300 BAYI



Memilukan. Anak-anak yang menderita HIV/AIDS semakin banyak. Di RSU dr Soetomo tahun 2007-2008 tercatat 60 bayi terkena. Di RSU Hasan Sadikin terdapat 51 anak, di RSU Karyadi Semarang 20, serta di RSU Sanglah Bali 22 anak. Bahkan di Jakarta, setiap harinya datang 10 pasien lama dan baru setiap bulan rata-rata 10 pasien HIV/AIDS baru. Nasib mereka pun demikian memilukan.



Sebuah ruang rawat terletak di pojok rumah sakit dr. Soetomo terlihat sepi. Pintunya juga selalu tertutup. Ada tanda larangan masuk bagi siapa saja, tak terkecuali keluarga. Ruangan dengan nama Upipi di bagian atas pintunya ini ternyata tempat penyembuhan orang dengan HIV/AIDS atau ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Hanya perawat dan dokter saja yang diperbolehkan masuk. Upipi kepanjangan dari Unit Perawatan Intermedite Penyakit Infeksi.



Disana seorang bayi positif HIV/AIDS yang ditinggal lari ibunya tergolek sendiri. Bayi bernama RA, usianya belum setahun ketika ibunya ke rumah sakit karena mencret dantidak sembuh-sembuh. Ketika menunggu giliran dipanggik, sang ibu izin ke kamar kecil dan menitipkan bayinya kesalah satu perawat. Tapi, setelah itu ia tak pernah muncul kembali hingga detik ini.

Ketika datang kerumah sakit, kondisi RA sangat menyeramkan. Badannya tinggal tulang karena didera mencret terus menenrus dan kekurangan gizi. Rumah sakit akhirnya berinsiatif memberikan serangkaian tes darah sang bayi. Hasilnya mengejutkan. RA positif HIV/AIDS.



Meski kondisinya kini sudah membaik dengna berat badan cukup, dan sudah mencapai 8 kg, namun tak ada orang tua yang mau mengadopsinya setelah tahu ia mengidap HIV. RA akhirnya jadi anak para perawat di ruang Irna Anak.



Di RS Ciptomangunkusumo, tiga balita juga tergolek lemah. Namanya sebut saja Firman (3 bulan), Pita (4), dan Adi (1). Mereka sudah berbulan-bulan dirawat di sana. Kasusnya gizi buruk, infeksi hati dan luka mulut dan abses atau bisul besar di daerah leher. Lebih dari itu mereka jelas menderita HIV/AIDS. “Mareka semua sudah tak memiliki orang tua. Yang memelihara dan menjaga bisa neneknya atau saudara orang tuanya. Karenanya itu mereka jadi tidak rutin berobat. Seperti sekarang ada infeksi baru di bawa lagi kesini,” kata dr Nila Kurniati, SpA yang merawat mereka.



Yang dialami Pita, diceritakan dokter muda itu sudah stadium AIDS sejak pertama di bawa. Ketika masih hidup, ibunya sebenarnya rajin memeriksakan bayinya. Kondisi awalnya berupa gizi buruk. Setelah dirawat dan diobati sudah membaik. Setelah ibunya meninggal, neneknya tak bisa membawanya ke rumah sakit. Ketika datang lagi, kasusnya sudah berbeda: infeksi hati.

Kisah Rita (19) juga tak kalah memilukan. Wanita itu HIV positif dan menularkan virus kepada putranya Rudi (3.5 th) semua bukan nama sebenarnya. Rita menikah pada usia 15 th karena keburu hamil dengan kekasihnya. Saat itu usia kandungannya 4 bulan dan 2 bulan setelah menikan kondisi suaminya memburuk.



Dalam keadaan hamil Rita sibuk memeriksakan sang suami ke puskesmas dan klinik. Tak ada hasil, sementara berat badannya tadinya 75 kg menjadi 50 kg dalam waktu hanya satu bulan. Setelah diperiksa di RS Persahabatan, Jakarta, barulah Rita tahu kalau suaminya dulu pecandu narkoba dan menderita AIDS. “Saat itu usia kandungan saya 7 bulan, dan tidak melakukan pemeriksaan apa-apa untuk bayi saya. Saya tidak mengerti kalau dapat menular ke bayi,” ujar Rita ketika ditemui di salah satu klinik Yayasan Pelita Ilmu.



Memanglah, saat bayinya berusia 3 bulan, ia mulai sering sakit-sakitan. Sama seperti yang dialami ayahnya, bayinya sering batuk dan BAB yang menyebabkan berat badan turun drastic. Rita mengadukan masalah bayinya pada YPI dan setelah dilakukan test, anaknya dinyatakan positif terinfeksi HIV. “Sampai sekarang, dalam usianya 3,5 tahun anak saya tetap minur ARV. Dia rewel, Tanya-tanya kok minum obat terus. Tapi karena saya berusaha disiplin, dia tumbuh normal, lincah meskipun badannya kurus,” cerita Rita dengan mimic sedih tak berdaya dengan kondisi putranya.



Rita sediri kini sudah menikah lagi dan telah memiliki anak kedua perempuan yang bebas dari HIV.”Anak kedua perempuan dan tidak tertular, karena selama kehamilan saya ikuti program yang diberikan YPI,” ucapnya bersyukur.





DATA DI BERBAGAI RUMAH SAKIT







Kisah anak-anak tanpa dosa namun harus menerima nasib lahir dengan kekebalan lemah memang tersimpan rapat di dalam laci bergembol catatan medis para dokter di berbagai rumah sakit rujukan. Sangat dirahasikan. Jangankan kita bisa berbincang dengan keluarganya, bahkan nama saja pun para dokter maupun relawan mengunci mulut mereka.



Karena informasi yang salah, bisa dimengerti mengapa HIV/AIDS dianggap sangat menular. Bahkan ada banyak fakta. Setelah ketahuan seseorang menderita penyakit tersebut mereka dikucilkan lingkungannya. Padahal ditegaskan dr Nila, bahkan dari orang tua (dalah hal ini ibu) penularannya pada janin tidak 100 persen. Menjaga hal-hal yang tak diinginkan itulah, keberadaan pasien HIV/AIDS sangat dirahasiakan.



Yang jelas,k diungkap Nia, sampai hari ini ada sekitar 300 an anak yang dirawat jalan dengan HIV positif. Data itu memang sejak th 2002, namun rata-rata setiap harinya datang 10 pasien anak-anak berkisar usia 0-7 tahun. Dan tercatat ada 10 pasien baru setiap bulannya. 1/3 nya meninggal.



Di RSU dr Soetomo Surabaya, sejak Januari 2008 diungkap Fatimah, perawat di Upipi dalam seminar penanggulangan HIV/AIDS yang digelar Universitas Airlangga di Pusat Kebudayaan Prancis, tercatat 60 bayi HIV dirawat di Upipi. Beberapa bayi dilahirkan disana, namun tidak lantas diisolasi di ruang Upipi, sebab umumnya dibawa pulang orang tuanya.



Angka 60 bayi yang positif teriveksi HIV memprihatinkan, “ kata dr Esty Martiana, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Betapa tidak angka kelahiran yang cukup tinggi itu seolah mematahkan upayanya memerangi penyakit mematikan tersebut. Mulai dari penyuluhan, pencegahan hingga penanganan konkret. Sayangnya, upayanya itu menjadi sangat kecil dibandingkan dengan maha dahsyatnya peredaran narkoba di Surabaya dan Jawa Timur. “Meski data saya sendiri tidak sebanyak itu, tapi meningkatnya jumlah kelahiran bayi HIV/AIDS benar-benar memprihatinkan. Semua harus ikut memerangi penyebabnya,”ucap dr Esty yang ditemui di kantornya itu.



Bayi-bayi dengan human deficiency virus (HIV) yang menyerang kekebalan tubuh itu diantaranya tidak rutin diperiksakan ke Upipi. Kebanyakan diakui Fatimah tidak diperiksakan kembali atau sesekali saja, terutama yang berasak dari luar daerah Surabaya. Melahirkan memang di RSU dr Soetomo yang merupakan rumah sakit rujukan bari RSU di daerah TK II di Jatim bahkan Indonesia Timur.



Di rumah sakit Sanglah, Bali ada sekitar 22 anak HIV/AIDS sejak tahun 2006 lalu. Tiga anak rawat inap dan 2 baru-baru ini meninggal.



Sedang di RS Karyadi Semarang data tahun 2007-2008 menurut dr Hapsari, terdapat 20 anak usia antara 11 bulan- 8 tahun yang positif HIV. Yang saat ini dirawat inap sekitar 4 anak. Sementara di RSU Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat tercatat di Klinik Teratai, anak penderita HIV positif sejak tahun 2004-2008, sekitar 51 anak usia 0-12 tahun. 31 diantaranya sudah tahap AIDS.





TELANTAR DITINGGAL AYAH IBUNYA



Sulit mengungkapkan bagaimana nasib anak-anak malang itu. Sebab, sudah jelas mereka ditulari orang tuanya. Kondisinya menurut dr. Nila Kurniati dari yang jelek sampai yang bagus. Bagus, artinya layaknya anak normal saja. Sekolah, bermain, maupun beraktivitas lainnya tetapi karena didalam tubuhnya ada virus HIV sehingga ia mudah kena penyakit infeksi, apakah itu flu, diare, dsb. Karenanya mereka harus mengonsumsi obat seumur hidupnya.



Sedangkan pada kondisi yang sedang bahkan buruk, mulai stadium 3 dan 4 (stadium 4 sudah masuk tahap AIDS-red), kondisi mereka sungguh memilukan. Umumnya datang dengan kondisi gizi buruk, TBC, infeksi radang otak, jamur dan sebagainya. Ada pula yang datang dengan kondisi baik, namun begitu usianya 2 tahun mulai sering kena diare, demam terus-menerus, 1 bulan, 3 bulan hingga 6 bulan dilakukan serangkaian tes barulah ketahuan bila daya tahan tubuhnya digerogoti virus HIV.



Yang menyulitkan menurut Nia karena pada HIV ini tidak ada gejala yang khas, bahkan berbeda-beda dengan keluhan beragam. Namun pada penderita HIV berlaku hukum anomaly. Misalnya, hampir 97% anak yang kena campak tidak berulang seumur hidup, kena cacar air 99% sekali seumur hidup. Kalaupun berulang dalam bentuk cacar monyet.



Pada anak HIV, cacar air bisa 3 kali, kena campak bisa 4 kali. Biasanya kata Nia, kalau ada gejala-gejala klinis demikian, atau demam terus-menerus, infeksi radang terus meskipun sudah diobati, dokter membacanya adanya warning. Tes laboratorium pasti akan disarankan para dokter tersebut. “Tanpa tes darah kita tidak akan tahu anak terkena HIV atau tidak,m karena gejala-gejala klinis itu hanya membantu mengarahkan kita saja, bukan gejala pasti, “ ujarnya. Dikatakan demikian karena tak selalu anak dengan gizi buruk atau TBC terkena HIV.



Setelah diyatakan positif biasanya sebelum tes dilakukan pendekatan persuasif dengan orang tua bahwa hanya teslah yang dapat memastikan barulah pengobatan dilakukan itupun menurut Nia jangan dibayangkan pengobatan dalam pengertian memberi obat-obatan. Justru pengobatan bukan hal utama mengingat tata laksana obat akan berlangsung seumur hidup.



Yang terpenting menurutnya, adalah membangun kepercayaan dengan keluarga dan anak, dan mengetahui secara persisi siapa yang merawat si anak. Sebab dalam perjalanan perawatan, biasanya orang tuanya meninggal lebih dulu. Mungkin mula-mula ayahnya lalu ibunya atau sebaliknya. Lalu anak mungki dirawat oleh neneknya yang secara ekonomu tidak mampu. “Karena itu buat apa minum obat yang harus rutin dan seumur hidup kalau hanya sesekali datang control. Sebab, setiap waktu dosis obat HIV ini berubah. Berat tubuh anak naik sedikit saja dosisnya berubah. Jadi sulit buat anak yang sesekali control,” ungkap dokter berjilbab yang dijuluki Dokter HIV.



Kalau toh orang tua pengganti ini rutin memeriksakan si anak, kondisi psikologis anak mungkin sudah berubah. Dulu mungkin taat minum obat karena ada ayah dan ibunya. Begitu mereka tidak ada bisa jadi lebih sulit. Karena itu Nia lebihmenyarankan keluarga rajin kontrol utnuk mengetahui tingkat HIV saerta menekan kemungkinan terserang infeksi.



Pada dasarnya diungkap Nia, tak semua HIV membutuhkan obat. Tergantung tingkatnya saja. Kasus bayi Sheila (bukan nama sebenarnya) menegaskan hal itu. Ketika dilahirkan 6 tahun lalu, usia 1,3 bulan sudah didiagnosa HIV. Setelah diobati selama 6 bulan kondisinya membaik. Sayang ayahnya lalu meninggal dan ibunya mulai melemah kondisinya sehingga lama tak mengantar Sheila kontrol. Enam bulan setelah kontrol terakhir, ia datang lagi. Ternyata kondisinya baik-baik saja meski lama tak minum obat. Setelah ibunya meninggal, Edo dirawat neneknya yang hanya membawanya kerumah sakit sesekali saja. Usianya 6 tahun dan kondisinya baik-baik saja tanpa obat.



Meski penderita HIV tampak baik-baik saja, tetapi sampai tahap tertentu baik dengan atau tanpa obat, daya tahan tubuhnya akan makin melemah. Pada suatu masa pun akan meningkat menjadi AIDS.



Untuk menjadi AIDS mmebutuhkan waktu antara 12 bulan sampai 4 tahun, itu yang tanpa obat. Bila dengan obat bisa jauh lebih lama lagi. Persisi seperti kondisi gunung, ada yang curam ada yang landai. Daya tahan tubuh bisa menukik tajam, namunada yang pelan menggelinding di lembah landai, namun tetap kondisinya semakin menurun. “Yang jelas bila penderita HIV meninggal, bukan karena HIVnya, lebih karena penyakit infeksi seperti radang otak, diare. Kaena daya tahan tubuh lemah, jadi tidak bisa menahan serangan infeksi.





DITULARKAN DARI IBU & JARUM SUNTIK







Menurut Husein Habsyi, wakil ketua Yayasan Pelita Ilmu (YPI), fenomena maraknya kasus-kasus HIV belakangan ini karena ada pola epidemi HIV mulai berubah mengarah ke populasi masyarakat umum. Sebelumnya pola perkembangan virus masih berkisar pada lingkungan pekerja seks dan pelanggannya. Namun karena para pelanggannya umumnya kelompok usia seksual aktif dan memiliki pasangan tetap, maka makin banyaklah istri yang tertular HIV/AIDS.



Pengguna narkoba, terutama yang suntik juga penyebab HIV yang cukup tinggi. Menurut estimasi Departemen kesehatan, prevalensi HIV pada pengguna narkoba suntik rata-rata nasional adalah sebesar 41,6%. Karena penggunanya mayoritas berusia muda dan memiliki pasangan tetap, mau pun melakukan hubungan seks diluar pernikahan, maka kasus kehamilan dengan HIV/AIDS juga meningkat.



Jika wanita tertular HIV/AIDS dari pasangannya (suami atau pacar), maka dapat disinyalir akan banyak bayi yang berpeluang untuk tertular. Walaupun menurut Husein tidak 100% menular ke bayi. Mungkin sekitar 25% kemungkinan bayi tertular sejak dalam kandungan, namun termasuk angka yang cukup besar.



Tingkat penularan 25% itu pun saat ini bisa ditekan hingga menjadi 2 %. Ini berlaku bagi ibu hamil yagn sudah dilakukan intervensi melalui program Prevention of Mother ti Child HIV Transmition (PMTCT). Dengan pmtcr, ibu HIV positif diharuskan mengonsumsi obat ARV profilaksis selama hamil, melakukan persalinan dengan operasi caesar dan tidak memberikan ASI pada bayinya. Jika hal tersebut dilakukan maka resiko penularan dari yang semula 25-45% dapat ditrkan menjadi 2 %.



Menurut Depkes, setiap tahun terdapat 9.000 ibu hamil HIV positif yang melahirkan. Berarti, jika tidak ada intervensi sekitar 3.000 bayi dikhawatirkan lahir HIV positif. Yang memperihatinkan, mayoritas berasal dari golongan ekonomi lemah yang kesadaran akan pentingnya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi masih minim. Tak heran bila kecolongan, bayi-bayinya lahir sudah tertular.



Namun, walaupun di dalam kandungan bayi tak tertular virus, dan ketika lahir pun melalui operasi caesar yang berarti lolos dari virus, bukan berarti bebas selamanya. Bayi masih berpeluang terinveksi HIV. Hanya saja untuk mengetahui status usia tersebut bayi akan dites antibodi, biaya tesnya terjangkai Rp 100.000. “Tes ini penting karena anak gizi buruk atau TBC atau penyakit infeksi lainnya tidak selalu terkena HIV. Jadi kepastian menderita HIV atau tidak melalui test.



Tes juga bisa dilakukan pada usia bayi 6 bulanberupa tes virus (PCR). Tes mengidentifikasikan virus ia ingin melakukan lebih cepat, dapat dilakukan pada bayi usia 6 bulan. Tes ini bernama PCR, yaitu tes virus untuk bayi. Tes ini mengidentifikasi virusnya bukan antibodi. Biayanya relatif mahal sekitar Rp 1 juta, dan di Jarta haya tersedia di RS Ciptomangunkusumo dan RS Dharmais.



Jika bayi dinyatakan terinfeksi HIV positif, otomatis harus meminum ARV sepanjang hidupnya. Awalnya memang disembuhkan dulu penyakit infeksinya, baru kemudian mendapat ARV. Hal ini dimaksudkan agar kondisinya tetap stabil, memiliki harapan hidup lebih lama dengna kualitas hidup lebih baik. Jika virus dalam tubuh bayi terlalu banyak dan ia menjadi lemah, maka akan banyak penyakit yang masuk dan harus dirawat. Namun dengan obat, anak cukup dirumah dan beraktivitas layaknya anak-anak lain yang normal. “Sayangnya belum ada obat khusus utnuk bayi dan anak. Jadi kalau akan diberikan pada bayi diubah menjadi bubuk (puyer).



Harapan hidup anak-anak HIV positif yang terinfeksi sejak bayi tidak dapat ditentukan. Sangat mungkin bayi itu tumbuh baik hingga dewasa. Akan tetapi jelas, lambat laun akan berubah menjadi AIDS yang mematikan. KARTINI



PERLU DIKETAHUI



HIV ATAU HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS



HIV adalah nama virus yang menyerang kekebalan tubuh. Dalam tubuh kita ada sisitem kekebalan yang terdiri dari sel-sel diantaranya adalah sel T yang tugasnya memerangi kuman dan infeksi. Virus HIV inimenyerang sel T, bersembunyi di sana tanpa diketahui untu berapa lama. Karena itu orang yang darahnya terinfeksi HIV bisa nampak sehat, hanya saja mudah terkena penyakit sehari-hari seperti demam, flu, atau diare, dan dia telah menjadi sumber penularan bagi orang lain. Untuk menekan perkembangan virus, penderita harus mengonsumsi obat sepanjang usianya.



AIDS atau ACQUIRED IMMUNODEFICIENCY SYNDROME



Bila HIV adalah virus penyebabnya, AIDS merupakan gejala penyakit atau kelainan yang ditimbulkan HIV. Tidak semua orang yang mengidap virus HIV menunjukkan gejala AIDS.

Setelah HIV becokol bertahun-tahun (minimal 12 bulan), mulai muncul sindroma yang menunjukkan hilangnya kekebalan tubuh, ditandai dengan munculnya penyakit-penyakit bawaan seperti diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut dan terjadi pembengkakan didaerah kelenjar getah bening. Pada saat inilah dikatakan positif AIDS atau sudah mamasuki tahap AIDS. Bahkan sakit ringan pada orang normal pun bisa sangat berbahaya bagi penderita AIDS.

PENULARAN

Ada tiga jalan utama penularan virus HIV, yaitu melalui hubungan seksual, darah (jarum suntik), dan pada ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, kecuali selama kehamilan melakukan PMTC (Preventation of Mother to Child HIV Transmission). Yakni, menonsumsi ARV profilaksis, melakukan persalinan dengan operasi caesar dan tidak memberikan ASI pada bayinya, minum obat ARV.

Penularan melalu jarum suntik, diantaranya melalui suntik narkotika, dimana jarum dipakai bergantian. Darah yagn tertinggal di jarum suntik sudah cukup untuk menjadi tempat bermukim virus HIV dan ketika digunakan orang lain, virus yang tertinggal dapat pindah/masuk ke orang lain tersebut. Bila pun harus disuntik untuk pengobatan, pastikan jarus suntik baru. Tapi saat ini jarum suntik umumnya sekali pakai. Perlu diketahui, virus HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk karena nyamuk tidak memiliki sel T manusia yang dibutuhkan virus HIV.



Tuesday, October 19, 2010

PROBLEMA ANAK





ANAK TIDAK DEKAT DENGAN ORANG TUA (SINGLE PARENT)

Sebuah pertaruhan yang sangat berat, antara meninggalkan perkerjaan atau memilih mengasuh anak-anak. Jika salah satu ditinggalkan maka akan terjadi ketimpangan. Problem seperti itu merupakan masalah begi sebagian besar orang tua tunggal. Namun anda tidak perlu khawatir sebab masalah apapun pasti ada jalan keluarnya.

Yakinlah anda bisa dekat dengan anak-anak. Tetapi bukan jalan terbaik bila mengatasi masalah itu harus meninggalkan pekerjaan, terlebih anda merupakan sumber utama keuangan keluarga. Akan lebih baik bila anda mengajukan pindah ke kantor yang lebih dekat dengan rumah anda, sehingga waktu berangkat dan pulang tidak banyak terbuang di jalan. Pagi hari anda masih bisa menyiapkan makanan dan sore hari bisa segera bertemu anak-anak.

Jika cara itu tidak mungkin bisa dilakukan, sempatkan diri sering menelepon ke rumah. Cobalah dengan komunikasi sederhana, misalnya menanyakan keadaan dan aktivitas mereka hari ini. Pada saat itu tanyakan kesulitan yang dihadapi dan berusahalah mencarikan jalan keluarnya. Hindari marah-marah melalui telepon. Bila terjadi, anak menjadi ketakutan dan malas menerima telepon dari orang tua.

Selanjutnya agar pengasuh tidak dominant, sebaiknya anda menetapkan aturan bagi anak-anak dan pengasuh. Dengan demikian diharapkan konsistensi aturan yang dijalankan pengasuh dan anda sama sehingga anak-anak tidak mengalami keraguan untuk melaksanakan atau mematuhi baik saat dengan pengasuh maupun saat bersama dengan anda. Keadaan ini tentu akan sangat membantu anda untuk tetap dapat mengendalikan tata kehidupan dalam keluarga meski pun anda tidak banyak memiliki waktu untuk anak-anak.

Saat ada waktu luang usahakan bersama anak-anak. Kebersamaan dengan anak-anak akan lebih terasa jika anda mampu terlibat secara total bersama mareka. Kebersamaan itu tidak hanya dalam masalah fisik, misalnya seharian bercengkerama dengan anak, tetapi juga secara psikologis. Pendekatan psikologis akan tercapai jika orang tua mampu memahami kebutuhan-kebutuhan anak, misalnya kebutuhan kasih sayang, keamanan, permainan dan ketenangan.

Itulah sebabnya saat bersama anak, penuhi kebutuhan psikologis itu. Tanyakan kesulitan yang dihadapi serta apa keinginannya. Mungkin anak minta dilayani ini dan itu, termasuk mungkin minta dibelikan mainan. Penuhi harapannya sepanjang tidak terlalu memberatkan. Hal itu bukan berarti memanjakan anak, tetapi merupakan bentuk perhatian pada anak. Namun jika permintaannya memberatkan, tidak perlu dipenuhi karena kurang memberikan manfaat. Mungkin anak tidak menerima alasan itu, tetapi harus berikan pengertian hingga dia memahaminya. Akan lebih baik bila permintaannya itu digantikan dengan beda yang lain.

Dengan cara seperti itu anak akan dekat dengan pengasuh dan anda sebagai ibunya. KARTINI

DIABETES





WASPADA DIABETES SAAT HAMIL



Gejalanya tak menonjol, tapi akibat yang ditimbulkan bisa menganggu ibu dan janin.



Eva, 27 tahun, mengalami hambatan ketika melahirkan anak pertamanya, gara-gara ukuran si bayi terlalu besar untuk persalinan normal. “Bahunya menyangkir, sampai akhirnya saya harus dioperasi,” ujar Eva. Rupanya, Eva mengalami diabetes selama kehamilan. Kadar gula darahnya melebihi batas normal. Padahal, sebelum hamil dia tidak punya “bawaan” diabetes.



Bayi yang besarnya melebihi normal (makrosomia) mungkin saja terjadi pada seorang ibu yang mengalami diabetes selama hamil atau disebut juga diabetes gestasional,” ujar dr. Ali Sungkar, Sp OG, Staf pada Subbagian Perinatologi, Departemen Obstetri & Ginekolog, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.



Janin tampung gula





Diabetes gestasional merupakan gangguan yang datang secara diam-diam. Gejalanya tak selalu terlihat jelas. “Ini berhubungan dengan resistansi ibu terhadap insulin selama hamil,” ujar dr. Ali Sungkar. Akibat perubahan-perubahan berbagai hormone selama kehamilan, pada organ-organ tertentu, tubuh tak mempu mengolah gula dalam darah menjadi energi.



Akibatnya, gula darah menumpuk dan terkirim ke janin melalui plasenta. Maka janin pun ikut menmpung limpahan gula darah terbut. “Itu sebabnya, yang perlu diwaspadai bukan saja kondisi diabetes si ibu, tetapi juga risiko yang ditimbulkan pada janinnya,” sambung dr. Ali.



Risiko yang dihadai janin tidak hanya berupa kemungkinan tumbuh besar melebihi ukuran normal, tapi bisa juga berbentuk cacat bawaan (kongental). Ini terjadi jika si ibu mengalami diabetes gestasional yang tak terkontrol di usia kehamilan sekitar 6-7 minggu. Saat itulah sedang terbentuk beberapa bagian tubuh janin, seperti selaput jantung, pertumbuhan kaki janin, dan sebagainya.



Pada ibu hamil yang tak pernah memeriksakan diri, tak jarang membuat penolong persalinan terkecoh, mengira janin yang besar itu adalah “cukup tua” dan sudah waktunya lahir. Kalau tak mengetahui riwayat kesehatan si ibu, bisa-bisa si bayi diupayakan segera lahir, padahal belum cukup umur. Dalam hal ini, mungkin saja paru-parunya belum cukup “matang” untuk bekerja, sehingga bayi mengalami gangguan pernapasan setelah lahir.



Pemeriksaan teliti



Kadar gula darh ibu dicek pada pemeriksaan kehamilan. Dari sini kemungkinan pasien menderita diabetes gestasional bisa segera terlihat.



Pemeriksaan untuk mengetahui kadar gula darah ini biasanya termassuk yang dianjurkan dan masuk dalam paket pemeriksaan kehamilan lainnya,” ujar dr. Ali. Bila diketahui si ibu mengalami diabetes gestasional, maka kadar gula dalam darah harus diusahakan rurun, mendekati normal. Harapannya, gula yang terkirim ke janin pun menjadi normal juga.



Bagaimana caranya? Bisa dengan diet serta berolah raga sesuai kondisi kehamilan yang bersangkutan. Namun, jika diabetes gestasionalnya masih juga ‘membandel’, biasanya dokter akan memberi obat.



Pemberian obat ini tentu tidak boleh sembarangan. Umunya, hal ini dilakukan setelah melalui pengamatan dan pemeriksaan terlebih dahulu selama beberapa waktu (biasanya pasien dirawat dulu di rumah sakit selama beberapa hari). Dengan demikian, dosis yang diperoleh sesuai dan tepat. Dalam hal ini, tak jarang dokter kandungan akan bekerja sama dengan sejawatnya, dokter spesialis penyakit dalam (ahli yang menangani masalah diabetes). Obat pun biasanya bukan diminum, melainkan disuntikkan ke kulit ibu hamil, sehingga langsung masuk ke dalam tubuh ibu tetapi tidak menganggu janin.



Penting diketahui, kebanyakan jenis obat-obatan diabetes yang diminum bisa membahayakan janin. Sangat bijaksana bila dokter yang menangani masalah anda mengamati lebih dahulu kondisi anda, dan memberikan obat yang tepat serta jumlah yang sesuai dengan kondisi tubuh anda.



RESIKO PADA BAYI

Bayi yang dilahirkan ibu yang mengalami diabetes gestasional berisiko mengalami :

  • Ukuran tubuh terlalu besar
  • Tersangkut di jalan lahir (akibat ukuran yang super besar)
  • Gangguan pernapasan
  • Kadar gula darah dan kalsium rendah

Kondisi diatas masih dapat diatasi dengan perawatan dokter selama di rumah sakit. Namun, ada pula yang sampai mengalami cacat congenital, seperti gangguan pertumbuhan kaki, gangguan pada selaput jantung, dan sebagainya





Bagaimana setelah lahir ?



Untuk mereka yang sebelum hamil pernah menyandang diabetes, banyak diantara mereka yang kebutuhan insulinnya (obat diabetes yang disuntikkan) menurun drastic setelah proses persalinan terjadi. Namun, kebutuhan ini bisa meningkat lagi setelah 27 jam.



Sementara untuk mereka yang belum pernah hamil tak pernah mengalami diabetes, jika selama hamil kondisi diabetes gestasional terkontrol, biasanya setelah proses persalinan gangguan diabetesnya akan menghilang.



Repotnya, jika selam hamil diabetes gestasionalnya tak terkontrol (karena seringkali datangnya pun secara diam-diam), maka buka saja akan membahayakan pertumbuhan janin, tetapi juga mengancam kesehatan ibu. Misalnya saja, kemungkinan terjadinya gangguan terhadap kerja ginjal si ibu.



Bagaimana dengan sang bayi? Sesaat setelah lahir, biasanya dokter spesialis anak akan mengawasi kondisi kesehatan bayi. Bukan apa-apa. Bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita diabetes gestasional, sudah terbgiasa mendapatkan pasokan gula darah yang cukup tinggi dari ibunya saat berada dalam rahi,. Nah, karena itulah setelah lahir perlu distabilkan kadar gula darahnya. Tanpa pengawasan ahli, dikhawatirkan bayi mengalami shock, karena kadar gula darnya mendadak turun (hipoglikemia).



CEK GULA DARAH

Pemeriksaan gula darah pada ibu hamil biasanya dilakukan dengan meminta ibu berpuasa selama 8 jam di malam hari, kemudian diambil darahnya di laboratorium pada pagi harinya. Gula darah setelah berpuasa normalnya lebih rendah dari 110 mg/dl.

Setelah itu, si ibu diminta untuk minum minuman manis atau makan dan 2 jam kemudian diperiksa kembali gula darahnya. Normalnya, hasil pemeriksaan gula darah normal setelah makan atau minum minuman manis adalah kurang dari 200 mg/dl. Bila hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan nilah lebih dari batas normal, boleh dibilang si ibu perlu pengamatan karena mengalami diabetes.



Sumber : AYAHBUNDA

MASALAH SEKSUAL WANITA



Masalah Seksual Paling Banyak Diidap Wanita
Wanita yang mengalami masalah seksual cenderung merasa buruk dan tidak percaya diri.

VIVAnews - Sebuah penelitian menemukan bahwa masalah seksual wanita mirip dengan gangguan yang dialami pria yaitu disfungsi seksual. Dr Debra Fromer, Kepala Pusat Kesehatan Universitas Hackensack New Jersey melaporkan hasil riset terbarunya bahwa dua sepertiga wanita mengalami gangguan seksual.

Beberapa temuan menarik dalam jajak pendapat terhadap 600 orang wanita seperti dikutip dari Cosmopolitan di antaranya



  1. Sebanyak 47% wanita memiliki masalah libido rendah atau kurangnya keinginan untuk melakukan hubungan seks.
  2. 45% wanita mengalami masalah orgasme.
  3. 40% memiliki masalah gairah.
  4. 39% wanita mengeluhkan kepuasan seksual.
  5. 37% mengeluh bahwa mereka tidak menghasilkan pelumas alami yang cukup.
  6. 36% mengeluh sakit saat berhubungan seks.

Dr Fromer menyatakan, wanita yang mengalami masalah seksual cenderung merasa buruk dan tidak percaya diri sehingga mempengaruhi kualitas hubungan seks mereka.

Para ahli menyarankan agar segera berkonsultasi dengan dokter kandungan bila mengalami gangguan seksual. Mengonsumsi obat-obatan secara bebas dan berusaha mengobati gangguan tanpa bantuan ahli bisa memperburuk kondisi.

Studi yang sama juga menemukan, aktivitas seksual bagi sebagian wanita tak dipengaruhi usia. Sebanyak 45 persen wanita berusia 55-70 tahun masih aktif melakukan hubungan seks, dan 15 persen wanita berusia di atas 70 tahun melakukan hubungan intim rutin. (umi)

TIPS PENDIDIKAN




6 KIAT ANAK SIAP SEKOLAH

Lingkungan baru bisa memunculkan rasa takut. Apa yang bisa orang tua perbuat?

Ingatkah anda ketika baru mulai bekerja? Selain exciting memasuki dunia baru, ada saja yang membuat khawatir. Demikian pula si kecil ketika mesti masuk ke lingkungan baru, mulai sekolah di TK setelah mengikuti Taman Bermain. Sudah pasti ia senang karena ada tantangan baru di tempat baru. Namun terbersit pula rasa takut. “Apakah aku masih bisa bermain sama sahabatku Reza? Apakah ibu guru TK sebai ibu Anna di Taman Bermain?” tentu ada segudang kakhawatiran anak yang lain!

Si kecil butuh anda untuk membimbingnya menjalani perpindahan suasana dari Kelompik Bermain ke Kelompok Bermain lain atau dari Kelompok Bermain ke TK.

Persiapan diri anak agar mampu menghadapi kekhawatiran dengan percaya diri sehingga penyesuaian dirinya berjalan mulus dan ia senang belajar di sekolah barunya.

Berikut ini bantuan yang dapat anda berikan :

MENGAJAK BICARA

Menurut Patricia Henderson Shimm, Direktur Bernard College Center untuk perkembangan usia prasekolah di New York, anak-anak usia prasekolah mengalami berbagai rasa takut. Di usia ini mereka seringkali harus melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan. Untuk mengurangi rasa takutnya, ajak mereka bicara tentang apa yang akan dijalaninya.
Bagaimana jika si kecil tipe anak pendiam? Gunakan permaian menggunakan konsep “datang” dan “pergi”, seperti permainan boneka, mainan mobil-mobilan, dan petak umpet. Jelaskan bagimana mobil datang dan kemudian pergi, misalnya. Boleh juga anda kemukakan pengalaman anda menghadapi hal baru dengan, misalnya mengatakan, “Papa juga takut bertemu teman-teman baru, tapi Papa coba memberanikan diri dan mengajak mereka bersalaman.”

UNGKAPKAN EMPATI

Hindari mengatakan “jangan takut, kamu pasti punya teman banyak nanti!” meski kalimat ini seolah membesarkan hati, namun anda membebankan harapan pada si kecil untuk menjadi orang yang disukai teman-temannya. Lebih baik ucapkan kalimat yang mengungkapkan empati, “Masuk sekolah baru memang menakutkan ya?” jangan sekali-kali menganggap ketakutan anak sebagai sesuatu yang bodoh atau tidak penting.

PELUK DAN JANJI

Setiap anak usia prasekolah pernah mengalami takut berpisah dengan orang tuanya. Walau ia pernah melewati momen berpisah dengan anda ketika kegiatan di Taman bermain, kecemasan terhadap situasi baru membuat rasa takut berpisahnya terulang ketika ia masuk TK. Untuk mengatasinya, peluk anak dan katakana anda akan menjemputnya setelah makan siang di sekolah.

KERJA SAMA DENGAN SEKOLAH

Minta izin pihak sekolah untuk mendampingi anak dengan duduk disebelahnya di kelas hingga masalah emosinya reda. Bila memungkinkan, mintalah guru mendampingi anak anda beberapa waktu sesaat sebelum anda meninggalkannya. Anda merasa nyaman jika guru melaporkan si kecil berhenti menangis tak lama setelah anda pergi.

AJAK JADI ‘PENGAMAT’

Bagi sebagian anak, rutinitas waktu bisa menyiksa. Sebabnya sederhana: ia tak merasa nyaman karena jadwal waktu yang masih asing di sekolah membuatnya takut. Masalah sederhana ini bisa membuat si kecil mogok sekolah. Bila anak mengalami ini, mintalah perlakukan khusus guru kelas untuk beberapa waktu. Anak bisa tetap duduk di dalam kelas namun lebih sebagai pendengar yang mengamati apa saja yang terjadi. Bila sudah merasa nyaman dan terbiasa anak siap terlibat dalam kegiatan kelas.

KENALAN DULU

Sebelum masuk sekolah anda bisa mengajak anak mengunjungi calon sekolahnya dan mencarikan teman untuknya. Ajak anak mengunjungi TK pilihan anda berdua dan perkenalkan anak pada gurunya agar ia nyaman saat mulai bersekolah di situ. Lebih baik bila sekolah tersebut memberi kesempatan pada calon siswanya mengikuti satu atau dua aktivitas kela yang kelak ia jalankan.
Jangan lupakan hal penting lain : teman bermain! Anda bisa memperkenalkan si kecil pada teman baru saat berkunjuugn ke sekolah. Selain itu bisa juga anda carikan anak teman yang tinggal di lingkungan rumah yang juga akan bersekolah di tempat yang sama.AYAHBUNDA

PIL KB DAN KECANTIKAN





PIL KB, MENGGAPAI SEKS AMAN DAN NYAMAN



Bagi pasangan suami istri seks memang bukan segalanya. Tapi, seks menjadi bagian penting untuk mempertahankan api cinta agar tetap membara. Sehingga hubungan intim yang hangat, menggairahkan dan nyaman harus senantiasa diusahakan.

Memang, tidak mudah untuk menggapai tujuan ini. Paling tidak, ada satu cara yang dapat disarankan untuk memperoleh hasil maksimal dalam berhubungan intim, yaitu, pemilihan alat kontrasepsi yang tepat.



Pil KB atau oral contraception adalah pilihan kontrasepsi yang tetap menawarkan ‘rasa’ alamiah dalam berhubungan intim. Gangguan yang bersifat mekanis oleh karena adanya alat yang mesti dipasan gpada organ reproduksi tidak ada dengan menggunakan pil KB. Di sisi lain, pil KB memberi jaminan kahandalan dalam mencegah kehamilan.



Tentunya hal ini menciptakan rasa aman bagi pasangan yang belum menginginkan hadirnya momongan, dan pil KB merupakan metode KB yang paling reversible artinya kehamilan dapat langsung terjadi dalam waktu 1 sampai 3 bulan begitu pemakaian dihentikan.



Kontrasepsi mengurangi kenikmatan?



Pemakaian alat kontrasepsi sering dituduh sebagai biang yang mengurangi kenikmatan. Beberapa alat konsepsi yang cara kerjanya bersifat mekanis cenderung mengurangi kehamilan hhubungan intim. Diantaranya kondom, IUD. Spiral dan system kalender.



Konsep OC plus, Pil KB modern dengan CPA



Diantara berbagai jenis kontrasepsi, memang pil KB relative memberikan kenyamanan atau pun ‘rasa’ alamiah saat berhubungan intim dengan efek pencegahan kehamilan sebesar 99,9% dibanding metode kontrasepsi suatu ‘konsep plus’ yaitu pil KB kondom dengan kandungan CPA (siproteron asetat) dan EE (etinil estradiol) yang mempunyai nilai lebih.



Keistimewaannya adalah dapat mengatasi masalah kulit seperti kulit berminya, jerawat, komedo, dan hirsutisme (pola tumbuh rambut yang tidak normal pada wanita menyerupai pria seperti tumbuhnya rambut di lengan kaki, cambang, atau kumis pada wajah).



Selain kulit halus dan kontrasepsi, pil KB ini mampu mengatasi berbagai kelainan menstruasi, seperti :

Siklus haid tidak teratur

Pre-menstrual syndrome yaitu nyeri, kejang perut serta mood yang tidak stabil sebelum dan selama haid.



Jadi hubungan intim yang hangat, menggairahkan dan nyaman senantiasa dapat terjaga dengan menentukan pilihan kontrasepsi secara tepat.



(dari berbagai sumber/DPK)



Kondom

  • Bagi pemakainya memerlukan sedikit latihan agar bisa menggunakan dengan benar.
  • Harus dipasang sebelum melakukan hubungan seks jika tidak ingin gagal. Jadi memerlukan kesabaran.
  • Selain kondom dan penis harus cepat ditarik keluar setelah ejakulasi agar efek kontrasepsi tercapai.
  • Beberapa pria merasa terganggu saat melakukan hubungan seks memakai kondom dan dianggap mengurangi kenikamaan

IUD/spiral

  • Alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim dan hanya dapat dipasang oleh dokter kandungan/bidan
  • Pada awal pemakaian akan timbul rasa tidak nyaman, bahkan IUD bisa keluar sendiri jika pengguna mengedan.
  • Penggunaan IUD sering penyebabkan masa haid menjadi lebih panjang sehingga pasangan harus menunggu relative lama untuk bisa berhubungan intim.
  • Sebagian pria merasa terganggu saat melakukan penetrasi oleh karena benang IUD menggesek penis.

Sisitem kalender

  • Pda metode ini wanita harus mengetahui masa subur dan siklus haidnya.
  • Metode ini dianggap tidak praktis karena sering tidak efektif jika tidak benar menghitung masa subur, dan tidak suburnya.
  • Metode ini dianggap tidak praktis karena sering tidak efektif jika tidak benar menghitung masa subur dan tidak subur.
  • Metode ini juga tidak berlaku bagi wanit yang siklus haidnya tidak teratur.
  • Pengguna metode ini harus mengamati siklus haid dalam waktu yang cukup lama, minimal 3 orang) tapi idealnya 12 bulan boleh berhubungan intim.